Bursa Karbon Indonesia: Masih Sepi Pembeli
Kendati pembukaan perdagangan karbon pada hari pertama dan kedua masih sepi pembeli. Pada peluncuran bursa karbon mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 29,2 miliar, namun pada hari kedua tidak ada transaksi yang dibukukan. Namun demikian, potensi pasar Rp3.000 triliun, bahkan bisa lebih. Suatu angka yang cukup besar yang bisa diraup dari perdagangan karbon
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi meluncurkan sekaligus membuka Perdagangan Perdana Bursa Karbon Indonesia, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, pada 26/9. Presiden mengatakan keberadaan Bursa Karbon Indonesia ini, merupakan bentuk kontribusi nyata Indonesia terdapat upaya menangani dampak dari perubahan iklim.
Izin usaha Penyelenggara Bursa Karbon telah diberikan kepada BEI oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat Keputusan nomor KEP-77/D.04/2023 pada 18 September 2023 lalu. Sesuai Peraturan OJK (POJK) Nomor 14 Tahun 2023 tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon, IDXCarbon sebagai Penyelenggara Bursa Karbon menyediakan sistem perdagangan yang transparan, teratur, wajar, dan efisien. Selain memberikan transparansi pada harga, perdagangan IDXCarbon juga memberikan mekanisme transaksi yang mudah dan sederhana. Saat ini, terdapat 4 mekanisme perdagangan IDXCarbon, yaitu Auction, Regular Trading, Negotiated Trading, dan Marketplace.
IDXCarbon terhubung dengan Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sehingga mempermudah administrasi perpindahan unit karbon dan menghindari double counting, sebagaimana dikutip dalam rilis Pj.S Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad.
Pelaku Usaha berbentuk Perseroan yang memiliki kewajiban dan/atau memiliki komitmen untuk secara sukarela menurunkan emisi Gas Rumah Kaca, dapat menjadi Pengguna Jasa IDXCarbon dan membeli Unit Karbon yang tersedia. Perseroan dapat mendaftarkan diri terlebih dahulu dengan mengisi Formulir Pendaftaran Pengguna Jasa IDXCarbon yang tersedia pada website www.idxcarbon.co.id. Selain itu, pemilik proyek yang sudah memiliki Unit Karbon yang tercatat di SRN-PPI, dapat menjual Unit Karbonnya melalui IDXCarbon.
Kredit karbon tercipta dari suatu proyek ramah lingkungan yang bisa menyerap emisi seperti pengelolaan hutan berkelanjutan hingga pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan. Bursa karbon menciptakan supply dan demand dari penjualan kredit karbon dan pembeli yang membutuhkan untuk penyeimbang batas emisi.
Pihak yang menciptakan kredit karbon ini nantinya bisa menjualnya di bursa karbon untuk mendapatkan keuntungan, kemudian sebagai pembeli akan ada pihak yang menghasilkan emisi besar untuk menyeimbangkan batas emisi sesuai dengan ketentuan pemerintah, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, pada 27/9.
Mengutip Reuters, pasar karbon Indonesia dirancang untuk memfasilitasi perdagangan sertifikat kredit karbon yang diterbitkan untuk proyek atau kegiatan dalam menghilangkan emisi gas rumah kaca dari atmosfer, atau untuk perusahaan yang menghasilkan emisi karbon di bawah ambang batas polusi yang ditetapkan pemerintah.

DKI Jakarta saat ini sedang menyusun sebuah peta jalan yang akan mencakup batasan emisi untuk empat sektor lainnya seperti kehutanan, proses industri dan penggunaan produksi, pertanian dan pengelolaan limbah, serta pajak karbon untuk emisi di atas batasan, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, pada 26/9.
Pemerintah berharap bahwa peraturan-peraturan ini akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk memangkas emisi mereka. Sementara perusahaan-perusahaan yang mendapatkan dana dari pasar dapat menginvestasikan kembali dana tersebut dalam upaya untuk mengurangi emisi.
Menurut Jokowi, Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam nature-based solutions dan menjadi satu-satunya negara yang sekitar 60 persen pemenuhan pengurangan emisi karbonnya berasal dari sektor alam. Berdasarkan catatan Presiden, terdapat kurang lebih 1 gigaton karbondioksida (CO2) potensi kredit karbon yang bisa ditangkap.
“Jika dikalkulasi, potensi bursa karbon kita bisa mencapai, potensinya Rp3.000 triliun, bahkan bisa lebih. Sebuah angka yang sangat besar, yang tentu ini akan menjadi sebuah kesempatan ekonomi baru yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sejalan dengan arah dunia yang sedang menuju kepada ekonomi hijau,” ujarnya.
Jokowi menekankan, langkah-langkah konkret sangat dibutuhkan dalam mengatasi perubahan iklim karena ancamannya sudah sangat dirasakan secara global, mulai dari kenaikan suhu bumi, kekeringan, banjir, hingga polusi.“Bursa karbon yang kita luncurkan hari ini bisa menjadi sebuah langkah konkret, bisa menjadi sebuah langkah besar untuk Indonesia mencapai target NDC (Nationally Determined Contribution).
Jokowi menekankan tiga hal terkait perdagangan karbon. Pertama, menekankan agar menjadikan standar karbon internasional sebagai rujukan dan memanfaatkan teknologi untuk transaksi sehingga efektif dan efisien. Kedua, meminta harus ada target dan timeline, baik untuk pasar dalam negeri maupun nantinya pasar luar negeri atau pasar internasional. Ketiga, meminta adanya pengaturan dan fasilitasi pasar karbon sukarela sesuai praktik di komunitas internasional serta memastikan standar internasional tersebut tidak mengganggu target NDC Indonesia.
“Saya sangat optimis Indonesia bisa menjadi poros karbon dunia asalkan langkah-langkah konkret tersebut digarap secara konsisten dan bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan, baik oleh pemerintah, oleh swasta, masyarakat, dan bersama-sama dengan stakeholders lainnya,” tandasnya.

Anak usaha PT Pertamina (Persero) yang khusus mengembangkan energi panas bumi yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), misalnya menjadi emiten yang potensi semakin diuntungkan dari adanya bursa karbon. Perusahaan yang baru IPO awal tahun ini bahkan mengklaim telah mencetak pendapatan dari kredit karbon sejak tahun lalu sebesar US$ 747.000 atau setara Rp11,13 miliar, nilai ini menyumbang sekitar 0,19% dari total pendapatan pada 2022.
Pada pembukaan bursa karbon Indonesia pada 26/9 PGEO diketahui telah menjual karbon dari proyek Lahendong unit 5 dan unit 6. Sektor perbankan terpantau paling getol membeli unit karbon PGEO ini dengan tujuan mencapai title “green bank”.
Tak hanya itu, perusahaan di sektor lain yang membeli unit karbon anak usaha Pertamina tersebut antara lain PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CarbonX Bumi Harmoni, PT MMS Group Indonesia, PT Multi Optimal Riset dan Edukasi, PT Pamapersada Nusantara, PT Pelita Air Service, PT Pertamina Hulu Energi, dan PT Pertamina Patra Niaga.
Tiga belas kredit karbon untuk hampir 460.000 metrik ton setara karbon dioksida (CO2e) dari proyek-proyek PT Pertamina Geothermal Energy di Sulawesi telah diperdagangkan, dengan harga Rp 69.600 (US$ 4,51) per ton pada pembukaan perdagangan perdagangan perdana 26/9. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan, harga akan bervariasi pada setiap proyek tergantung pada masing-masing perusahaan.
Sementara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, pada uji coba bulan Februari lalu untuk pembangkit listrik tenaga batu bara, tunjangan karbon diperdagangkan di kisaran harga US$ 2 hingga US$ 18 per ton.
Bursa karbon atau IDXCarbon sepi transaksi setelah belum lama ini diluncurkan. Pada perdagangan perdana, pada 26/9, bursa karbon mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 29,2 miliar, namun pada hari kedua tidak ada transaksi yang dibukukan.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menilai wajar transaksi di bursa karbon yang masih sepi. “Nature bursa karbon memang tidak se-likuid bursa saham,” kata Jeffrey, 29/9, sebagaimana dikutip dari republika.co.id.
Pada tahap awal, Jeffrey menjelaskan, jumlah pengguna jasa bursa karbon juga belum cukup banyak. Saat ini, Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) menjadi satu-satunya Penyedia unit karbon di IDXCarbon.
Dari sisi pembeli hanya ada sekitar 15 perusahaan yang tercatat di bursa karbon. Menurut Jeffrey, BEI selaku penyelenggara bursa karbon terus berupaya melakukan sosialisasi dan pertemuan dengan sejumlah perusahaan potensial. “Diharapkan nantinya jumlah demand dan supply akan cukup banyak sehingga bursa karbon akan lebih likuid,” kata Jeffrey.
BEI mencatat tidak ada transaksi perdagangan unit karbon pada hari kedua setelah peluncuran atau tepatnya pada27/9. Harga unit karbon di pasar reguler pada pembukaan dan penutupan tidak mengalami perubahan, yaitu berada di harga Rp 77 ribu per unit karbon.[] Yuniman Taqwa
