Cara UMKM YDBA Sarianti Nur Kembangkan Usaha Abon Kelinci
Kurun waktu 2 tahun omzet penjualan Kedai Arya naik 150 persen setelah perusahaan mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 40% dengan menurunkan biaya produksi namun produktivitas meningkat. Sang owner, Sarianti Nur, tak lagi ragu mengambil niche market abon kelinci yang rendah gula, rendah lemak dan rendah kolesterol namun tinggi protein.
Berawal dari keisengannya mengisi waktu ketika anak keduanya mulai besar, Sarianti Nur sering membuat cemilan dan membuat kue-kue kering (kuker) seperti nastar, kue kacang, kastangle dan lain-lain. Mulai 2011 persisnya ia mulai menerima pesanan kuker di setiap momen menyambut Hari Raya Lebaran dan Hari Raya Natal. Kebetulan ada temannya yang bekerja di kantor-kantor dinas bersedia menjadi reseller hingga akhirnya tahun 2019 menjadi UMKM binaan LPB Pama Banoa Etam (LPB Pama) yang berkolaborasi dengan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Diakui Sarianti, sebenarnya justru suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam UMKM binaan LPB Pama di sektor Peternakan. Kebetulan suaminya berternak kelinci. Ketika itu sang suami masih aktif menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu kantor dinas di Sangatta, Kalimantan Timur. “Waktu itu muncul covid. Banyak PNS dirumahkan. Tercetuslah ide membuat produk olahan dari daging kelinci setelah dari LPB Pama/ YDBA ngasih challenge bagi ibu-ibu yang suaminya ternak kelinci, dimana tantangannya membuat produk olahan dari daging kelinci. Kebetulan anak-anak di rumah suka makan abon, jadi terpikir, kenapa tidak coba buat abon kelinci saja,”kenang Sarianti seraya menyebut tantangan yang ia dan suami buat cukup ekstrim karena hingga saat ini mungkin sebagian orang yang tidak tega makan daging kelinci, yang jelas belum umum membuat abon kelinci.
Karena mendapat tantangan membuat produk turunan dari daging kelinci, mulailah Sarianti mencari tahu apa kelebihan dari daging kelinci, mulai dari kandungannya, manfaat dan rasanya. Dari searching di internet ditemukan daging kelinci itu kadar lemaknya rendah, rendah karbohidrat, rendah gula, rendah kolesterol namun tinggi protein dibandingkan daging ayam atau sapi.
Bagaimana cara ia memproduksi abon? Dari mana ilmunya? Rupanya sebelum mulai membuat abon kelinci, LPB Pama/YDBA sudah memberikan pelatihan tentang cara membuat produk olahan dari daging kelinci, salah satunya membuat abon daging kelinci. Dari resep yang diberikan saat pelatihan kemudian ia modifikasi dengan melakukan improvisasi setelah beberapa kali melakukan testimoni. Memang resep yang diberikan saat pelatihan hasilnya agak lebih manis, maka resep tersebut ia coba kembalikan lagi kepada kelebihan awal dari daging kelinci bahwa daging kelinci rendah gula. “Kalau orang yang punya penyakit diabetes tidak bisa yang kadar gulanya terlalu tinggi. Kalau kita tambahkan gula, akan sia-sia kandungan nutrisi dari daging kelinci. Jadi saya cari bagaimana abon ini rasanya lebih gurih tidak terlalu manis,”demikian Sarianti berpikir.
Ada sekitar 10 ekor kelinci dijadikan tester dan diberikan kepada beberapa orang teman untuk mencicip. Ada yang menyebut terlalu banyak bumbu, daging kelincinya justru tak kelihatan. Sampai ketemu rasa yang benar-benar pas setelah menghabiskan 10 ekor kelinci.
Kurang lebih 6 bulan melakukan penetrasi pasar, baru terasa adanya kenaikan penjualan. Di enam bulan pertama melakukan penetrasi pasar, ia tidak memikirkan untung. Yang penting orang tahu dulu, orang mengenal dulu abon kelinci yang diberi brand Kedai Arya. Nama brand ini juga memberi arti nama pasutri ini. Kata ‘Arya’ merupakan sinergi dari nama Sarianti dan Ariawansyah. Sedangkan kata ‘Kedai’ merupakan kata yang menginsyaratkan doa dari Sarianti yang selama ini bermimpi ingin memiliki tempat usaha dimana berbagai jenis makanan tersedia.
Setelah 6 bulan berjalan orang mulai mendengar nama Abon Kelinci Kedai Arya dari Desa Sangatta Selatan, Kutai Timur, dan sampai ke telinga pihak Dinas UMKM dan Koperasi, Kalimantan Timur. Mereka penasaran dengan rasa Abon Kelinci Kedai Arya.
Pada saat memulai usaha abon kelinci, diakui Sarianti, sebenarnya sudah ada usaha sejenis di beberapa kota seperti di Kota Malang, Jawa Timur sudah ada produsen abon kelinci. Tapi menurutnya saat ini sudah berhenti produksi. Menurutnya boleh jadi karena kendala kekosongan bahan baku daging kelinci.
Bicara bisnis kuliner, tak lepas dari rasa sebagai faktor paling utama langgeng suatu usaha di bisnis kuliner. Sedangkan abon kelinci Kedai Arya mengutamakan sisi nutrisinya ketimbang rasa yang mantab. Menanggapi hal ini Sarianti tidak merasa terganggu dengan difrensiasi yang dimiliki produknya. Karena dari awal ia sudah membangun positioning sebagai makanan yang rendah gula, rendah lemak dan rendah karbohidrat. Ia pun langsung membidik pasar di usia 30-40 tahun yang mulai konsern dengan resiko penyakit diabetes. Itu yang coba di-highlight Sarianti.
Dalam story telling di produknya sudah disebutkan sesuai dengan target pasar yang dituju. “Orang yang takut-takut makan daging karena lemak tinggi, akan memilih daging kelinci. Dibandingkan dengan ayam pun kadar lemak dan gula masih rendah kelinci. Tapi jujur, untuk segmen anak-anak kami juga sudah ada varian abon ayam, ikan tuna, abon gabus dan ada juga abon lele yang kulitnya kami jadikan kriuk dicampur dengan abon daging lele. Untuk anak sekolah memang lebih suka yang ada rasa manis ,”tutur Sarianti seraya menyebutkan rasa daging kelinci seperti ayam kampung tapi lunak dan tidak amis. Yang tak kalah penting, Sarianti berusaha menonjolkan kekhasan dari aroma daging kelinci yang ternyata disukai konsumen.

Wanita 50 tahun ini mengungkapkan, LPB Pama/YDBA banyak andil dalam keberlangsungan usaha abon kelincinya. Dari yang tadinya tidak tahu cara membuat abon kelinci, menjadi bisa. Lalu diajarkan juga soal strategi pricing dengan belajar soal HTE (harga tertinggi eceran) dan HPP (harga pokok penjualan). Dimana ia harus bisa menghitung semisal, dari 3 sampai 5 ekor kelinci (tergantung berat bersih) bisa jadi ½ kilogram abon kelinci. Dihitung berapa harga jual setelah dipotong biaya produksi dan lain-lain. Berapa persen keuntungan yang diperoleh. Lalu ia juga jadi paham dalam hal membuat perijinan usaha. Mulai dari PIRT dimana ia harus bisa memisahkan antara dapur keluarga dengan dapur usaha dan siap diperiksa kelaikan usahanya. Ia juga sudah mengurus sertifikat halal dan sedang proses perijinan dari BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan-red).
Ia melanjutkan, peran YDBA melalui LPB Pama Banua Etam cukup besar dalam perkembangan usaha Kedai Arya. Karena dari peran Yayasan Astra melalui YDBA dan LPB Pama ini ia mendapatkan berbagai pelatihan manajerial dan teknis. Mulai dari pencatatan keuangan, penerapan SoP (Standard opeating Procedure-red) , bahkan dari pelatihan yang diikuti, pihaknya mampu melakukan efisiensi di divisi operasional hingga 40% dengan menurunkan biaya produksi namun produktivitas meningkat. Di tahun 2019 itu Kedai Arya juga sudah menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP) , standar mutu yang memastikan produk lebih higienis dan berkualitas. Alhasil dalam
Komunikasi ketok tular pun terjadi. Dari LPB Pama – YDBA, nama Abon Kelinci Kedai Arya di Sangatta sudah terdengar sampai ke beberapa dinas yang akhirnya ikut mensupport kegiatan usaha Sarianti dan Ariawansyah ini. Sebut saja Dinas Peternakan di Kabupaten dan Provinsi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas UMKM dan Koperasi sampai ke Kementerian Agama yang membantu mendapatkan sertifikat halal.
Bulan November 2019 launching Abon Kelinci Kedai Arya, tapi tiba-tiba saja covid-19 datang di bulan Februari 2020. Untungnya Sarianti belum merekrut karyawan. Semua proses produksi ditangani sendiri bersama suami. Bahkan momen pandemic yang mengharuskan karyawan WFH (work from home-red), justru membuat suaminya semakin punya banyak waktu mengurus kelinci-kelincinya hingga mencapai 50 ekor. Bahkan ia sampai masuk komunitas peternak kelinci. Ini yang membuat usaha ternak Ariawansyah berkembang. Saat awal pandemic merupakan masa trial Sarianti dan suami menggodok resep abon kelinci yang benar-benar pas sesuai segmen yang dituju .
Diakui Sarianti, setelah pandemic lewat, di kisaran tahun 2021 usahanya mulai mengalami pertumbuhan bahkan tiap tahun hingga 2024 merupakan puncak omzet tertinggi Kedai Arya. Persisnya tahun 2023 dengan harga jual abon kelinci Rp40 ribu /40gram, omzet penjualan abonnya mencapai Rp50 juta per tahun dari angka sebelumnya yang rata-rata Rp20 juta per tahun. “Di tahun 2021 hingga 2024 usaha kami terus tumbuh. Tapi tahun ini daya beli mulai turun. Agustus 2025 kemarin dari Dinas Peternakan meminta supaya kami buat varian selain daging kelinci,”ungkapnya seraya menyebutkan saat ini tak hanya memproduksi abon daging kelinci, melainkan sudah membuat beberapa varian lain seperti abon ayam, abon ikan tuna, ikan gabus dan ikan lele beserta lele kriuk yang terbuat dari kulit ikan lele. “Sesuai permintaan pasar, sekarang kami juga mulai memproduksi abon daging sapi,”tambahnya.
Tak pelak, hingga saat ini distribusi produknya sudah sampai ke Bandara Balikpapan, Bandara Samarinda, Banjarmasin, Hotel Victory, toko oleh-oleh dan masuk Gallery UMKM Binaan Pama Okusa (Olahan Kuliner Sangatta) yang diinisiasi PT Pamapersada Nusantara dan PT Pama Banua Etam (PBE) . Selain itu, produk Abon Kelinci Kedai Arya sudah dua tahun berturut-turut (2023-2024) ikut pameran bersama Yayasan Astra – YDBA. “Produk kami pernah dibawa ke Trade Expo Indonesia dan 2 kali menjadi peserta pameran GIIAS di tahun 2023 dan 2024, bahkan pernah dibawa umroh,”kata Sarianti.
Tak pernah terpikir oleh ibu dari 3 orang anak ini bila ia mampu membangun usaha abon daging kelinci bahkan berkembang ke varian produk abon yang lain. Bahkan di tahun 2023 mampu mencetak kenaikan omzet hingga 150% dalam dua tahun (2021-2023). Namun demikian diakui Sarianti, kontribusi penjualan terbesar 60% masih dari abon daging kelinci, selebihnya nomor dua abon tuna kontribusi penjualan terbesar dan selebihnya varian abon ikan gabus, abon lele dan kriuknya serta abon ayam dan abon sapi.
Kini, sejak bergabung dengan Yayasan Astra-YDBA, diakui Sarianti, banyak manfaat yang ia peroleh dalam proses membesarkan usaha, baik dari sisi teknis maupun pelatihan manajerial. “Dulu kami tidak memiliki standard operationg procedure dan pencatatan yang baik. Tapi sejak ikut pelatihan dengan LPB Pama dan YDBA, pengelolaan usaha lebih teratur,”ungkap Sarianti.
Selain pelatihan yang mencakup manajemen usaha, pencatatan keuangan, penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) dalam lingkungan produksi menjadi SoP utama bagi setiap binaan Yayasan Astra – YDBA. Terlihat sederhana namun imbas sangat berguna bagi lingkungan kerja yang lebih efisien, efektif dan aman.
Sederet prestasi diraih Sarianti Nur dalam periode tahun 2021-2024. Dimana tahun 2025 Kedai Arya memperoleh predikat UMKM Mandiri binaan LPB Pama Banoa Etam, Sangatta, Kalimantan Timur. Selain itu Yayasan Astra – YDBA juga memberikan penghargaan kepada Sarianti Nur sebagai UKM Mandiri Kerajinan/Kuliner Terbaik 2023. Lalu, di bulan Oktober 2023, lewat Kedai Arya, ia mendapat penghargaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Timur sebagai UKM Lokus Penerapan Penyusunan Dokumen Sistem Manajemen Mutu GMP (Good Manufacturing Practices-red).
Pun di akhir tahun 2024 lalu Sarianti Nur kembali mendapat penghargaan dari ajang Uji Kompetensi UMKM Mandiri binaan LPB Pama Banoa Etam dengan predikat Kompeten dan diakui setelah melalui proses wawancara dan praktek mengajar. [] Siti Ruslina
