Septi Setiani Besut Industri  Food and Cosmetics   Dengan Ikon Yogya

Berbekal modal Rp 200 ribu dari orangtua dan support dari dosen-dosen kampus tempatnya menuntut ilmu, ia meracik ramuan rempah-rempah dan menjualnya. Kini omzetnya mencapai Rp 80-an  juta per bulan. Bagaimana kisah UMKM perempuan ini membangun  bisnis?

Septi Setiani, Owner CV Sekar Jawi

Tak bisa dipungkiri isyu gender sulit dihapuskan dalam  image perempuan. Tapi itu dulu! Berbeda dengan sekarang. Perempuan kini harus bisa multitasking.  Ini yang menjadi kelebihan perempuan dibandingkan laki-laki. Perempuan bisa menjalankan tugasnya berbarengan sekaligus bisa jaga anak-anak sambil masak, sambil cuci baju, hal ini belum tentu bisa dilakukan oleh kaum laki-laki.

“Sebagai UMKM perempuan tidak perlu resah dengan image itu.  Buktikan dengan prestasi dan jangan mudah mengeluh. Intinya menikmati segala prosesnya karena dari situlah kita bisa banyak belajar. Dengan banyak pembelajaran dan menambah literasi  kita lebih siap dalam menghadapi tantangan usaha dan bisa beradaptasi dengan perubahan trend yang sedang dihadapi.  Tak bisa dipungkiri di era digitalisasi seperti sekarang ini,  trend pasar cepat  berubah. Harus siap dengan inovasi baik produk maun inovasi dan strategi pemasaran,” kata Septi Setiani, dalam acara webinar bertajuk UMKM Perempuan Tangguh Dalam Pusaran Ekonomi Global, pada 3/7 lalu.

Menurut Septi, perempuan Indonesia sekarang semakin modern sehingga membekali dirinya dengan bekerja multutasking bisa mengurus anak dan rumah tangga serta menjalankan usaha atau profesinya. Hal ini sebagai modal bagi UMKM perempuan sehingga UMKM perempuan akan menjadi lebih tangguh dalam menjalankan usahanya.

Septi mengatakan, tahun 2006 ia mulai tergiur melihat bisnis food and cosmetics tradisional. . Hingga suatu hari di tahun 2006, ketika pulang kuliah di kendaraan umum ia  bertemu dengan seorang bapak yang duduk di sebelahnya. Bapak itu membuka percakapan dengan bertanya tentang kegiatan sehari-hari Septi Setiani, mahasiswa Diploma II, Fakultas Ilmu Formasi, Universitas Gajah Mada (UGM).  Wanita kelahiran September 1986 ini pun bercerita tentang kegiatannya  meracik ramu-ramuan herbal. Ternyata si bapak tertarik dan langsung memesan 20 pieces produknya.  

 “Ilmu yang didapat di kampus saya terapkan. Kalau praktikum kami sering diminta buat minyak rambut, minyak cem-ceman dan lain-lain. Jadi tahu ilmunya. Kami diajarkan bagaimana formulasinya, kandungannya apa, standarisasi mutunya bagaimana? Mulai dari mengukur kadar air,  kandungan kimia bahan baku, proses pengolahan paska panen dan lain-lain. Jadi kami diajarkan cara menjaga standarisasi mutu dari bahan baku yang akan kita proses hingga menjadi produk,”ungkap Septi.

Ia memulai merintis usaha dari semester akhir waktu masih kuliah di Diploma Ilmu Farmasi UGM. Lulus kuliah sambil mencari kerja  ia terus belajar memproduksi jamu-jamuan.  Namun karena sudah tak lagi kuliah, maka untuk proses membuat ramuan ia gunakan fasilitas seadanya di tempat kostnya.  Sementara proses pengeringan masih minta tolong petugas laboratorium di kampusnya dulu. “Mereka support saya Alhamdulillah,” ujar Septi yang saat itu akhirnya mendapat pekerjaan menjadi karyawan bagian administrasi di salah satu sekolah tinggi di Yogyakarta dan sempat juga bekerja di rumah sakit.  

Septi  bersyukur support yang tak henti-henti dari para dosennya menjadi salah satu faktor pendukung sukses Septi. Di kisaran tahun 2007-2008, ia memberanikan diri masuk ke Pusat Oleh-Oleh Hamzah Batik, Yogyakarta, mencoba menawarkan produknya. “Dulu namanya masih Mirota Batik. Saya ketemu dengan ibu-ibu di bagian purchasing. Tapi ibu itu galak bener Mbak,”kenang Septi ketika pertama menawarkan produk ke Mirota Batik.

Singkat cerita, selang satu atau dua minggu, ia mendapat telepon kalau 20 pieces produk rempah mandinya sudah habis terjual dan si ‘ibu galak’ kembali memesan produk yang sama.   Namun kali ini ibu tersebut memberi masukan agar diurus legalitas produknya, karena legalitas adalah added value bagi sebuah produk terlebih untuk produk-produk kecantikan. Berkat masukan dari si ‘ibu galak’,  saat itu  sekitar tahun 2013 Septi mulai mengurus perizinan dan  setelah melalui serangkaian proses, akhirnya ia berhasil mendapatkan  izin Umot (Usaha Mikro Obat Tradisional-red).

Awalnya ia menggunakan nama merek ‘Setia Ayu’ karena mencari nama-nama berbau Jawa dan ia terus  terinspirasi juga dari nama brand besar Sari Ayu. Kemudian berubah nama menjadi Sekar Jawi yang diartikan sebagai brand produk lokal dari Jawa.  Mengambil dari bahasa Jawa, Sekar berarti lokal, sedangkan kata Jawi merujuk pada sebutan ‘Tanah Jawa’.     

Sementara komitmen bersama suami untuk terjun ke bisnis jamu dan kosmetik sudah kadung terlontar.  Di tahun 2012, ia memutuskan  berhenti kerja setelah memiliki momongan dan  fokus menjalani bisnis. Di saat yang bersamaan suaminya, Sofyan Feri, hendak dimutasikan ke luar kota dari pekerjaannya.  Uniknya sang suami juga  memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan berkomitmen membantu Septi menjalani usaha jamu dan kosmetik. 

Akhirnya tahun 2013 ia  bersama suami lebih fokus membesarkan Sekar Jawi.   Diantaranya menguatkan brand image  Sekar Jawi sebagai produk asal  Yogyakarta.  Dan langkah berikutnya adalah mengurus soal legalitas usaha.  Sebelum mengurus izin produksi, dipastikan harus memiliki pabrik yang sesuai dengan standar  Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Diakuinya pengurusan izin produksi dan izin edar tidak semudah yang ia bayangkan.  Ada proses pembuatan denah dimana harus mengaplikasikan  bangunan usaha yang sesuai gambar denah. Saat ini ia sudah mendapatkan sertifikat izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga-red) dan sertifikat izin  UMOT.  

Hingga kini ia sudah punya tiga legalitas usaha.  “Biaya perizinan UMOT memang tidak sebesar biaya perizinan kosmetik. Tapi Alhamdulillah untuk produk-produk seperti minyak kemiri, minyak sereh dan lain-lain itu sudah ada izin edarnya. Yang mahal itu di pengujian laboratoriumnya,” terang pelaku UMKM yang telah masuk ke dalam komunitas binaan BPOM ini.

Dari awal mimpinya ingin semua orang mengenal produknya. Sasarannya adalah mass market.  Mulai melakukan penetrasi pasar melalui pasar tradisional,  pusat oleh-oleh dan modern market bermodalkan legalitas  izin edar dan sebagainya yang dimiliki  sebagai senjata pamungkas, membuat  Septi lebih mudah menitipkan produknya dengan sistem konsinyasi.

Di awal berjibaku sendirian , kini mampu memberdayakan masyarakat sekitar/Foto: Dok. Pribadi

Yang jelas, legalitas menjadi nomor satu bagi Septi untuk berani menawarkan produknya ke pasar. Sejalan dengan itu ia juga terus konsern mengemas produknya dengan packaging yang menarik perhatian.  Langkah komunikasi yang disampaikan lewat kemasan produk-produk Sekar Jawi adalah menjadikan Yogyakarta sebagai ikon dari produk-produknya. `

Ia percaya, kemasan menjadi faktor penting juga dalam membentuk imej produk. Dalam hal ini ia memasukkan ikon Yogyakarta pada desain kemasannya sebagai imej produknya. Tak lupa ia masukkan  atribut Jogja seperti Tugu Jogja dan lentera Jogja yang khas.

Menurut Septi, dari kemasan, orang langsung melihat imej dari produk yang dijual. Ketika produknya mengikuti sejumlah pameran yang harus melalui proses kurasi. Dari pengalamannya hampir rata-rata kurator pertama kali yang dinilai adalah kemasan produk. “Yang penting produk itu punya ciri khas,” tutur ibu tiga anak ini.

Selain hadir di pusat oleh-oleh, pasar modern dan pasar tradisional, produk-produk Sekar Jawi juga ada di Galeri UMKM Bandara Internasional Yogyakarta. “Sudah ada yang repeat order dari bandara. Ada juga yang akhirnya repeat  order  lewat social media kami atau lewat market place. Seperti hotel itu biasanya mereka hubungi admin kami,”ungkapnya.

Saat itu ia dan suami rajin menabung dan investasi untuk pengembangan usahanya.  Karena ada proses perizinan yang harus diurus terkait dengan tempat produksi.  “Setidaknya harus punya  modal untuk tempat usaha. Akhirnya kami beli rumah dari uang tabungan, sekalian berfungsi sebagai tempat produksi,”jelas mantan Santri Pesantren Krapyak Yogyakarta ini.   

Kini Septi dan suami sudah memiliki asset 1 rumah tinggal, dan 2 tempat produksi berstandar BPOM. Dimana ada ruang produksi seluas 80 meter persegi yang ditata sederhana menjadi beberapa ruang berdasarkan fungsinya. “Menyusul 1 tempat produksi kosmetik lagi. Jadi kami bakal  punya 3 tempat area produksi,”paparnya yang saat ini sudah memiliki sekitar 50 item produk.

Usaha Septi sempat mengalami penurunan hingga 30% ketika datangnya pandemic  Covid-19 pada Maret 2022  lalu yang datang begitu tiba-tiba dan meluluhlantakkan hampir seluruh negara di dunia.  “Pilihannya saat itu, mau mundur atau maju. Produk-produk  ditarik semua karena semua toko tutup. Tapi recovery nya kita lebih cepat,”terang Septi yang menjual produknya dengan harga terjangkau mulai belasan ribu rupiah. 

Tahun 2019 masuk menjadi  UMKM binaan Pertamina. Itupun setelah mendapat banyak pencerahan dari pelatihan-pelatihan yang diberikan kementerian-kementerian terkait yang ikut membina komunitas UMKM.  “Kemarin itu sebelum pandemic kita sudah terlalu nyaman dengan sistem offline. Tapi ketika pandemic datang kami malas berubah. Padahal sebelum pandemic kami sudah punya website. Disitu pihak Pertamina memacu saya untuk berubah. Mereka ajarkan soal digital marketing, bagaimana berjualan di market place dan sebagainya. Mereka bilang, kamu kalau gak go digital, kamu akan tenggelam. Akhirnya kami belajar sampai sekarang,”cerita  Septi yang saat ini memiliki 10 karyawan tetap. 

“Karena ternyata banyak sekali program—program pemerintah yang men-support UMKM. Dapat networking dari komunitas UMKM-UMKM yang diselenggarakan pemerintah. Seringkali ketika berjalan sendirian kita merasa aman berada di zona nyaman. Tapi ketika kita keluar ketemu orang di pameran, disitu kita merasa kita belum ada apa-apanya. Makanya perlunya berkolaborasi dan bersinergi dengan banyak pihak. Seperti sertifikat halal itu kita gratis gak bayar,”ucapnya.

 “Kami mempekerjakan mereka secara part time dengan sistem borongan. Kurang lebih ada 5 orang ibu-ibu yang membantu kami,” terang Septi  yang mengaku paska pandemic omzet penjualan kembali normal dan naik sampai Rp 80 juta per bulan.

Menurut Septi Salah satu misi Sekar jawi adalah memberi manfaat bagi banyak orang untuk  berusaha menjalankan empowerment bagi masyarakat sekitar.  Salah satunya dengan menyerap hasil panen  empon-empon dan tanaman yang bisa  dimanfaatkan menjadi bahan baku di Sekar Jawi.

“Tempat tinggal sekitar kami banyak yang memiliki lahan yang luas dan di tanami empon-empon. Kami berusaha  menyerap empon-empon tersebut, walaupun daya serapnya belum begitu banyak,” kata Septi seraya menambahkan mengajak warga sekitar untuk menjadi tenaga borongan untuk produk souvenir dan craft nya Sekar Jawi karena sifatnya padat karya. Bahkan mengajark para remaja sekitar untuk bisa bekerja paruh waktu sebagai team marketing online [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa