Produk Kriya Anak Negeri Tempus di 100 Negara

Di luar negeri, produk-produk kriya Indonesia memiliki reputasi barang dengan kualitas kerajinan yang luar biasa. Misalnya  turunan kerajinan kayu, rotan, dan anyaman dari bahan sintetis mupun material alami. Hingga saat ini, produk kriya Indonesia telah menembus lebih 100 negara di dunia. 

Indonesia memilik sumber daya alam melimpah dan keanekaragaman budaya membuat produk kriya atau kerajinan mampu berkembang pesat. Kemenperin mendukung perkembangan sektor kerajinan Indonesia karena pertumbuhannya terus meningkat. Nilai ekonominya makin tinggi. Kriya dipandang mampu mendorong pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) karena keunggulan skala produksi dan kekhasan budaya negeri ini.

Subsektor ekonomi kreatif  kriya atau kerajinan asal Indonesia telah dikenal d pasar global. Di antaranya hasil kerajinan tangan  terbuat dari kayu, rotan, logam, kulit, kaca, dan keramik. Produk-produk kriya tersebut dikenal di seluruh dunia karena dibuat secara  handmade dengan menggunakan  bahan-bahan berkualitas tinggi, yang memberikan nilai tambah dan estetika yang disukai  konsumen luar negeri. 

Karya UKM Duta Craftindo Semarang/Foto: Dok. Pribadi

Kita bisa dengan mudah menemukan produk  kriya yang memiliki nilai jual tinggi. Misalkan perhiasan. Ada juga kerajinan produk mebel serta kayu. Semakin berkualitas bahan dan cara pembuatan yang sulit, maka semakin diminati sehingga menembus  pasar global dan menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, kinerja ekspor industri kriya Indonesia kian membaik pasca pandemi. Industri kerajinan merupakan salah satu sektor penting dalam industri Indonesia. Kemenperin mencatat, sepanjang 2022, nilai ekspor produk kerajinan nasional mencapai US$949 juta. Angka itu naik dibandingkan 2021 sebesar US$916 juta.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira sepakat kalau produk-produk kriya asli Indonesia bisa menghasilkan keuntungan ekonomi  cukup signifikan bagi negara. Menurut Bhima, potensi ekspor kerajinan tangan asal Indonesia bisa lebih dari Rp11 triliun-14 triliun pada 2023, sebagaimana dikutip dari hypeabis.id, pada Maret 2023

Sektor ekonomi kreatif berhasil menyumbangkan Rp1300 triliun kepada  PDB Indonesia pada tahun 2023. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengungkapkan, mudah-mudahan ini melampaui angka Rp1300 triliun dan lebih dari 22 juta lapangan kerja yang telah diciptakan. Dari jumlah sekitar 15 persen sumbangan dari subsector kriya.

Oleh karena itu, industri kerajinan di Indonesia memiliki potensi bisnis yang cukup besar, baik dari segi produksi dan pasar. Hingga kini tercatat pangsa pasar kerajinan Indonesia sekitar 2,5 persen dari pasar dunia. “Potensi pasar produk kerajinan masih sangat mungkin untuk tumbuh, dengan porsi pasar industri dalam dan luar negeri yang cukup besar, serta perkembangan industri Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya,” kata Reni dalam keterangan resminya Maret tahun lalu.

“Bisnis industri kriya terbukti bisa bertahan di tengah pandemi, karena lebih mengandalkan keterampilan dan inovasi pelakunya ketimbang modal yang besar. Semakin banyak generasi muda yang berkarya menghasilkan produk kriya yang berkelas dari sisi desain, inovasi, dan kearifan lokal, serta berpotensi tembus ke pasar ekspor dan mendongkrak perekonomian nasional,” kata Reni, pada Minggu kedua September tahun lalu.

Sementara Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKopUKM) mengandalkan model bisnis agregasi untuk mengakselerasi ekspor di sektor wastra dan kriya.”Selama dua tahun sinergi dengan berbagai pihak, kami melihat agregator punya peran yang sangat strategis dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan bisnis wastra maupun kriya di Indonesia,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam pembukaan Cerita Nusantara di Jakarta, 28/11/2023..

Produk kriya Indonesia telah menembus lebih dari 100 negara di dunia/Foto: pelakubisnis.com

Sementara Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) mengandalkan model bisnis agregasi untuk mengembangkan sektor wastra dan kriya yang dikembangkan untuk mengakselerasi ekspor dua produk tersebut. “Selama dua tahun sinergi dengan berbagai pihak, kami melihat agregator punya peran yang sangat strategis dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan bisnis wastra maupun kriya di Indonesia,” kata Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki saat membuka acara Cerita Nusantara: Unveiling the Story of Indonesia Artistry di Jakarta, 28/11.

Model bisnis agregasi, kata Menteri Teten memiliki banyak kelebihan, di mana pelaku UMKM bisa memperoleh sejumlah manfaat, yakni bisa mendapatkan transfer pengetahuan, transfer teknologi, akses pembiayaan, dukungan pengelolaan usaha, dan akses pasar yang berdampak pada penciptaan nilai baru, menghasilkan standardisasi kualitas produk, pola produksi terencana, peningkatan skala ekonomi, dan kepastian pasar.

Hingga saat ini, produk kriya Indonesia telah menembus lebih dari 100 negara di dunia. “Di luar negeri, produk-produk kriya Indonesia memiliki reputasi barang dengan kualitas kerajinan yang luar biasa, misalnya berbagai bentuk turunan kerajinan kayu, rotan, dan anyaman dari bahan sintetis mupun material alami,” kata Teten.

Sementaaa Suzana Teten Masduki mewakili Bidang Pendanaan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional), sekaligus sebagai Ketua Panitia Cerita Nusantara: Unveiling the Story of Indonesia Artistry menambahkan, dengan model bisnis agregasi dan terciptanya ekosistem yang kuat akan membantu banyak perajin tetap dapat memproduksi dan memasarkan barangnya dengan standar kualitas yang baik. Ekosistem yang kuat juga mampu memberi ruang bagi perajin untuk dapat beradaptasi mengikuti tren pasar hingga teknologi pemasaran terkini.

“Saya percaya, produk kerajinan kita memiliki kualitas yang dapat dibanggakan, terbukti dengan cukup banyaknya produk kita yang diterima di pasar global. Kita semua harus merajut rasa optimisme bahwa produk kerajinan nasional dapat bersaing baik di dalam negeri maupun di kancah internasional,” ungkap Suzana. 

Dekranas, menurut Suzana turut berperan dalam memayungi dan mengembangkan produk kerajinan serta berupaya mendorong peningkatan kehidupan pelaku usahanya, yang sebagian besar merupakan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Terlebih, kerajinan merupakan salah satu subsektor industri kreatif yang berciri khas Indonesia, memiliki kearifan lokal, dan mendukung industri pariwisata. 

“Dekranas mengemban tugas agar nilai seni budaya yang terkandung dalam wujud barang kerajinan sebagai salah satu manifestasi kepribadian dan identitas bangsa, dapat dilestarikan dan dikembangkan lebih lanjut lagi. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Dekranas sebagai mitra Pemerintah, menggali, melindungi, melestarikan, membina, dan mengembangkan seni kerajinan berbasis warisan nilai budaya bangsa untuk kesejahteraan para perajin,” kata Suzana.

Cerita Nusantara, kata Suzana, merupakan apresiasi kepada para pelaku usaha sektor kriya dan wastra yang telah menciptakan ekosistem, yang berupaya untuk terus-menerus mendongkrak kualitas usaha baik secara manajemen usaha maupun kualitas produk. 

“Dengan kolaborasi yang dilakukan antara KemenKopUKM dengan Dekranas bersama OASE-KIM, diharapkan mampu mendorong perkembangan ekosistem di bidang kerajinan menjadi lebih maju lagi. Dengan mengonsolidasi banyak pihak dalam Cerita Nusantara, sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan citra produk kerajinan hasil karya perajin, sehingga produknya dapat terus dikembangkan dan mampu bersaing di pasar lokal maupun global,” kata Suzana.[] Yuniman Taqwa