Cara Joko Widodo Membesarkan Namura Tehnik Sejahtera Hingga Tembus Tier 2 AHM

PT Namura Tehnik Sejahtera (Namura) tercatat sebagai tier 2 Astra Honda Motor (AHM)  binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)  melalui ayah angkatnya PT Nandya Karya Perkasa (NKP). Cara kerja Namura yang selalu on time dan menyanggupi produksi sesuai order membuat perusahaan milik Joko Widodo ini semakin dipercaya customer.

Masih lekat dalam ingatan Joko Widodo pada 25 tahun silam. Saat  ia mendapat kesempatan magang di Jepang pada  program  kerjasama Ketenagakerjaan Republik Indonesia dengan International Manpower Development Organization, Japan (IM Japan). Program Magang ke Jepang ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknis (hard skill) para peserta sesuai dengan kejuruan/jabatan masing-masing. Program ini dapat meningkatkan kompetensi soft skill para peserta terutama dalam hal etos kerja, kedisiplinan, tanggungjawab dan jiwa entrepreneurship.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Joko! Meskipun saat itu ia sudah bekerja di United  Tractor (UT). Menurutnya, dengan mengikuti program ini dapat meningkatkan kompetensi diri atas profesi yang selama ini digelutinya. “Basic kerja saya di bidang engineering. Selama dua tahun magang di sebuah perusahan pembuatan kapal tanker, Namura Ship Building, di bagian welding (pengelasan),” tandas Joko lulusan STM Pancasila, Surakarta, Jawa Tengah.

Joko Widodo, Direktur PT Namura Tehnik Sejahtera/Foto: pelakubisnis.com

Usai magang dari Japang pada akhir tahun 2000,  ia ditawari bekerja di beberapa perusahaan Jepang di Indonesia. Namun ia memutuskan ingin menjadi entrepreneur. Berbekal modal sebesar Rp40 juta hasil tabungannya selama magang di Jepang, Joko bersama kakaknya membuka bengkel bubut dan las dengan membeli tiga mesin, yaitu mesin bubut 1 unit, mesin milling 1 unit dan mesin las 1 unit.

Awal membangun usaha menurut Joko, tidak semudah membalik telapak tangan. Order pembuat dies maker (stamping part) atau cetakan pembuatan spare part tidak selalu ada. “Kadang-kadang ada pekerjaan, dan beberapa bulan tidak ada pekerjaan. “Dalam satu tahun mungkin dua sampai tiga bulan tidak ada pekerjaan,” kata Joko.

Omzet saat awal berdiri hanya sekitar Rp 5 juta per bulan. Nilai sebesar itu habis dibagi tiga, hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, kadang-kadang omzet  tidak sampai Rp5 juta, sehingga harus mencari usaha-usaha lain. Kalau tidak ada order terpaksa harus dagang buku-buku dan produk herbal untuk menutupi kebutuhan hidup. “Kalau sedang ada project  mungkin omzet bisa sampai Rp10 juta,” urainya serius.

Ritme membuka usaha bubut saat itu bagi Joko, merupakan proses memperteguh keyakinan bahwa “di ujung sana” pasti ada cahaya yang dapat mencerahkan kehidupan. Baginya ketika tidak ada pekerjaan tidak membuatnya patah arang. Ia sadar bahwa, proses menggapai mimpi perlu kerja keras dan sabar sampai membuahkan hasil.

“Baru tahun ketiga menggeluti usaha, mulai stabil, pekerjaan ada terus. Tahun 2004 mendapat 2 customers tetap. Bahkan selama lima tahun tambah menjadi 5 customers. Customer pertama adalah PT Metindo Era Sakti, disusul  PT Nadya Karya Perkasa (NKP),” kata Direktur PT Namura Tehnik Sejahtera, Joko Widodo kepada pelakubisnis.com, minggu pertama, Februari.

Menurut Joko, pada tahun 2005 Namura menambah 3 unit mesin stamping karena order semakin banyak. Bahkan saat itu jumlah tenaga kerja mencapai 10 karyawan. “Namura selalu on time dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga konsumen merasa puas.

Sejak tahun 2005 Namura dipercaya Metindo membantu memproduksi komponen untuk keperluan Metindo. Menyusul tahun 2006 NKP ikut mempercayai Namura untuk membantu memproduksi komponen kebutuhan perusahaan komponen otomotif milik almarhum Hadi Subroto ini, tak sekedar menjadi pembuat dies saja.

Awalnya  NKP yang berlokasi di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak jauh dari lokasi workshop Namura, sedang mencari workshop yang mempunyai kompetensi pembuatan dies maker dan komponen. “Akhirnya ketemu dengan saya. Namura dinilai bisa men-support NKP. Bahkan, Namura bisa membuat dies  yang mungkin NKP  belum pernah bikin seperti itu. Kami dari tahun 2004 sampai sekarang masih men-support NKP,” lanjut Joko.

Lebih lanjut ditambahkan, sejak Metindo dan NKP mempercayakan Namura membantu produksi kebutuhan kedua perusahaan tersebut, saat itu Namura mulai konsisten mendapat order. Bahkan, volume produksi pun terus meningkat. Pihak Metindo menanyakan berapa banyak kesanggupan Namura memproduksi  kompoten untuk Metindo. “Dari order dua perusahaan saja sudah membuat Namura  stabil. Setiap hari selalu ada produksi,” tandas Joko serius.

Joko mengakui, ketika dipercaya customer  memproduksi komponen, terlebih dahulu diberi pembelajaran dari pihak customer tentang flow-flow urutan produksi. “Alhamdulillah kami bisa mengikuti flow-flow tersebut, sehingga Namura bisa memproduksi komponen secara on time,” lanjutnya. Memang dalam proses produksi ada  schedule delivery. Hal ini didiskusikan oleh keduabelah pihak untuk menentukan berapa besar kesanggupan produksi. Sebab, alat produksi Namura saat itu masih terbatas. Dengan cara demikian, maka Namura menyanggupi untuk  memproduksi secara on time.

Setelah dipercaya NKP bantu memproduksi tahun 2006, omzet cukup besar mencapai Rp50 juta perbulan. Apalagi Namura mendapat customer baru, yaitu PT Surya Gemilang Perkasa (SGP), perusahaan pembuat dies dan memproduksi komponen. Di perusahaan itu Namura ditawari membantu memproduksi komponen. “Pada tahun itu Namura tambah investasi mesin stamping press seberat 150 ton dengan nilai investasi Rp60-an juta,” jelas Joko.

Bahkan, tahun 2007 ada penambahan customer, PT Inta sebuah perusahaan pembuat dies mempercayai Namura membuat dies. Nilai kontrak pembuatan dies bisa mencapai Rp 500 juta dalam tempo pekerjaan dua sampai tiga bulan.

Seiring perjalanan waktu, Namura terus kebanjiran order. Tahun 2008 menambah 5 unit mesin stamping bekas dan  menambah mesin milling, mesin drilling/bor. “Waktu itu ada perusahaan yang bangkut dan semua mesin dijual. Saya beli semua mesin-mesin tersebut,” tambahnya.

Joko bercerita, pada tahun 2008 bertemu dengan Ubaydillah, yang menjabat sebagai Direktur Astra Mitra Ventura (AMV). “Beliau cerita, Namura ini aneh, perusahaan lain biasanya mengajukan kredit, tapi Namura ditawari kredit justru tidak mau!,” jelas Joko mengutip pernyataan Ubaydillah saat itu. Akhirnya tahun 2009 Namura menerima tawaran kredit itu sebesar Rp 250 juta dari AMV. Nilai sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 1000 m untuk pengembangan workshop baru dan sebagian untuk membeli mesin. Dalam tempo 2 tahun kreditpun lunas.

Tahun 2022 Namura Tehnik Sejahtera baru aktif mengikuti kegiatan training YDBA/Foto: pelakubisnis.com

Dari penerimaan kredit tersebut, Namura pun menjadi mitra binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada tahun 2010. Menurut Joko, Namura mendapat  pelatihan dan pendampingan dalam menjalankan usaha. Salah satu pelatihan yang diberikan YDBA adalah pelatihan 5R, yaitu Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas. Di samping itu juga menerapkan standar  Quality Cost and Delivery (QCD).

Lebih lanjut ditambahkan, Namura beberapa kali mengikuti training-training yang diselenggarakan YDBA, di antaranya training engineering, training quality control, training PPC. “Setelah pandemi tahun 2022, Namura secara resmi terdaftar di YDBA menjadi anak asuh dari NKP,” tambah Joko. Meski pun secara tidak langsung Namura sudah lama menjadi binaan NKP. Saat itu setiap tier 1 dari AHM harus mendidik vendor-nya. Namura sebagai tier 2 AHM, secara resmi dicantumkan sebagai binaan dari tier 1, yaitu NKP.

Saat ini, menurut Joko, Namura masih dalam posisi pra-mandiri. YDBA berharap  Namura bisa menjadi UKM/IKM (Industri Kecil Menengah) mandiri. “Sebenarnya Namura ini masuk YDBA sejak tahun 2010, tapi tidak aktif. Barusan aktif tahun 2022. Makanya banyak anggota YDBA lainnya  yang nggak tahu Namura,” cerita Joko.

Sejak 2010 sampai 2012 karyawan Namura mencapai 50 orang. Kepak bisnis Namura terus berkembang. Pada tahun 2016 berhasil mendapat customer baru, yaitu PT Melko Indah, sebuah perusahaan pembuat meteran listrik. “Namura dipercaya membuat casing meteran listrik. Sampai sekarang masih kontrak dengan Melko Indah,” lanjutnya seraya menambahkan volume produksi tiap bulannya mencapai sekitar 150.000 pieces per bulan. Meski sekarang order dari Melco Indah berkurang dan karyawan Namura pun menyusut menjadi 35 karyawan.

Namura merupakan perusahaan yang  bergerak di bidang  stamping part, dies maker, inspection, IIG, fabrikasi, machining dan sharing. Beberapa perusahaan besar menjadi customer-nya.  Sebut saja PT Nandya Karya Perkasa (NKP), Krakatau Sarana Properti, Astra Visteon Indonesia, PT Pratama Mitra Mandiri Internasional, Kurnia Manunggal Sejahtera, PT Mada Wikri Tunggal, PT Metalindo Sentosa Utama, PT Danar Prasetya Transindo, PT Kontinental Sarana Perkasa dan banyak lagi lainnya.

Joko menambahkan, saat pandemi Covid-19 tahun 2020, omzet Namura sempat anjlok sekitar 40 persen. Saat itu omzet per bulan sekitar Rp 400 juta. Tapi secara perlahan omzet kembali tumbuh. Sampai akhir tahun 2023 omzet di angka Rp 1,5 milyar perbulan. Target omzet tahun 2024 ini  mencapai Rp 1,9 milyar per bulan.

Sejauh ini kapasitas produksi terpasang baru mencapai 50 persen. Artinya masih banyak slot yang dioptimalkan untuk meningkatkan produk. Kami juga ingin menjadi IKM mandiri dan mendapat sertifikat ISO 9001,” ujar Joko menutup percakapan. [] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina