Strategi Akselerasi Bluebird Mengembangkan Bisnis Transportasi Berkelanjutan

Arus mobilitas akan selalu menjadi kebutuhan dasar, terutama sebagai penggerak utama roda ekonomi. Bagaimana Kiat Bluebird menangkap peluang bisnis transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan?

Kinerja PT Blue Bird Tbk 3 tahun berturut-turut mengalami pertumbuhan laba bersih 2 digit. Tahun 2024 misalnya, mencatat pendapatan sekitar Rp5 triliun dengan laba Rp585 miliar. Sementara pada kuartal I di 2025 ini menunjukkan pertumbuhan positif. Pendapatan perusahaan mencapai Rp 1,3 triliun pada kuartal I.

Menutup semester pertama tahun 2025, Bluebird mencapai kinerja yang konsisten sebagai cermin  ketangguhan bisnis. Perusahaan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp2,67 triliun, tumbuh sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih meningkat 27,4% menjadi Rp339,1 miliar, sementara EBITDA tumbuh 21% sebesar Rp671,9 miliar.

Adrianto Djokosoetono, Direktur Utama Bluebird (kiri) : “Kami berhasil memperluas jangkauan inisiatif keberlanjutan yang berdampak positif di bawah pilar BlueSky, BlueLife, dan BlueCorps,”/Foto: bluebirdgroup.com 

Menurut Adrianto Djokosoetono , Direktur Utama PT Blue Bird Tbk (Bluebird), pertumbuhan ini turut ditopang oleh kinerja positif di kuartal II 2025. Selama tiga bulan terakhir, pendapatan Bluebird tercatat tumbuh 13,3%, sementara laba bersih dan EBITDA masing-masing meningkat 15,6% dan 17,7% dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya.

Bila lihat pencapaian di Q2-2025, trennya menunjukkan indikator positif dan optimis tetap bertumbuh hingga akhir tahun. “Kami  percaya mobilitas akan selalu menjadi kebutuhan dasar, terutama sebagai penggerak utama roda ekonomi. Kami menargetkan tahun ini tetap menorehkan pertumbuhan dua digit dan optimis bisa lebih baik dibanding tahun 2024,” ujar Adrianto kepada pelakubisnis.com, pada pada 30 Juli lalu.

Pertumbuhan pendapatan di kuartal II dibandingkan periode yang sama dengan tahun lalu  terlihat merata di seluruh lini layanan. Segmen taksi mencatatkan pertumbuhan 11,7%, sementara non-taksi—meliputi sewa mobil dan bus, shuttle, logistik, jual beli dan maintenance kendaraan, serta lelang—mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 17,1%. Kontribusi dua segmen ini terbagi menjadi 69% dari layanan taksi dan 31% dari non-taksi, menunjukkan portofolio usaha yang semakin terdiversifikasi secara sehat.

Kinerja ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi layanan dan inovasi teknologi yang dilakukan Perseroan memberikan hasil yang konsisten. Hingga kuartal kedua  2025, jumlah armada Bluebird juga terus bertambah dan kini telah mencapai lebih dari 24.500 unit, memperkuat layanan di berbagai kota.

Adrianto yang akrab dipanggi Andre, menyampaikan bahwa pencapaian ini mencerminkan efektivitas strategi perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika industri.

“Kami menyadari bahwa menjaga relevansi di industri mobilitas tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Karena itu, kami terus mendorong efisiensi, memperkuat transformasi digital, dan memperluas layanan berbasis kebutuhan pelanggan, menjangkau berbagai kanal, produk, dan sistem pembayaran,” ujar Andre.

Pasalnya, di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat, Bluebird terus menjaga kepercayaan pelanggan melalui pendekatan yang adaptif dan berbasis relevansi. Transformasi yang dilakukan Bluebird menjadi perusahaan Mobility as A Service (MaAS) bisa dikatakan efektif karena memperluas cakupan layanan selain taksi, tapi juga shuttle, bus, sewa kendaraan, logistik, hingga solusi korporasi.

Hal ini membuka jalan untuk menarik segmen pelanggan baru yang membutuhkan solusi mobilitas menyeluruh. Upaya ini sejalan dengan transformasi digital yang sudah Bluebird lakukan melalui strategi multi product, multi channel dan  multi payment  (3M).

Multi-Channel, misalnya, kemudahan aksesibilitas melalui integrasi channel pemesanan mulai dari street hail, aplikasi MyBluebird,kerja sama dengan super apps, aplikasi perbankan, dan OTA.  Sedangkan Multi-Payment:adalahkemudahan transaksi dimana Blubird menyediakan berbagai opsi pembayaran mulai dari cash, e-wallet, kartu debit/kredit, hingga QRIS yang semuanya didukung dengan fitur EZPay bagi pelanggan street hail. Terakhir Multi-Product yang menghadirkan beragam solusi mobilitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, mulai dari taksi, sewa kendaraan dan bus, shuttle dan bus AKAP, solusi mobilitas korporasi, hingga car ownership and maintenance services.

Capaian kinerja ini turut didorong oleh berbagai inisiatif strategis yang dijalankan perusahaan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat. Penggunaan fitur fixed price di aplikasi Bluebird selama semester I 2025 meningkat lebih dari 3 kali lipat secara tahunan, mencerminkan relevansi layanan yang semakin sesuai dengan preferensi pelanggan akan kejelasan tarif dan kenyamanan.

Sedangkan di segmen shuttle, Cititrans terus berkembang melalui ekspansi rute ke sejumlah kota strategis seperti Jakarta-Tegal, Bandara Juanda-Solo, Bogor-Bandung, Magelang-Semarang, dan Magelang-Jogja. Bluebird juga memperluas perannya sebagai operator dalam kolaborasi bersama Transjakarta, mendukung upaya pemerintah Jakarta dalam menghadirkan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan andal.

Sebagai bagian dari ekspansi layanan antar kota, Bluebird memperkenalkan Cititrans Busline/Foto: bluebirdgroup.com

Cititrans telah lama dikenal sebagai pionir dalam layanan executive shuttle point-to-point yang mengutamakan kenyamanan dan keandalan. Bluebird mengembangkan layanan ini secara berkelanjutan dengan menekankan pada diferensiasi kualitas layanan dan konsistensi operasional.

“Sebagai bagian dari ekspansi layanan antar kota, Bluebird memperkenalkan Cititrans Busline, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan perjalanan jarak jauh dengan standar baru dalam kenyamanan, setara dengan layanan penerbangan,” jelas Andre.

Lebih lanjut ditambahkan, Busline hadir dengan dua tipe layanan utama, yaitu Suite Class, menawarkan ruang kabin pribadi yang mengadopsi gaya business class dalam penerbangan dan Super Executive Class, menghadirkan konfigurasi kursi yang lebih luas dengan extra legroom.

Andre menambahkan, seluruh armada Busline dirancang dengan memperhatikan detail keselamatan dan pengalaman pelanggan, mulai dari sistem GPS real-time, kabin yang terawat, hingga protokol layanan pelanggan yang terintegrasi dari pemesanan, boarding, hingga tiba di tujuan. “Cititrans Busline telah beroperasi di tujuh rute utama antar kota besar di Indonesia. Ke depannya, Bluebird akan terus mengembangkan jaringan dan kualitas layanan ini sejalan dengan kebutuhan pelanggan serta transformasi industri mobilitas,” urainya.

Sementara untuk mengatasi kelemahan tingginya biaya operasional, kurangnya adaptasi teknologi, dan keterbatasan jangkauan geografis, kata Andre, dilakukan transformasi teknologi, kolaborasi, dan diversifikasi layanan menjadi langkah yang lakukan untuk mengatasi hal tersebut.

Transformasi Teknologi meliputi  Pertama, optimalisasi rute, pengurangan idle time, dan integrasi armada berbasis teknologi untuk menghemat bahan bakar dan menekan biaya operasional. Kedua, penguatan infrastruktur teknologi seperti pemanfaatan Big Data dan AI untuk prediksi permintaan, pemetaan trafik, serta perencanaan operasional yang lebih presisi.

“Kami berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendukung layanan BRT di Bandung, Medan, dan IKN dimana Bluebird berperan sebagai operator. Kami juga memperkuat kehadiran digital melalui kerja sama dengan berbagai platform transportasi dan kanal pemesanan online,” tambah Andre seraya menambahkan diversifikasi layanan termasuk shuttle, logistik, dan rental, juga menjadi bagian dari strategi agar bisa menjangkau lebih banyak segmen pasar.

Menurut Andre, adaptasi teknologi dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya untuk memudahkan pelanggan, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung agenda keberlanjutan. Bluebird saat ini tengah mengembangkan sistem berbasis AI yang berfokus pada penguatan human connection.

Sistem AI ini, tambah Andre,  ditujukan untuk mendukung mobilitas berkelanjutan, terutama dalam penentuan rute terbaik dan alokasi armada secara real time. Rute yang lebih efisien berdampak langsung pada efisiensi bahan bakar, otomatis emisi juga bisa ditekan. Dari sisi konsumen, AI juga memungkinkan penerapan fitur seperti Fixed Price yang mengoptimalkan penentuan tarif berdasarkan jarak dan waktu tempuh, memberikan transparansi sekaligus kepastian harga bagi pelanggan.

“Sistem ini memungkinkan peningkatan akurasi penjemputan, efisiensi waktu, serta analisa kebutuhan pelanggan secara real time. Kami juga terbuka untuk kolaborasi melalui sistem Open API, yang memungkinkan integrasi dengan berbagai platform mitra,” tambahnya lanjut.

Andre menambahkan,  Bluebird terus fokus pada efisiensi operasional, penguatan layanan berbasis teknologi, serta perluasan jangkauan yang relevan sesuai kebutuhan pelanggan. Itu sebabnya, inovasi berbasis teknologi terus ditingkatkan, baik dari sisi pengalaman pelanggan maupun pengelolaan armada, untuk mendorong produktivitas dan loyalitas pengguna.

Sementara portofolio layanan diperluas secara agresif, melalui pendekatan Multi-Product, terutama di sektor non-taksi yang kini menjadi sumber pertumbuhan baru. “Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, kami juga memperkuat kemitraan strategis dan kanal distribusi digital sesuai dengan strategi Multi-Channel, yang relevan dengan perilaku mobilitas masyarakat saat ini,” ungkapnya.

Sementara seiring dengan  komitmen menjalankan bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, Bluebird  melalui tiga pilar utama. Pertama, BlueSky, yaitu Fokus pada pelestarian lingkungan, dengan target pengurangan emisi karbon sebesar 50% di tahun 2030.  Hal ini ditempuh melalui ekspansi armada listrik (EV), adopsi kendaraan berbahan bakar gas (CNG), peremajaan armada, pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya, hingga program tanam pohon kolektif dan implementasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Kedua BlueLife, yaitu fokus pada kesejahteraan pengemudi, karyawan, dan keluarga mereka. Mulai dari program beasiswa untuk anak pengemudi, pelatihan keterampilan untuk istri pengemudi melalui Kartini Bluebird, hingga pengembangan kompetensi karyawan. “Kami percaya bahwa saat orang-orang di dalam perusahaan merasa aman, dihargai, dan berkembang, maka mereka akan lebih produktif—dan ini pada akhirnya akan berdampak langsung pada kualitas layanan serta kinerja bisnis,” jelas Andre.

Ketiga, BlueCorps, yaitu komitmen Blue bird terhadap tata kelola yang baik, transparansi, dan kepatuhan.. Bluebird terus mempertahankan standar tinggi dalam laporan keberlanjutan dan pelaporan tahunan, serta menerima berbagai penghargaan atas praktik bisnis yang bertanggung jawab. Melalui pendekatan holistik ini, Bluebird ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tapi juga memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan seluruh ekosistem perusahaan.

Sampai saat ini Bluebird masih menjadi konstituen Indeks SRI-KEHATI selama dua tahun berturut-turut, menjadi bukti komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. Indeks ini menilai perusahaan-perusahaan publik di sektor serupa yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan, dari aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola. Kehadiran Bluebird dalam indeks ini menjadi bukti bahwa prinsip keberlanjutan telah tertanam dalam strategi bisnis dan operasional perusahaan.

“Kami ingin membangun perusahaan mobilitas yang tak hanya bisa diandalkan dari sisi layanan, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Fokus kami tetap sama: bertumbuh secara berkelanjutan, sambil menciptakan nilai tambah bagi seluruh ekosistem kami,” lanjut Andre.[] Siti Ruslina