Setelah Tembus Pasar Ekspor, SKI Mulai Lirik Pasar Lokal
Sekitar 98 persen penetrasi solar panel produSKI PT Solar Karya Indonesia (SKI) masuk pasar ekspor. Tapi secara perlahan akan memperbesarkan pasar domestik karena potensi pasar sangat besar. Bagaimana strategi SKI memperbesarkan pasar lokal solar panel?

Meski sebagai pendatang baru di industri solar panel di negeri ini, namun mampu menunjukkan kinerja melesat. Betapa tidak, baru develop manufaktur pada tahun 2022, dalam hitungan kurang dari setahun mampu menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Sedikitnya tiap bulan melakukan ekspor sampai 8 kontainer ke negara tersebut. Dan cuan pun mampu diraup di kisaran Rp 20 miliar per bulan.
Adalah Christoper Liawan, Chief Executive Office (CEO) PT Solar Karya Indonesia (SKI) yang membesut bisnis baru di lini industri solar panel Indonesia. Ia bukan orang baru di industri solar panel. Sebelum membangun usaha sendiri, ia pernah menjabat Presiden Direktur Indonesia Solar Modul Manufacture. Potensi energi surya di Indonesia melimpah ruah, ia melihat itu belum di manfaatkan secara optimal. Sementara pemain di bisnis ini masih didominasi produk-produk impor. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri untuknya memajukan industri solar panel di tanah air.
Namun demikian, akselerasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) belum sekencang dibandingkan Pembangkat Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara. Tapi, transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi suatu keniscayaan menghadapi net zero emission pada tahun 2060. Menurut Christoper, memang investasi awal energi surya lebih mahal dibandingkan energi berbasis fosil. Tapi jangka panjang energi ini sangat efisien dibandingkan energi berbasis fosil “Cost production energi ini hanya sekitar Rp 400 per KWa,” kata Christoper kepada pelakubisnis.com, minggu kedua, November lalu.
Apalagi pembangunan PLTS memerlukan waktu singkat. Pembangunan PLTS Terapung Carata, Purwakarta, Jawa Barat, kata Christoper, hanya memerlukan waktu tiga bulan untuk pembangunan PLTS tersebut. “Kalau Masdar dari Uni Emirat Arab berani investasi PLTS di Indonesia, berarti punya peluang besar di bisnis ini. Mana mungkin Masdar berani investasi jika tidak prospek,” tandasnya serius.
Itu sebabnya Christoper berani menggelontar investasi mencapai US$ 3 juta atau sekitar Rp 44 miliar, untuk membangun industri manufaktur solar panel. Di semester dua tahun 2022 ia memulai dengan membangun pabrik satu line mesin dengan kapasitas 80 MW per tahun. Di semester pertama tahun 2023, ia menambah satu line mesin dengan kapasitas yang sama, sehingga saat ini sudah terbangun pabrik solar panel dua line dengan total kapasitas 160 MW per tahun, walaupun utilisasi pabrik saat ini baru mencapai 50 persen.”Rencananya tahun depan akan ditambah dua line mesin baru dengan tambahan investasi baru sekitar US$ 2 juta, sehingga total kapasitas produk bisa mencapai 400 MW pertahun,” ujar Christoper seraya menambahkan master plan yang dibuatnya sampai 2025 ada penambahan empat line mesin, sehingga kapasitas produk pada tahunitu bisa mencapai 800 MW per tahun.

Diakuinya SKI sebenarnya baru running tiga bulan yang lalu (Juli 2023-red). “Saya baru full kapasitas produSKI 24 tiga bulan terakhir ini dengan jumlah karyawan 100 orang, 80 diantaranya bekerja di pabrik. Sebelumnya baru berjalan 12 jam per hari,” tambahnya.
Christoper menambahkan, mesin yang digunakan saat ini merupakan mesin solar panel generasi terbaru dengan skala mesin lebih besar dibandingkan mesin-mesin yang dimilik pabrik-pabrik sejenis di Indonesia. Sebagai contoh mesin solder yang dimiliki SKI mampu menyolder 10 line per lempeng solar panel dan mesin press (laminating). “ Sekali jalan bisa mengepress 20 unit solar panel,”tuturnya.
Lebih lanjut ditambahkan, mesin-mesin yang digunakan SKI merupakan genarasi terbaru. Ketika pandemi pada tahun 2020 dan 2021 lalu, keluar mesin-mesin terbaru. Memang product lifecycle teknologi pembuatan solar panel sangat cepat atau sekitar lima tahun. Pandemi Covid-19 yang lalu waktunya sangat panjang, sekitar tiga tahun. Akibatnya saat ini mesin-mesin pabrik kompetitor tertinggal dibandingkan mesin solar panel yang dimiliki SKI.
Sementara raw material utama pembuatan solar panel berupa sel surya belum ada di Indonesia, masih impor dari negara-negara seperti China dan Vietnam. Padahal Indonesia memiliki bahan baku utama pembuatan sel surya berasal dari pasir selika sangat melimpah. Indonesia hanya menjual pasir selika dengan harga murah, kemudian kembali lagi ke Indonesia dalam bentuk sel surya yang harga sudah jauh melambung.
Menurut Christoper lempengan kaca yang ukurannya sangat tipis ini mudah sekali pecah. Ia mengakui bisa 1 persen sel surya pecah sampai ke pabrik selama perjalan impor ke pabrik-pabrik di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian proses menyusun dan meletahkan lempengan-lempengan sel surya.

Christoper menambahkan, salah satu produk panel surya yang di produksi SKI, yaitu solar panel bio vision atau panel surya yang memiliki dua sisi (depan belakang) dapat menyerap sinar matahari. Panel surya jenis ini memang belum familiar di Indonesia. Ia mengklaim saat ini yang memproduksi solar panel bio vision di Indonesia baru SKI. Panel surya ini bisa dipasang vertical. “Kami memproduksi ini untuk mengisi pasar Amerika Serikat dan Eropa,” katanya.
Di mana spesifikasi panel surya tersebut, menurut Christoper datang dari klien-klien dari Amerika Serikat dan Eropa. SKI memproduksi sesuai permintaan klien. Biasanya sebelum diproduksi dalam skala besar sesuai permintaan klien, terlebih dahulu diproduksi satu tipe sesuai spesifikasi klien. Bila klien setuju, baru di produksi dalam jumlah besar sesuai permintaan. “Contohnya yang seperti ini, kami produksi solar panel bio vision dengan permintaan 100 watt per-unit dengan jumlah 1980 atau satu container untuk diekspor ke Amerika,”tandasnya sambil menunjukkan unit solar panel jenis biovision.
Menurut Christoper, sebelum solar panel dikemas untuk diekspor, terlebih dahulu solar panel dilakukan uji simulasi untuk memastikan apakah panel surya tersebut hasilnya sesuai dengan spesifikasi jumlah watt yang dipesan. Bila klien memesan satu unit panel surya dengan ukuran 100 watt, maka panel surya tersebut dipastikan ukurannya sesuai dengan pesan. “Bahkan, produk panel surya yang kami produksi justru watt bila lebih besar dari pesanan klien, antara 1 sampai 10 persen,” tambah Christoper.
Tidak hanya memproduksi solar panel bio vision, tapi SKI juga, lanjut Christoper memproduksi solar panel dalam jenis black. Solar panel ini berwarna hitam dan mempunyai keunggulan lebih go green. Panel surya ini ini tidak menimbulkan efek rumah kaca. Di samping itu, solar panel jenis ini tidak memantulkan cahaya, sehingga lebih aman bagi burung dan penerbangan. “Panel surya jenis ini mampu menyerap seluruh sinar matahari, sedangkan panel surya jenis putih masih tembus panas sampai 7 persen,” tambahnya. Sekitar 50 persen penjualan solar panel di Amerika Serikat sudah jenis solar panel black. Lagi-lagi Christoper mengklaim untuk pasar Asia baru SKI yang menjual solar panel jenis black ini.
Difrensiasi produk-produk solar panel produksi SKI kebanyakan tidak diproduksi pabrik-pabrik di Indonesia dan China. “Hari ini di China sudah menjadi konsumsi panel surya, bukan lagi produsen. Sebab, cost untuk bikin solar panel ukuran kecil atau di bawah 300 watt, SKI leading dibandingkan China,” lanjutnya sambil menambahkan SKI saat masih semi otomatis. Tapi kalau sudah otomatis, pabrik hanya memproduksi satu tipe solar panel, karena untuk memproduksi produk massal. Sedangkan SKI produksinya masih campur, karena tidak semua proses produksi dilakukan secara otomatis, masih ada proses yang dilakukan secara manual.
Sementara dari segi harga, tambahkan Christoper, SKI sudah bisa bersaing dengan barang produk impor. Walaupun pemain solar panel yang betul-betul memproduksi sendiri belum banyak. Selama ini pemain-pemain solar panel kebanyak impor. Tapi pertengahan tahun ini para para importir sudah dikenakan beban pajak bea masuk sekitar 5 persen. Kebijakan ini untuk melindungi produk-produk produksi dalam negeri. “Saat ini local content dari produk SKI sudah mencapai 45 persen. Manpower sendiri sudah menyumbang 12 -15 persen, bahan kimia, frame sudah bisa lokal dan bingkai solar panel menggunakan almunium produksi dalam negeri,” ujarnya.
Menurut Christoper, masih 98 persen produk SKI membidik pasar ekspor. Itu sebabnya SKI sudah memiliki Standard UL Certification sebagai pabrikan solar panel berstandar internasional. Sementara baru 2 persen distribusi pasar domestik. Saat SKI baru membuka memiliki satu gerai service center point di BSD, Tangerang. Rencananya tahun depan akan membuka service senter point di Surabaya, Bandung dan satu geral di Cibubur.
Kondisi Indonesia saat ini, kata Christoper, sama persis dengan kondisi di Malaysia 6 tahun yang lalu. Dengan kata lain, Indonesia baru mau establish. Kondisi ini 5 tahun ke depan, solar panel di Indonesia sudah menjadi familiar. Fenomena ini menjadi peluang menggiurkan bagi pelaku usaha solar panel anak negeri.
Sampai saat ini, SKI baru memproduksi solar panel saja, tapi ke depan ada rencana mendevelop industri baterai dan inventer. Saat ini bila ada klien yang memintah pasangkan solar panel termasuk baterai, masih menggunakan baterai dari Huawei. Bila tidak ada aral melintang tahun depan akan assembling baterai di sini bekerjasama dengan produsen baterai dari China.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina
