Menguak Potensi Perkebunan Kopi di Lampung
Kopi Lampung terkenal punya cita rasa yang khas dan nikmat. Dengan tekstur lembut, rasa asam dan pahit yang seimbang serta aroma yang nikmat dengan sentuhan coklat dan rempah-rempah, membuat kopi Lampung digemari banyak orang. Bahkan, komoditas ini menembus pasar ekspor di sejumlah negara
Luas area perkebunan kopi rakyat di provinsi tersebut di 2020 sekitar 156.458 hektare. Sentra perkebunan kopi di provinsi ini tersebar di Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, dan Waykanan. Kabupaten Lampung Barat merupakan area penanaman kopi terluas yang mencapai 60 ribu hektare atau 34,5 persen dari luas area perkebunan kopi rakyat yang terdapat di Provinsi Lampung. Dari luas area itu sebanyak 90 persen ditanami kopi jenis robusta, sedangkan 10 persen merupakan kopi arabika.
Menurut data Kementerian Pertanian pada tahun 2020, Provinsi Lampung menempati posisi kedua sebagai sentra produksi kopi robusta terbesar di Indonesia. Kontribusinya mencapai 24,51% dari total produksi nasional. Produksi kopi robusta di Provinsi Lampung terutama berasal dari perkebunan rakyat.

Kabupaten Lampung Barat menjadi kabupaten terbesar dalam penyumbangan produksi kopi robusta di Provinsi Lampung. Produksi kopi robusta tertinggi di Provinsi Lampung terdapat di Kabupaten Lampung Barat, mencapai 52.572 ton.
Kopi robusta Lampung Barat yang terkenal itu tak asing di telinga setiap pecinta kopi di Tanah Air maupun pasar luar negeri. Dari kemasyhuran kopi Lampung, ada kisah menarik dibaliknya. Harumnya aroma kopi Lampung telah melebur bersama budaya masyarakat di Kabupaten Lampung Barat. Kopi telah menjadi sumber pendapatan utama bagi mayoritas penduduk Lampung Barat.
Kopi dan kebudayaan masyarakat Lampung Barat telah ada sejak Kerajaan Sekala Brak yang merupakan cikal bakal masyarakat Lampung Barat. Tempo dulu mayoritas warga kerajaan itu merupakan petani kopi dan menjadikan kopi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dari menjelang tidur hingga terbangun dari istirahat, masyarakat selalu berkutat dengan pengolahan serta menjaga tanaman kopi mereka di kebun, sebagaimana dikutip dari antaranews, pada 29/7/2024..
Bahkan kopi disediakan di setiap rumah, bukan hanya untuk konsumsi pribadi, namun sudah semacam ‘welcome drink’ penyambut tamu yang hadir ke kediaman masyarakat Lampung Barat sejak Kerajaan Sekala Brak.
Kawasan Lampung Barat adalah contoh perkebunan kopi terbaik dalam peningkatan produksi dan kualitas kopi di Provinsi Lampung. Kawasan ini telah dijadikan sebagai contoh perkebunan kopi terbaik di tingkat provinsi dan nasional.
Budidaya kopi di Lampung dimulai tahun 1841. Saat itu pemerintah kolonial mendatangkan sejumlah ahli pertanian dan perkebunan dari Jawa untuk memberikan pengetahuan seputar budidaya padi dan kopi kepada masyarakat. Perkebunan di Lampung saat itu menanam jenis arabika dari Jawa, disebut sebagai kopi Jawa. Sebagian lainnya menanam Liberika.
Namun demikian pada tahun 1910, ketika terjadi infeksi terhadap varietas arabika dan liberika, kopi robusta diperkenalkan di Lampung sebagai penggantinya. Kini, usaha pertanian kopi di Lampung didominasi oleh usaha tanaman kopi perorangan yaitu mencapai 176.976 rumah tangga.
Proporsi rumah tangga usaha pertanian (RTUP) tanaman kopi cukup besar yaitu mencapai 31,18 persen dari seluruh rumah tangga usaha pertanian sektor perkebunan. Jika dilihat dari jumlah usahanya, usaha pertanian perorangan (UTP) tanaman kopi di Lampung mencapai 182.749 unit usaha. Sementara jumlah usaha pertanian lainnya UTL ada 21 unit usaha, sedangkan usaha pertanian berbadan hukum (UPB) tanaman kopi di Lampung tidak ditemui.

Sedangkan merek-merek kopi Lampung sendiri ada banyak. Pemprov Lampung sedikitnya memilih top 10 brand kopi bubuk robusta asli Lampung pada tahun 2022. Kesepuluh merek kopi asli Lampung yang punya rasa dan kualitas yang terbaik, yakni Koptan, Mowning, Tugu Liwa, Naire, Kopi 49, De Lampoeng Coffee, Blikopi, DR. Koffie, Ratu Luwak, dan Lambarco.
Merek Kopi Bubuk Sinar Baru Cap Bola Dunia, merupakan brand kopi Lampung kemasan tertua yang masih bertahan sejak tahun 1917. Kopi ini pula yang menjadi kebanggaan masyarakat lokal.
Selain itu, merek-merek lain seperti Kopi Robusta Semut, Kopi Lanang, Kopi Bubuk Cap Jempol Unggul, hingga EL’S Coffee juga menjadi kopi Lampung yang banyak digemari.
Sementara ekspor kopi memperkuat neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung. Pada tahun 2024, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung tercatat surplus 4,16 miliar USD atau meningkat 29,24% dari tahun sebelumnya. Hal tersebut didukung peningkatan ekspor sejumlah komoditas unggulan Lampung, terutama kopi robusta. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, total ekspor kopi Provinsi Lampung sepanjang tahun 2024 mencapai 10.597 ribu ton atau senilai sekitar 1 miliar USD.
Negara-negara penerima ekspor kopi robusta Lampung mencakup Armenia, Belgia, Bulgaria, Georgia, Jerman, Aljazair, Republik Ceko, Mesir, India, Italia, Jepang, Yunani, Hong Kong, Malaysia, Maroko, Portugal, Rusia, Afrika Selatan, Rumania, Iran, Amerika Serikat, Singapura, Swiss, Inggris, dan Swedia.
Lonjakan harga akibat penurunan produksi global menggerek kenaikan nilai ekspor kopi. Meski pertumbuhan nilai ekspor kopi Lampung pada tahun 2024 mencapai 124,82% (c-t-c), namun secara volume ekspor kopi tercatat mengalami kontraksi sebesar 43,97% (c-t-c). Hal ini tidak terlepas dari perkembangan harga kopi internasional yang mengalami lojakan cukup tinggi, khusunya Kopi Robusta yang mencapai level harga tertinggi dalam setidaknya 47 tahun terakhir, sebagaimana dikutip dari lampost.com, pada 17/2/2025.
Merujuk World Bank Commodities Price Data (Februari 2024), rata-rata harga kopi robusta di pasar internasional sepanjang tahun 2024 mencapai 4,41 USD/kg atau meningkat 68% dari tahun sebelumnya. Peningkatan harga varietas yang mendominasi lebih dari 90% ekspor kopi Lampung tersebut terutama didorong oleh tingginya permintaan di tengah penurunan produksi akibat gangguan cuaca ekstrim yang melanda dua produsen kopi terbesar dunia, Brazil dan Vietnam.
Memasuki tahun 2025, harga kopi dunia kembali menunjukkan kenaikan didorong oleh sentimen bullish akibat prospek panen yang lebih rendah di Brazil. The National Supply Company (CONAB) memperkirakan produksi kopi Brasil pada 2025/2026 akan mengalami penurunan sebesar 4,4% terutama dipengaruhi tingginya variasi suhu dan curah hujan.
Meskipun produksi kopi robusta Vietnam mulai pulih seiring kondisi cuaca yang lebih kondusif, namun tekanan harga arabika akibat penurunan produksi Brazil berpotensi mempertahankan harga pada level yang tinggi pada 2025.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, msih dari sumber lamppost.co memberikan dukungan peningkatan kualitas produksi kopi UMKM Provinsi Lampung, diantaranya melalui fasilitasi cupping score, kurasi dan promosi perdagangan ke pasar global. Di samping itu, program on boarding UMKM digital juga dilakukan guna meningkatkan pemahaman pelaku UMKM mengenai pemanfaatan digitalisasi dalam kegiatan usaha, mulai dari pencatatan keuangan melalui platform Sikepang sampai pemasaran digital.[] Yuniman Taqwa
