Astana Wira Karya: Besut Mesin Pengolah Sampah Bernilai Tambah

Pemerintah mulai menghapuskan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dengan cara landfill. Tak urung kebijakan ini melahirkan solusi teknologi tepat guna, berupa mesin pengolah sampah otomatis yang mampu menghasilkan nilai tambah bernilai ekonomis. Bagaimana prospeknya?

Agustus tahun lalu, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)  hadir dalam pameran otomotif terbesar di Indonesia yang bertajuk Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.  Dalam pameran tersebut, YDBA mengusung 7 zona pohon industri, yaitu zona manufaktur, bengkel, inovasi, teknologi tepat guna, alat kesehatan dan zona fun area.

CEO AWK, M Umar Hanif ketika diwawancarai wartawan/foto: AWK

Salah satu UMKM binaan YDBA di zona teknologi tepat guna yang turun meramaikan booth YDBA adalah PT Astana Wira Karya (AWK) yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Perusahaan ini memproduksi sejumlah teknologi tepat guna, khususnya alat pengolah sampah. Menurut Chief Executive Officer (CEO) AWK, M Umar Hanif, selama GILAS 2023 berlangsung ada beberapa beberapa produk pengola sampah berhasil terjual.

Umar merasa terbantu dengan bergabung di YDBA. Pihak AWK bersama YDBA melakukan riset bersama tentang teknologi tepat guna pengelolaan sampah. Dari hasil riset tersebut, tercipta  teknologi pengolahan sampah yang lebih baik dari teknologi yang sudah diciptakan sebelumnya.

“Kami sangat terbentu dengan bergabung di YDBA. Di samping melakukan riset, juga AWK mendapat dukungan pemasaran dari Astra Group. Misalnya diajak ikut pameran, seperti GILAS 2023, lalu,” kata Umar  kepada pelakubisnis.com, pada akhir Januari lalu. Ia menambahkan sejak tahun 2020 menjadi binaan YDBA. Selain mendapat dukungan riset yang didanai YDBA, lembaga nirlaba ini juga membantu membuka lini pemasaran.

Riset terakhir yang dilakukan AWK bersama YDBA pada tahun 2023, tambah Umar, adalah riset pengolahan limbah plastik menjadi biji plastik. Salah satu hasil riset sudah diproduksi menjadi mesin dan rencananya akan diperbantukan di binaan YDBA di Tarikolot, Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Cikal bakal berdirinya AWK, menurut Vice President PT Astana Wira Karya, Andri Firdaus, berdiri sejak tahun 2015. Sebelum menjadi AWK, awalnya berbentuk badan hukum  CV atau Persekutuan Komanditer. Baru berubah menjadi PT Astana Wira Karya pada akhir 2019. “Kami awalnya memproduksi alat-alat pertanian. Baru di akhir 2019 melakukan riset mengenai teknologi tepat guna pengelolaan sampah,” kata Andri.

Sementara Umar menambahkan, awal inisiatif memproduksi alat pengelola sampai diawali atas keprihatinan terhadap pengolaan sampai di lingkungan tempatnya tinggal, di Banyumas, Jawa Tengah. Dari fenomena pengolahan sampah lingkungan yang kurang baik tersebut, terbesit keinginan membuat alat pengolahan sampai dengan teknologi tepat guna. “Akhirnya tercipta alat pengolah sampah ramah lingkungan,” kata Umar lebih lanjut. Bahkan, sampai sekarang alat tersebut masih digunakan.

Keberhasilan menciptakan alat pengola sampah tersebut, kata Andri,  akhirnya AWK meluncurkan produk perdana tahun 2020 berupa mesin pemilah sampah otomatis. Mesin ini ditempatkan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Saat itu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kabupaten Banyumas, telah ditutup sehingga pengolahan sampah diarahkan pada TPST atau TPS3R (Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle) dalam ukuran skala kecamatan. “Proses pemilahan sampah cukup sulit jika dilakukan mandiri dari rumah. Prosesnya dengan menggunakan mesin  memilah antara sampah organik dan non organik,” tandas Andri.

Lebih lanjut ditambahkan, sampah organik dapat diolah menjadi bubur organik tanpa menimbulkan bau, yaitu menjadi maggot BSF (Black Soldier Fly) untuk makanan ternak seperti ikan lele ayam dan bisa diolah menjadi pupuk organik.

Sedangkan sampah non organik seperti plastik bisa dibakar menggunakan tungku  ramah lingkungan atau didaur ulang, sehingga menciptakan ekonomi sekuler. Misalnya sampah non organik diolah menjadi Bahan Bakar Jemputan Padat (BBJP). Menurut Umar, yang membutuhkan BBJP biasanya pabrik semen, PLTU dan perusahaan yang membutuhkan kalori dalam jumlah besar. Perusahaan mempunyai tungku  pembakaran di atas   800 derajat celcius. Hal ini sudah mulai diwajibkan menggunakan BBJP  dari bahan baku sampah menggantikan batubara.

Pemerintah saat ini sedang menggerakkan transisi energi. Komitmen Indonesia  menuju bauran energi baru dan terbarukan mencapai 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050 serta penurunan emisi hingga net zero pada tahun 2060 menjadi agenda nasional dalam rangka menjaga ketahanan energi dan menciptakan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Salah satu strategi pengembangan sumber daya energi terbarukan  melalui pemanfaatan biomassa. Data ESDM terakhir menyebutkan bahwa potensi biomassa Indonesia diperkirakan dapat menghasilkan energi setara 59 Giga Watt (GW). Potensi rilnya  diyakini lebih besar dari angka resmi. Salah sumber biomassa adalah pemanfaatan sampah. Dan ini  menjadi solusi menangani sampah di wilayah perkotaan.

Andri Vice President AWK/Foto: AWK

Mesin pengolah sampah ini, tambah Andri,  terdapat tiga kategori produk, yaitu mesin ukuran mini dengan ukuran kapasita pengolaan sampah dari 500 kg sampai 1 ton.  Kapasitas mesin mini dalam satu jam dapat mengolah sampah 1-2 ton perjamnya. Sedangkan ukuran mesin kecil dapat mengolah sampai antara  3 ton sampai 5 ton dalam satu jam. Mesin ukuran besar dapat mengolah sampah 7 ton sampai 8 ton per jam. “Mesin ukuran besar ini biasanya di tempatkan di TPA di kabupaten/kota atau dalam skala industri yang besar,” urai Andri.

Sementara harga Teknologi tepat guna ini sebelum pajak dan biaya pengiriman, kata Andri, untuk mesin mini dimulai harga harga Rp58 juta, mesin ukuran kecil Rp68 juta, dan mesin ukuran besar Rp78 juta.

Sedangkan pertumbuhan penjualan, menurut Umar,  sangat signifikan. Sejak tahun 2020  sampai 2023 meningkatan hingga 100%. Tahun 2023, total omzet mencapai Rp11 Miliar. Nilai sebesar itu, 70 persen disumbang dari penjualan mesin pengolah sampah sedangkan 30 persen dari penjualan alat-alat pertanian. “Penjualan mesin pengolah sampah pertumbuhannya sangat signifikan, sedang produk alat pertanian pertumbuhannya tidak setajam dibandingkan alat pengola sampah,” ujar lulusan Institut Pertanian Bogor, jurusan Teknik Pertanian ini serius.

Proyeksi pertumbuhan tahun  2024 masih akan tren. Dari mesin pengolahan sampah akan tumbuh  hingga mencapai 150 persen. Target tersebut, menurut Umar, optimis bisa tercapai. Pasalnya,  sampah masih menjadi masalah bersama sampai saat ini. “Teknologi kami yang terdepan digunakan dan diakui masyarakat dalam hal pengolahan sampah,” tandas Umar.

Sejauh ini kompetitor AWK, lanjut Umar, masih “malu-malu” menampakkan diri. Walaupun ada produk sejenis asal impor. Namun demikian, keunggulan UWK adalah di after sale service. Bila klien ada masalah, maka segera ditangani. Untuk wilayah Jawa, dalam tempo 24 jam, crew UWK segera menyelesai problem yang dihadapi klien. Sedangkan di luar Jawa, paling lama dalam tempo tiga dapat segera diatasi.

“Mesin ukuran mini merupakan produk terbaru dari AWK. Bahkan kini sedang dilakukan riset untuk skala lebih kecil lagi, karena ada kebutuhan pasar, di lingkungan RW dan perumahan disarankan melakukan pengolahan sampah secara mandiri,” lanjutnya sambil menambahkan ukuran tersebut sudah mulai diproduksi karena disesuaikan kebutuhan pasar.

Menurut Umar, AWK merupakan  supporting system untuk memproses sampah agar memiliki nilai tamba. Salah satu yang menjadi konsen AWK di teknologi ini adalah melakukan kerjasama dengan pelaku pengolah sampah. Seperti di Banyumas – dengan melakukan kerjasama – atau support teknologi dalam bentuk investasi. “Tapi seberapa besar penetrasi pasar dari produk-produk nilai tambah hasil pengolahan sampah kami kurang paham. Teman-teman pengolahan sampah yang lebih paham,” jalas Umar. Mitra AWK di Batang Jawa Tengah mengolah sampah sampai menjadi beberapa produk yang mempunyai nilai jual.

Salah satu klien AWK adalah Taman Safari, Cisarua, Kabupaten Bogor, bekerjasama dengan sebuah perusahaan pengelola sampah. “Kami hanya support teknologi dan lebih banyak riset kegiatan pengolahan sampah, bukan pelaku pengolahan sampai,” tambah Umar.

Sejauh ini model pembuangan sampah model landfill sudah dilarang pemerintah. Dengan adanya teknologi dari AWK, tambah Umar, maka sampah organik dan non-organik secara otomatis menjadi lebih mudah terurai. Itulah kontribusi kami terhadap masalah penyelesaian sampah ini,” jelas Umur.

Umar menambahkan, AWK sudah banyak bekerjasama dengan pemerintah daerah (pemda) dan memberikan pendampingan di pengolahan sampai, seperti di Kabupaten Bandung dan  Palembang Sumatera Selatan. Sedangkan universitas yang sudah bekerjasama dengan AWK adalah IPB, Universitas Pajajaran, dan Universitas Lampung (Unila). “Tahun 2024 ini kemungkinan bekerjasama dengan Universitas Hassanudin, Makassar,” lanjut Umar sambil menambahkan sampai saat ini AWK mempekerjakan 40 karyawan lokal. Dari jumlah itu, empat diantaranya engineer.

Bila pengolahan sampah ini dilakukan dengan baik, tambah Umar, bisa dipastikan akan ada surplus sampai 40 persen dari sampah yang tadinya menjadi masalah atau barang yang tidak berguna menjadi nilai tambah.

Sementara sampai saat ini Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mesin pengolah sampah yang diproduksi AWK mencapai 40 persen. Akan tetapi, seluruh raw material yang digunakan sudah diproduksi di dalam negeri[] Yuniman Taqwa/Abrar Rizq Ramadhan