Erna Zurnimawati Mendulang Rupiah di Bisnis Kriya Tekstil Lewat Nena Collection
Dari hobby melukis Erna Zurniamawati mengenal bidang kriya tekstil sejak duduk di bangku kuliah dan gemar ‘nongkrong’ di sentra pengrajin gerabah di Yogyakarta. Karena kreatifitas dan passion yang tinggi, nasib membawanya menjadi pegiat UMKM handal hingga mampu menembus omzet Rp100 juta per bulan.

Erma Zurnimawati mencatat, tahun 1992 adalah titik awal dimana ia menemukan passion di bidang kerajinan tangan (kriya). Persisnya ketika ia masih duduk di bangku kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Waktu itu di sela-sela kesibukan kuliah ia kerap berkunjung dan ‘nongkrong’ ke pengrajin gerabah karena ia memang suka sekali dengan dunia kriya. Pada titik itu ia pun mulai berkreasi lewat lukisan tangan dengan medium gerabah seperti mangkuk. Hingga suatu hari hasil karyanya diikutsertakan dalam ajang GAMA FAIR dan saat itu ia langsung dapat pesanan souvenir pernikahan sebanyak 350 pieces dengan wadah gerabah. “Pemasaran saya waktu itu hanya dari mulut ke mulut,”kenang wanita kelahiran 1973 ini.
Namun usaha sambilan ini sempat terhenti karena setelah lulus kuliah Erna diterima kerja di anak perusahaan Matahari Group dengan posisi yang cukup menjanjikan dan gaji lumayan tinggi. Hal ini sempat membuatnya ‘nyaman’ dan memilih meninggalkan usaha kriya yang berawal dari hobby itu. “Karena pekerjaan saya disitu (Timezone-red) cukup menyita waktu,” ujar mantan Center Manager PT Matahari Graha Fantasi (Timezone-red) ini.
Alih-alih sedang nyaman-nyamannya berperan menjadi karyawan, ada satu momen yang menggelitiknya untuk kembali menekuni bidang kriya lagi. Tahun 2000 ia menikah dan saat itu ia sendiri yang mendesain baju pengantinnya untuk kemudian bawa ke tukang jahit. “Ternyata banyak yang suka baju pengantin saya,”cerita Erna seraya menambahkan di hari perkawinannya ia juga membuat souvenir berupa dompet batik dan kembali Erna mendapat pujian dari para tamu yang datang di hari pernikahannya itu. “Setelah menikah, itu mbak yang jahitkan baju saya bilang, mbok ya jangan berhenti, yuk Mbak Erna yang masarin, aku yang jahit, gitu katanya,”kenang Erna menceritakan bagaimana akhirnya ia kembali konsentrasi menekuni kerajinan tangan di tahun 2000 dan disitulah milestone ia mengawali karir sebagai pegiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Akhirnya mereka coba membuat sarung bantal. Tetangganya yang menjahit, Erna yang menawarkan ke toko. Kala itu ia masuk Sarinah Department Yogyakarta. Sialnya selang satu tahun perusahaan ritel BUMN ini menutup gerainya di Yogyakarta. “Gak buat banyak, cuma 20 pieces senilai Rp300 ribu tapi karena gaji saya waktu itu lumayan besar jadi nilai segitu tidak mikir modal,”aku alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan ini.
Karena Sarinah tutup, ia pun mencoba masuk ke toko-toko di sekitar Malioboro, dan ketemulah dengan Hamzah Batik dan bersyukur pihak toko oleh-oleh ini tanggapannya bagus . “Saya yang Tanya, produk saya kalau dijual di sini bisa dijual dengan harga berapa? Pihak toko meminta saya untuk mengecek harga barang yang sama. Cari yang paling mahal dan produk mbak kasih bandrol di atasnya karena sarung bantal saya menurut mereka memiliki kelebihan . Sarung bantal dari kain blacu tengahnya dikasih batik dan pinggirnya dibordir. Akhirnya saat itu mereka jual Rp26 ribu. Dan ternyata di Hamzah Batik laris sekali sampai setornya itu sekali kirim per 100 pieces,”cerita Erna di awal keseriusannya menekuni usaha kerajinan tangan.
Masuknya produk Nena Collection ke Hamzah Batik merupakan milestone awal Erna menyadari kalau usahanya memiliki potensi untuk berkembang. Dari sarung bantal kemudian pihak Hamzah Batik minta dibuatkan gorden, taplak meja, tutup galon dan semacamnya. Ia pun menyanggupi.
Di kisaran tahun 2001 ia mulai membuat produk kriya berbahan dasar kain batik, tenun , blacu, kanvas dan lain-lain. Dari Toko Hamzah Batik, pemasarannya berkembang ke lebih banyak toko dan namanya pun mulai dikenal sebagai pegiat UMKM di bidang kriya tekstil.
Di tahun 2008 ia berkenalan dengan tim CSR Jamsostek (BPJS). Saat itu ia diajak bergabung menjadi UMKM binaan Jamsostek, mendapat fasilitas pinjaman modal hingga diikutsertakan di pameran-pameran berskala besar. “Tahun 2009 saya mulai ikut pameran seperti Inacraft, diajak ke Jakarta bahkan sampai pameran ke Batam sampai ke Singapure,”ungkap Erna yang sejak 2013 menjadi Instruktur Kerajinan Kain.
Semakin banyak kegiatan pameran orang semakin mengenal Nena Collection dan dikenal sebagai UMKM binaan Jamsostek kala itu. Hingga tahun 2012 ada orang Dinas Kementerian Industri dan Perdagangan (Disperindag-red) menemuinya dan mengajaknya bergabung dengan UMKM binaan Disperindag. Akhirnya ia semakin sering ikut pameran yang difasilitasi Jamsostek dan Disperindag. “Dengan Jamsostek saya sempat 2 periode. Satu periode itu 3 tahun. Jadi cukup lama saya ikut Jamsostek selama 6 tahun,”terangnya.
Lalu setelah itu Nena Collection dipinang PT Angkasa Pura II Yogyakarta. Bila dengan Jamsostek ia mendapat fasilitas ikut pameran, dengan Angkasa Pura II ia justru diajarkan tentang bagaimana membuat perijinan-perijinan. Beruntungnya waktu itu ia mendapat fasilitas pelatihan tentang Sertifikat TDKN . Dari situ 8 produk Nena Collection (sarung bantal, bantal duduk, tooth bag untuk seminar, masker, taplak meja dan lain-lain-red) mendapat Sertifikat TKDN.
Kemudian tahun 2016 ia dipinang Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) berdampingan berjalan parallel dengan PT Angkasa Pura II. Di YDBA ia lebih fleksibel karena tidak ada pinjaman dana tapi dapat sejumlah pelatihan manajemen perusahaan secara gratis dan ikut pameran. “Yang paling kerasa kalau ikut YDBA itu karena saya diajarkan tentang manajemen usaha dan diikutsertakan menjadi UMKM Mandiri. Pelatihannya cukup lama, step by step untuk menjadi UMKM Mandiri ada urutannya. Dimana kita harus membenahi area produksi, ada pengimplementasian 5R hingga dinyatakan lulus sebagai UMKM Mandiri ,”tukas Erna seraya menggambarkan sampai harus mengubah ruang produksi yang saat itu masih menggunakan area garasi rumah dan terpaksa dirombak dan garasi rumah dipindahkan.
Pertengahan 2024 ada pameran di Kementerian Perindustrian (Kemenperin-red), di situ ia mendapat limpahan order dari seorang teman yang mendapatkan order tapi karena belum memiliki sertifikat TKDN, akhirnya sang teman melimpahkan order tas yang terbuat dari kain kanvas ke Nena Collection. Namun kendala muncul dimana pihak Kemenperin minta dibuatkan hingga 800 pieces namun karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) maka Erna pun secara jujur hanya menyanggupi 200 pieces. Namun karena pihak Kemenperin tak mau mencari lagi, akhirnya dia menyanggupi 600 pieces tas. “Jadilah omzet saya seminggu bisa mengalahkan gaji saya sebulan sebagai karyawan,”akunya yang juga saat ini sudah memiliki Sertifikat Membatik dari PT Angkasa Pura II.
Kekhasan dari produknya adalah ia mengangkat batik cap sogan khas Bantul, batik klasik, kecuali pesanan. Karena bergerak di kerajinan yang lain seperti tas dan dompet, ia juga bekerjasama dengan pembatik yang pandai membuat warna yang khas, memiliki perbedaan dengan warna-warna batik pada umumnya. Satu strategi yang ia terapkan, ketika satu item mulai slowmoving, ia langsung ganti model.
Satu hal yang perlu ditiru dari UMKM ini, meski ia memiliki segudang pengalaman dan berwawasan karena pernah lama menjabat posisi manajer di Matahari Group, namun ketika mengikuti pelatihan ia selalu menanamkan dalam otaknya bahwa ia harus seperti gelas kosong yang pelan-pelan diisi sedikit demi sedikit dengan air jernih dan menjadi penuh. “Jadi benar-benar saya perhatikan ilmunya,”tutur Erna yang akhirnya memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan meski saat itu dua pijakan kakinya sama-sama kuat . Manajemen perusahaan saat itu memintanya untuk memilih salah satu dari dua bidang yang ia tekuni.
Ia pun memilih keluar dari perusahaan dan membangun usaha sendiri. Ia sempat ragu-ragu karena saat itu posisi jabatannya sangat baik, gaji besar dan banyak fasilitas yang boleh jadi tak bisa ia dapat lagi. “Jangan-jangan jadi tukang jahit saya gak bisa kemana-mana. Tapi kenyataannya sekarang saya kemana-mana diundang menjadi narasumber hingga ke luar pulau,”ujar Erna yang ketika memutuskan resign di tahun 2005 penghasilannya sebagai UMKM sudah setara dengan gajinya saat itu. Namun sekarang diakuinya sudah berlipat-lipat. Karena selain menjadi UMKM Kriya, ia juga sering menjadi narasumber mengajar menjahit sejak 2013. Di 2025 nanti ia sudah diagendakan menjadi pembicara ke Pulau Buru, Maluku. “Tapi tidak semua kegiatan menjadi narasumber itu dibayar,”ujar anggota relawan Komunitas Indonesia Mengajar ini.
Tahun 2005 setelah resign, di saat dia harus menyesuaikan diri yang tadinya sudah terbiasa secara parallel bekerja dengan dua kaki, menjalani peran sebagai karyawan sekaligus membangun home industry , kini tiba-tiba tinggal satu kaki. Ditambah lagi tahun 2006 kena gempa Yogyakarta, semua produksi terhenti karena rumah 9 karyawannya rubuh kena gempa. “Rumah saya rusak berat tidak sampai rubuh jadi masih bisa dipakai. Tapi karena karyawan masih harus tetap punya penghasilan, maka sayapun mencari kontrakan rumah. Saya kontrak di situ , dua minggu setelah gempa kami sudah bisa beroperasi lagi menjalani rutinitas setor ke toko,”papar Erna.

Diakuinya saat itu merupakan titik terendah dalam hidupnya. Sikap perfeksionis seorang Erna langsung turun drastis. Saat buat rumah angan-angannya cukup tinggi, tapi tiba-tiba dalam satu menit rumah yang baru ia tempati 3 tahun hancur. Ia harus bertoleransi dengan keadaan. Dengan suara bergetar ia mengatakan, saat itu ia membangun kembali rumahnya . “Semua modal saya pakai benerin rumah. Jadi saya membangun kembali usaha ini dari uang yang sangat minim. Bahkan hampir habis,”ungkapnya lagi.
Untungnya ia masih memiliki sisa-sisa kain perca, ia pun membuat berbagai produk dari kain sisa tersebut. Erna membongkar semua kain sisa untuk diproduksi agar tetap berlanjut. “Alhamdulillah Hamzah Batik itu welcome, mereka mau terima terus meski saya pakai kain sisa,”kenangnya seraya menyebut omzet waktu itu baru mencapai Rp10-20 juta per bulan.
Hingga akhirnya tahun 2008 ia bertemu orang Jamsostek dan order pun mulai banyak lagi. Tidak hanya setor ke toko tapi ia mulai mengenal dunia pameran. Lalu bertemu dengan PT Angkasa Pura II, selanjutnya mengenal Disperindag juga mengenal YDBA.
Ujian kedua ia dan beberapa karyawan terkena covid di tahun 2020. Titik ekstrim terjadi di masa itu ibunya meninggal dunia dan ayahnya masuk rumah sakit. Usahanya saat itu langsung ditutup, terkena lockdown. Selama 1 bulan vakum dan ketika buka kembali seperti dari nol lagi karena tidak ada penjualan dan toko-toko semua tutup. Ia tidak meliburkan karyawan dan terus berproduksi. Paling tidak dalam seminggu mereka bekerja selama 4 hari.
Hingga muncul tren masker dan iapun mendapat order dari 4 BPJS di Yogyakarta sebanyak 4 ribu pieces. Dari situ ia bergerak dan kekuatan social media bekerja yang membuat ia berkenalan dengan buyer dari Jepang. Erna pun mendapat order masker ke Jepang. Ia pun membuat masker berseri berdasarkan motif hingga 32 model yang diminati pasar. Sehari Erna bisa memproduksi 300 masker. Menggunakan system reseller yang diwajibkan menjual dengan satu harga Rp 15 ribu. Dari masker omzetnya bisa mencapai Rp90 juta per bulan dan 8 karyawannya mengalami titik gaji tertinggi melampui UMR Yogyakarta.
Kemudian ia berkenalan lagi dengan orang BTPN yang membawanya menjadi pengajar dalam pelatihan-pelatihan UMKM. Bergabung menjadi UMKM Binaan BTPN dan puncaknya ia terpilih dalam ajang Product Champion di tahun 2019 dimana semua order kebutuhan BTPN pesannya ke Nena Collection. Di BTPN juga ia pernah mendapat fasilitas Private Launch dengan mentor ternama senilai Rp25 juta untuk 6 kali pertemuan. Dari mentoring dengan petinggi BTPN ini disimpulkan saat itu usahanya bermasalah karena memiliki beban hutang. “Seolah-olah omzetnya tinggi tapi tidak sehat, itu kesimpulan yang didapat karena memang saat itu saya punya pinjaman yang besar. Saat itu omzet saya nyaris mencapai Rp 100 juta tapi angsuran kredit saya per bulan Rp 11 juta. Setelah itu saya tidak boleh dulu mengambil hutang untuk menyehatkan usaha saya,”ungkap Erna yang berimbas hingga saat ini ia tak lagi berhutang dengan bank.
Sedangkan dengan YDBA mulai aktif lagi tahun 2016 dimana saat itu ia mulai melakukan pembenahan manajemen. Tahap demi tahap ia ikuti alurnya hingga usahanya semakin berkembang. Saat ini ia memiliki 15 orang karyawan , 10 orang karyawan tetap dan 5 mitra penjahit. Ada 2 difabel dan 1 karyawan berkebutuhan khusus.
Kini, lanjut Erna, usahanya berkembang ke bisnis fesyen sejak putrinya yang baru lulus kuliah ternyata memiliki passion berwirausaha. Untuk produk fesyennya ia memakai brand Zumaro yang tak lain menggunakan nama ibunya yang berlatarbelakang sebagai pedagang beras. “Dasar prihatinnya sama,”urai Erna tentang almarhum ibunya.
Dengan manajemen yang sudah teratur diakuinya omzet meningkat pesat. Sedikit naik turun tapi sudah dalam level rata-rata omzet per bulan mencapai Rp50-80 juta bahkan pernah sampai Rp 100 juta per bulan. “Kemarin di bulan Juli 2024 omzet penjualan tembus Rp100 juta,”tukasnya.
Kini usahanya kian berkembang tak hanya di industri kerajinan berbasis kain dari mulai membuat sarung bantal, taplak meja, souvenir hingga boneka dan tas, tapi bersama putrinya ia mulai mengembangkan produk fesyen dengan brand Zumaro yang belum lama diluncurkan pada event pameran di Kemenperin dan mendapat sambutan yang sangat baik,”Alhamdulillah yang beli banyak,”Erna menutup percakapan. []Siti Ruslina
