Kolaborasi Reda Samudera dan Uki Kautsar Membangun Serlok

Kehidupan dunia musik yang bertahun-tahun digeluti akhirnya mencapai titik jenuh. Menurut Reda Samudera saat itu hingar bingar kehidupan musik justru membuatnya berada di ruang hampa.  Bagaimana kisah hijrahnya, lalu berkolaborasi dengan mantan gitaris Band NOAH,  Uki  Kaustar, hingga membesut Serlok?  

Uki Kautsar dan Reda Samudera bersama membesar Serlok/Foto: YouTube

Setelah melalui proses kegelisahan akhirnya Reda Samudera  mencapai titik jenuh dan memilih hijrah meninggalkan dunia musik sebagai seorang vokalis band bergenre  rock n roll  dan memilih menjadi host dalam kegiatan komunitas keagamaan.

Saat itu tahun 2007 ia mulai hijrah.  Ia tinggalkan kehidupan hingar-bingar itu dan hijrah dari Bandung ke Jakarta. Yang tadinya sholat  “bolong-bolong”, ia mulai merapihkan sholat lima waktu. Saat itu usianya 24 tahun dan  mulai belajar tentang hadist, syariah Islam dan sebagainya. “Tahun 2009 saya menikah dan tahun 2010 masuk ke  Rodja TV sampai tahun 2020,” kata Reda kepada pelakubisnis.com

Menurutnya, tahun 2014  mendirikan Majelis Ta’lim The Strangers Al Ghuroba di Jakarta dan di Bandung mendirikan Majelis Ta’lim Jejak Sahabat . “Majelis Ta’lim ini saya bikin bersama teman-teman yang merupakan kajian untuk umum semua boleh datang, bukan kajian khusus bukan komunitas. Bahkan, tahun 2014 banyak teman-teman musisi pada datang,” ujarnya . Sekedar diketahui, The Strangers Al Ghuroba adalah kelompok pengajian yang beberapa anggotanya adalah musisi band yang bertaubat dan tidak mau lagi bermain musik.

Hingga ia  bertemu Uki Kautsar yang saat itu baru keluar dari Band  NOAH. “Saya ketemu Uki waktu dia baru pulang dari umroh tahun 2019. Qodarullah kami mempunyai latabelakang dunia yang sama, musisi yang memiliki kegundahan yang sama dan konsen sama hadist,” ungkap Reda.

Lepas meninggalkan dunia musik, persisnya pada pandemi lalu, sempat menjadi host Podcast podcast ‘tje rabannians’ yang berisi kajian umum, sementara Uki di acara yag sama menjadi audio sound  engineer podcast kajian tersebut. “Di situ saya mulai dekat sama Uki,” katanya.

Tapi untuk bidang UMKM dan bisnis, kata Reda, sejauh ini menurutnya hanya Uki yang terjun menjadi UMKM di bidang fesyen. Sementara Reda  pada tahun 2018 punya bisnis bernama Garis Merah dengan bisnis visual art. Bisnis ini untuk membantu UMKM  membuat video iklan, foto produk dan lain-lain. Apalagi sekarang zamannya digital, serba sosial media. Banyak UMKM yang meminta  mengelola sosmed-nya, content-content, foto produk dan lain-lian. Bahkan, sampai sekarang masih dipercaya membuat video iklan. Cuma Reda harus tanggung resiko kalau membidik pasar UMKM dengan keterbatasan yang mereka miliki. “Saya merasakan, dengan ongkos jasa Rp 900 ribu saja beberapa UMKM masih merasa terlalu mahal,” tandasnya.

Selama fokus menekuni rumah produksi  (PH) di Garis Merah, tambah Reda, UMKM saat itu lagi membentukkan media untuk mempromosikan usahanya. Bahkan, ketika pandemi Covid-19 tahun 2022, hampir 80 persen klien  berasal dari Pasar Tanah Abang. “Saya tidak  menawarkan jasa kepada mereka. Tapi klien saya mungkin tahu dari mulut ke mulut atau melihat instagram saya,” jelasnya.

Diakui Reda, perihal bisnis PH (production house) nya dari awal ia menyampaikan kepada calon klien, bahwa dalam memproduksi iklan ada beberapa prinsip yang diterapkan Garis Merah seperti  tidak pakai musik, tidak menampilkan wanita yang terbuka auratnya, karena menurut Reda, wanita itu sangat mulia.  

Ada salah satu klien meminta Uki menjadi model iklan yang diproduksi oleh PH Garis Merah. “Setelah video iklan itu jadi, diposting di instragram Garis Merah, maka hampir rata-rata  klien saya minta Uki jadi model iklan,” ceritanya.

Sejak  bekerjasama membuat iklan bersama Uki, dari situ  keduanya sering terlihat bersama ke mana-mana. Ketika sedang membuat  iklan di Bandung, ada salah satu  klien  Reda menghubungi. Kliennya itu berbisnis baju muslim, tapi juga punya rumah makan Padang  di Bandung. “Saya dan Uki diundang untuk makan di restoran tersebut di kisaran tahun 2021,” jelas Uki.

Ceritanya, sebagai ucapan terima kasih, Reda buatkan konten dan  membuat review. Tak disangka, review rumah makan tersebut membawa berkah dan Reda mendapat banyak order setelah itu. Seperti itulah  Serlok  (share lokasi kuliner) terbentuk pertama kali. ”Pertama kali saya diposting, atas izin Allah, akhirnya beberapa restoran minta di Serlok juga. Saya bersama Uki punya chemistry. Rejeki saya juga bagian dari rejeki Uki. Rejeki Uki juga bagian dari rejeki saya,” tambah Reda.

Reda menambahkan,  beberapa kali di undang di restoran Arab di Jakarta. “Saya sempat bercanda kalau Serlok di Madinah, asyik kali ya! Ternyata candaan saya diijabah Allah.  Ada seorang Ustadz menghubungi saya menawarkan Serlok ke Madinah dan Mekah. Akhirnya saya bersama Uki umroh dengan wasilah Serlok. Jadi jangan anggap remeh dari sesuatu yang remeh,” tandas Reda.

Sementara mulai berkolaborasi  dengan Muslim Life Fest pertama pada tahun 2019. Saat itu Reda dipercaya sebagai host di acara atau stage  yang diselenggarakan dalam pameran Muslim LifeFest yang diselenggarakan oleh PT Lima Event bekerjasama dengan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).  Sedangkan Uki saat ini menjadi salah satu tenant dalam pameran Muslim LifeFest.

Lebih lanjut di tambahkan, rencananya mau membuat Serlok Festival dengan tren syariah. “Saya ketemu dengan Pak Andu (Deddy Andu-red) , saya mengutarakan rencana bikin Serlok Festival. Pak Andu bilang, udah sama kita aja. Itulah  awal kolaborasi dengan Muslim Life Fair dan serlok pertama kali digelar  pada Maret lalu di Jakarta Internasional Expo (JIE) Kemayoran,” jelasnya. Di mana  seluruh area kuliner di  Muslim Life Fair di JIE Kemayoran itu dikelola oleh Reda dan Uki dalam tajuk Serlok.

Di area Serlok, lanjut Reda, ada talkshow, ada workshop cari bikin roti tepung Jepang. “Workshop ini menarik sekali. Di workshop itu juga diberikan roti gratis, ada info kemitraan, dan ada juga pembahasan bagaimana UMKM melek digital. Kita menghadirkan narasumber-narasumber yang berkompeten di bidangnya. Muslim Life Fair, di area kuliner akan berkolaborasi dengan serlok dan Uki yang akan menghendel di sana,” papar pria 43 tahun ini.

Menurut Reda, Muslim LifeFest dan Muslim Life Fair merupakan berkumpulnya pelaku-pelaku bisnis yang konsen dengan syariah. Kita bermuamalah mencari Rejeki Allah, yang mengasih rejeki Allah. Mereka semua berkumpul di situ, dari mulai fesyen, kuliner dan sebagainya yang saling support dan mencari link satu sama lain. Padahal event itu sebagian kecil dari pelaku usaha-pelaku usaha yang konsen syariah. “Yang kecil itu saja sudah menjadi suatu yang besar,” ujarnya Reda. Bahkan, event  Muslim Life Fair di Bandung dan Jogya juga Reda dan Uki selalu ikut

Reda menambahkan, Muslim Life Fair dan Muslim Life Fest seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) versi syariah. Umumnya muslim yang ikut adalah pengusaha-pengusaha yang sudah hijrah. Jadi, mereka itu menantikan festival seperti ini.

Mei 2023 kemarin di Yogya, misalnya, tambah Reda, menunjukkan gairah bermuamalah cukup besar sekali. Walaupun diakui Reda, kalau di event-event bazaar makanan lebih mahal dan tidak semua booth melakukan diskon besar-besaran. Mereka seperti punya jiwa untuk saling mendukung UMKM muslim. Di event ini membuka peluang kemitraan.

“Terlibatnya saya dan Uki di Muslim Life Fair dengan saya dan Uki itu mulai meramaikan area Kuliner. Di area kuliner ada panggung sendiri, walau tanpa musik. Sebenarnya dunia kreativitas tanpa musik bukan sesuatu yang sulit. Dunia kreatif akan mencari jalan lain, solusi lain sehingga jauh lebih menarik,” lanjutnya.

Reda memberi  contoh, banyak teman-temannya yang mempuyai café tapi tidak ada musiknya. Mereka besar karena pengunjung café tersebut justru fokus diskusi, ngobrol dan fokus menikmati kopinya. Bahkan, ada teman yang bikin café banyak dikunjungi pelaku industri kreatif yang sering meeting di sana. Yang penting suasananya nyaman tanpa hiruk-pikuk menjadi daya tarik tersendiri. [] Siti Ruslina