Cemilan Keripik Nurchaeti Mantan TKI Menembus Pasar Global
Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri ini, bisa bangga berdiri di atas kaki sendiri. Kini ia memperkerjakan 25 karyawan tetap dan membangun kemitraan dengan 220 ibu-ibu dalam menjalankan usahanya. Keripik buah-buahan yang diproduksinya mampu menembus pasar di 15 negara di dunia. Bagaimana kisahnya?

Masih lekat dalam ingatan Nurchaeti pada 13 tahun silam. Saat itu ia menjadi TKI di Malaysia dan Singapura. Selama bekerja di sana ia banyak kesempatan berkeliling ke pasar-pasar ritel dan food and beverage (F&B). Masyarakat global peduli dengan makanan kesehatan yang berhubungan dengan buah-buahan.
Saat itu mulai terpikir untuk tidak menjadi TKI lagi dan akan memproduksi makanan yang disukai masyarakat global yang trennya tidak pernah habis ketika pulang ke Indonesia. Produk tersebut adalah buah yang hampir 90 persen disukai masyarakat dunia, yaitu buah pisang. “Saya mencari informasi dan berpikir kenapa tidak memakai bahan baku buah ekspor asli Indonesia, yaitu buah nangka, nanas dan pisang,” Nurchaeti dalam acara webinar bertajuk Potret UMKM Perempuan Tangguh Dalam Pusaran Global, yang diselenggarakan pelakubisnis.com, 3 Juli lalu.
Ketika pulang ke Indonesia pada tahun 2013, menurut Titi, demikian panggilan akrab Nurchaeti, mulai mencari peruntungan dengan modal tak terlalu besar, terjun ke bisnis laundry kiloan. Berbekal Rp 20 juta, tabungan dari hasil kerja menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia), ia mendirikan usaha laundry kiloan. Ketika pertama kali membuka usahanya mendapatkan kritik dari rekan-rekan seprofesinya.
“Teman-teman TKI waktu itu mengolok-olok, wah lu gila, udah enak kerja di Singapura, gaji gede, malah pulang jadi tukang cuci,” ujar Titi seraya menambahkan outlet laundry kiloan pertamanya di samping Universitas Veteran, Pondok Labu, Jakarta Selatan dengan menyewa ruko ukuran 2×2,5 meter senilai Rp 12 juta per tahun.

Dalam tempo dua tahun, bisnis laundry Titi mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Tahun 2015 outlet laundry kiloannya sudah ada sampai 15 cabang yang tersebar di sekitar Jakarta, Depok dan Bogor. “Alhamdulilah sampai sekarang bisnis ini masih jalan. Saya hanya pegang enam cabang saja, selebihnya saya serahkan ke saudara saya,” tandasnya serius.
Namun demikian, Titi mencoba peruntungan membangun bisnis yang lain. Ia mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pada tahun 2015. Saat itu ia mengkuti pelatihan bisnis kuliner. Beberapa kali alami trial and error.
“Bisnis kuliner pertama saya waktu itu membuat keripik pisang tanduk,” ceritanya. Ini terinspirasi dari almahumah nenek Titi yang memang dikenal pandai membuat keripik pisang yang enak. Ia mengaku sudah mengalami 10 kali trial and error dari sepuluh jenis pisang. Hasilnya keripik pisang tanduk yang paling enak dengan teksturnya yang paling oke.
Akhirnya menurut Titi, terbersit membuat keripik pisang tanpa pengawet, tanpa pewarna, tanpa penyedap rasa dan masa simpan sampai 15 bulan. “Apalagi basic pendidikan saya sebagai Sarjana Farmasi, memungkinkan itu semua bila dikerjakan,” katanya.
Pertanyaannya bagaimana membuat keripik buah ini mempunyai nilai ekonomis? Dilakukan uji sampel ke beberapa orang, ternyata hasilnya keripik pisang tanduk yang paling disukai. “Kalau membuat produk, jangan membuat produk yang kita suka, tapi lebih kepada apa yang konsumen mau. Itulah yang kita bikin,” kata ibu dua anak ini serius.
“Sampai suatu hari ada tawaran dari teman untuk ikut pameran halal di Brunei Darussalam melalui jaringan BP2MI. Lembaga ini berafiliasi dengan kedutaan-kedutaan besar. Untuk booth nya kita dapat free, tapi akomodasi ditanggung sendiri. Alhamdulillah, Allah luar biasa mempermudah usaha saya. Di situ saya dipertemukan dengan distributor besar asal Brunei. Dia bilang produk saya bagus, sedikit dilakukan modifikasi agar produk saya bisa menjadi primadona,” cerita Titi.
Ia menambahkan, investor itu memberikan solusi dengan cara menambah karyawan. Dia melakukan open PO dengan pembayaran dimuka. “Kirim barang ke Brunei 500 kg dengan uang dimuka. Investor itu betul-betul membantu supaya usaha saya maju. Dari situ saya punya modal kerja untuk produksi. Saya belajar tentang negosiasi juga dari beliau,” jelas wanita keturunan Betawi ini sambil menambahkan distributor Brunei Darussalam itu menjadi distributor produknya sampai sekarang.
Lebih lanjut ditambahkan, kunci sukses menembus pasar global intinya adalah kolaborasi tidak hanya dengan kementerian, BUMN dan lembaga lainnya, tapi juga berkolaborasi dengan teman-teman TKI yang masih bekerja di luar negeri di beberapa negara.
Menurut Titi, strategis pemasaran global menggunakan sistem distributor besar . “Di ASEAN kami hanya bekerjasama dengan satu distributor besar di Brunei Darussalam. Distributor inilah yang akan mendistriusikan produk-produk kami ke negara-negara ASEAN. Contohnya distributor kami di Brunei Darussalam mendistribusikan produk-produk kami ke ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Philipina dan lain-lain. Untuk pemasaran di negara-negara Eropa, kami bekerjasama dengan distributor besar di Belanda yang mendistribusikan produk kami ke beberapa negara di Eropa, Jerman, Perancis dan lain-lain,” kata UMKM binaan Pertamina ini.
Di bawah badan usaha CV N&N Internasional ini usahanya terus berkembang. Bahkan menurut Titi produk keripiknya mampu menempus pasar ekspor ke 15 negara. “Kuncinya, begitu buyer tertarik dengan produk ini, maka langkah berikutnya tinggal negosiasi pembayaran. Saya menerapkan sistem pembayaran 70 banding 30. Artinya begitu buyer buka PO, buyer sudah harus bayar 70 persen, baru kami kerjakan. Sedangkan yang 30 persen, begitu produk sudah selesai dan siap dikirim dari pelabuhan, produk sudah harus dibayar penuh,”jelas Titi yang banyak mendapat ilmu dari investor asal Brunei Darussalam tersebut.
Sampai sekarang CV N&N International mempunyai lima varian produk, tapi masing-masing negara mempunyai best seller produk tersendiri. Rata-rata yang terlaris adalah keripik pisang dan keripik nanas. Bagi pasar ASEAN, keripik pisang tetap nomor satu. Sedangkan untuk kawasan Eropa dan sekitarnya adalah keripik nangka.
Di Trade Expo Indonesia (TEI) 2022, Oktober lalu, Titi mendapatkan rejeki nomplok. Pesanan keripik nangka datang dari buyer luar negeri. Ada tiga buyer yang kepincut dengan produk keripik olahan Titi. Mereka datang dari Norwegia, Turki, dan Arab Saudi yang nilainya mencapai Rp 17 miliar, bila dirupiahkan. Dan semuanya membeli dengan kemasan dengan brand BFF milik Titi. “Desain kemasan itu yang buat anak saya waktu dia kelas 5 SD, dia menang lomba desain berskala internasional. Waktu itu dia dapat juara 1 mendapat reward US$9000. Sekarang anak saya di pesantren, sudah kelas 9,”tutur Titi menceritakan sejarah desain kemasan brand keripik BFF miliknya.
Mitra Binaan UMKM Pertamina ini pada ajang TEI 2022 banyak dikunjung buyer. Umumnya para buyer tersebut datang langsung ke booth Pertamina. Para buyer mencari pelaku usaha keripik. Titi langsung mempromosikan usahanya kepada para buyer yang datang langsung ke booth-nya. “Mereka datang langsung ke booth kami di Pavilion Pertamina. Terus kami janjian untuk presentasi. Memang ada negoisasi, kami ngomongin sistem pembayaran, teknik pengiriman dan sebagainya,” kata Titi.
Menurut Titi, para buyer ingin mencoba memasarkan keripik nangka di negaranya masing-masing. Bagi Titi, pasar Turki dan Norwegia merupakan negara-negara yang baru. Selama berbisnis keripik, Titi belum memiliki distributor di negara Turki dan Norwegia. Selama tujuh tahun berbisnis keripik, Titi sudah mengekspor produknya ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Produk keripik buah Titi sudah menjamah negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Oman, Abu Dhabi, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Belanda, Belgia, Jerman, dan Perancis.
Diakui Titi, ketika China mengumumkan kasus Covid-19 pertamanya. Dunia mulai siaga. Akses antar negara ditutup, dan tentu saja, kegiatan ekspor impor terpengaruh, penjualan produk Titi anjlok hingga 70 persen. “Bagaimana karyawan tidak kehilangan pekerjaan dan tetap menghasilkan? Akhirnya, di tahun 2020, kami bikin divisi snack box dan lunch box,” ujar Titi seraya menambahkan divisi baru ini mampu membalikkan pendapatan yang semula ambles jadi merangkak naik. Divisi baru ini hingga kini terus berkembang.
“Semenjak pandemi, kami tak ada ekspor sama sekali. Hampir dua tahun kami tak mengirim produk kami ke luar negeri. Sehingga kami mengubah strategi untuk bisa bertahan di dalam negeri. Artinya kami harus masuk ke pasar Indonesia dan di situlah kami berinovasi gimana caranya bisa masuk ke pasar Indonesia dengan kondisi ekonomi yang tak terlalu baik,” kata Titi.
Sebenarnya imbas Pandemi lalu sangat besar sekali. Dari 5 persen pasar lokal, lalu mencoba berinovasi ke pasar-pasar domestic.” Alhamdulliah salah satu platform mitra yang yang cukup besar yang diminati anak-anak muda. Di situ kami berjualan secara online (live) tiap hari, terus kita mengikuti banyak sekali webinar-webinar, bagaimana caranya meningkatkan pasar melalui online, sehingga segala sesuatu ada berkahnya, kita belajar online, almadulliah pasar lokal kita naik menjadi 15 persen.
Menurut Titik, sekitar 90 persen yang membantu usahanya adalah ibu-ibu hebat dan 3 persen adalah para disabilitas. Mereka bukan karyawan tetap, tapi digaji dengan sistem kerja berdasarkan banyaknya pekerjaan yang bisa diselesaikan. Contoh bisa mengupas pisang sekian dengan pembayaran sekian per kilogram.
“ Kami mensupport mereka yang ingin punya penghasilan. Kami paham betul distabilitas sulit mendapat pekerjaan. Tapi kami mendorong mereka, walau dalam keadaan kekurangan. Tapi kalau mau berusaha Allah akan berikan rejeki kepada mereka. Mereka mendapat kesempatan seperti orang normal lainnya. Karyawan tetap kami sekarang ada 25 orang, sedangkan dengan pola kemitraan ada 220 orang,” katanya mengunci percakapan. [] Yuniman Taqwa
