Kerja Cerdas Sri  Mulyati Besarkan Vika Laundry Kiloan Cileungsi

Di tangan Sri Mulyati , dalam waktu 3 tahun  Vika Laundry berkembang membuka 3 outlet laundry, sampai punya toko kue dan kantin. Namun strategi bisnis ia ubah. Cukup mengembangkan 1 outlet namun omzetnya justru tambah melejit. Bahkan kini ia memiliki unit usaha jasa  Konsultan Manajamen Laundry yang jadi sumbu rejeki baru.  Ia berharap tahun ini mampu mencetak omzet Rp1,3 milyar , tumbuh dari omzet tahun lalu yang hampir mencapai Rp 1 milyar per tahun.

Tahun 2012 Sri Mulyati resign sebagai karyawan di sebuah perusahaan farmasi di Bandung. Kemudian ia berpikir untuk pindah kuadran mencoba peruntungan mengelola usaha sendiri.  Seorang teman yang membuka jasa laundry menjadi inspirasinya membuka bisnis yang sama. Ia pun berdiskusi  dengan suami dan mulai belajar bisnis laundry sambil melakukan survey kecil-kecilan.  Saat itu ia melihat belum ada yang membangun usaha laundry kiloan di wilayah Cileungsi dan sekitarnya. “Akhir 2012 saya  resign dari pekerjaan sebagai sales perusahaan farmasi di Bandung. Habis itu saya bingung tidak ada kegiatan.  saya pindah rumah ke sini (Harvest City Cileungsi-red),”Sri , Owner Vika Laundry membuka percakapan dengan pelakubisnis.com.

Ketika ia pindah rumah ke Cileungsi, ia  melihat belum ada outlet laundry di wilayah  perkampungan yang berbatasan dengan perumahan baru, yakni  Harvest City. Ada satu  outlet laundry di perumahan tersebut namun tak lama outlet tersebut tutup.  Saat itu momen paling pas buat Sri membesarkan  usaha laundry.  

Dengan modal Rp40 juta dari suaminya, ia mulai membangun Vika Laundry. Nama Vika diambil dari nama panggilan putri bungsunya.  Outlet perdana Vika Laundry dibuka pada 9 September 2012. “Tujuan utama kami membuka usaha juga karena untuk Vika, karena dia anak special, usaha ini untuk bantu biaya sekolah dia,”ujar Sri mengungkap alasan penggunaan nama putri bungsunya. 

Sri (tengah) Bersama karyawan Vika Laundry/Foto: Dok. Pribadi

Lebih lanjut ia menambahkan, dengan  modal Rp40 juta, ia menyewa 2 ruko  Rp18 juta, sisanya  membeli 2 mesin cuci, 1 setrika uap dan mesin pengering yang saat itu harganya Rp12 juta,  harga yang tidak murah buatnya. “Semuanya saya beli satu-satu. Mesin cuci juga 1 mesin cuci kecil,  1 mesin cuci besar yang akhirnya saya harus kredit karena dari uang modal  tidak cukup,”ungkap Sri awal membangun usaha.

Rupanya ketika Vika Laundry launching, tak berapa lama satu-satunya outlet laundry yang berada di perumahan Harvest City ditutup. Tak pelak,  pelanggan outlet laundry tersebut pun pindah ke Vika Laundry. Dengan upaya promo lewat social media, nama Vika Laundry mulai dilirik masyarakat para pengguna jasa laundry.  “Karena saat itu di sini belum ada laundry, karena di sana juga tutup, jadi lari ke sini semua,”aku wanita kelahiran 18 September 1980 ini.

Saat itu suaminya  menargetkan omzet  50 kg sehari dengan pertimbangan jumlah modal yang sudah keluar dengan menggaji 2 karyawan dan  harus dihitung kapan break event point (BEP) .  Sang suami tidak turun tangan dalam hal operasional karena  suaminya memiliki usaha sendiri yang bergerak di bidang manufaktur. 

Kondisi saat itu dari 2 ruko, hanya 1 yang digunakan untuk usaha laundry, 1 ruko lagi digunakan membuka usaha toko kue.  “Alhamdulillah 1 tahun pertama Vika Laundry buka, saya sudah bisa buka 1 cabang lagi di Metland Cileungsi di tahun kedua, dari hasil usaha outlet pertama. Tahun ketiga buka lagi di Perumahan Griya Bukit Jaya, Gunung Puteri , (Kabupaten Bogor-red),”jelas ibu dua anak ini seraya menambahkan, di tahun ketiga membuka bisnis laundry, ia sudah bisa membuka 3 gerai outlet laundry bahkan sampai membuka toko dan  kantin hingga melayani orderan  katering.

Namun dua usaha terakhir terpaksa ditutup. Bukan karena sepi atau bangkrut  tapi  ia merasa kewalahan tidak kepegang. Usaha kantin itu sampai sekarang tetap jalan tapi sudah diserahkan (take over) ke salah satu karyawan kantin.

Sampai masuk era  covid  akhir 2019 yang meluluhlantahkan sendi-sendi ekonomi di tanah air. Dimana saat itu suaminya yang bekerja di perusahaan manufaktur ikut terdampak. Sementara 2 outlet di Gunung Puteri dan Metland  harusnya bisa tetap jalan karena pasar masih besar, namun karyawan-karyawannya memilih mundur dan pulang kampong karena situasi lockdown.  “Akhirnya kedua outlet saya tutup dan over kontrak,”ungkapnya.

Namun menurutnya  di masa Covid pasar  Vika Laundry hanya berkurang sedikit . Karena masih banyak orang yang perlu jasa laundry karena mereka malas mencuci . Bila sebelum covid omzet   Vika Laundry bisa mencapai Rp50-60 juta per bulan  dan subsidi silang karena memiliki 3 outlet, dimana yang fast moving akan membantu usaha yang slow moving. Diakuinya  pada masa covid tak begitu banyak berkurang juga.

Pun adanya covid merupakan milestone bagi Sri untuk belajar kembali tentang bisnisnya dimana saat itu ia mulai bergabung di Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) dan bergabung dengan beberapa komunitas bisnis laundry seperti  Himpunan Pengusaha Laundry Indonesia dan ada ASLI. “Sekarang usaha laundry berkembang sangat pesat. Kalau dulu banyak laundry rumahan biasa, sekarang sudah modern,”terang Sri yang saat ini  bekerjasama denga pondok pesantren untuk mencuci pakaian para santri.

Menggunakan strategi promosi kekinian dengan menggunakan AI dirasa Sri cukup efektif menjelaskan tentang bisnisnya/Foto: IG Vika Laundry

Kini, ia mengubah strategi bisnisnya. Tak lagi mengembangkan outlet melainkan fokus menangani 1 outlet tapi menjangkau lebih banyak pelanggan ritel maupun korporat seperti masuk ke pesantren dan masjid-masjid. “Yang tadinya omzet Rp50 juta dari 3 outlet sebelum  2019, sekarang  yang saya mau, 1 outlet  omzetnya melebihi Rp50 juta,”aku Sri yang kemudian mengembangkan layanan delivery pick-up belajar dari kondisi covid lalu dan ternyata cukup efektif diimplementasikan di masa kini.

Paska covid  banyak ilmu baru yang ia dapat untuk mengelola usaha lebih baik dan sistematis.  Membuka jaringan bisnis melalui komunitas bisnis juga menjadi jalan baginya membenahi usahanya. Ia sadar, bisnis yang ia tekuni adalah bisnis jasa yang terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia (SDM). SDM adalah hal yang paling krusial. Maka, pembenahan awal adalah menerapkan  standard operationg procedure (SoP), kedua sistem penggajian.

Bila sebelumnya diterapkan sistem gaji bulanan, kemudian ia ubah ke sistem gaji harian. Dari hasil evaluasinya, ternyata kurang efisien menggunakan sistem gaji bulanan.  Tak sedikit kasus penurunan produktifitas kerja dengan alasan sakit dan sebagainya.  Akhirnya kurang berkomitmen terhadap pekerjaan. Hak terpenuhi tapi kewajiban kurang bisa dipegang komitmennya. “Saya kasih gaji harian, kalau lembur, over time, saya kasih lebih,”ujarnya seraya memaparkan, terjun ke bisnis laundry kendala paling utama adalah ‘turn over’ karyawan. Karena sistem kerjanya mengandalkan SDM. Tak sedikit outlet laundry yang tutup karena perkara SDM.

Bagaimana ia mengatasi resistensi dari karyawan? Menurutnya harus benar-benar dipahami bahwa bisnis laundry sarat dengan pekerja yang pendidikannya tinggi. Yang mereka tahu bekerja, pulang bawa uang. Dulu turn over karyawan sangat tinggi di perusahaannya. Namun belajar dari pengalaman, akhirnya ia pahami bagaimana cara mentreatment karyawannya. Yang jelas, harus dipastikan karyawan nyaman bekerja.”Saya tuh gak bisa makan sendirian. Kalau mau makan di kantor, saya harus siap ajak mereka makan.  Sesekali saya ajak makan di restoran, setiap tahun kita jalan-jalan bareng adakan family day. Yang paling utama, jangan dipersulit ketika mereka butuh uang. Tapi ada aturannya, ada limitnya. Maksimal sebulan Rp500 ribu. Namun pastikan ada sisa uang untuk di rumah,”ungkap Sri yang selalu membayar tepat waktu gaji karyawan.   

Bicara persaingan di bisnis laundry menurutnya tak dipungkiri itu terjadi. Tapi menurutnya kehadiran pesaing bukanlah ancaman asal kita fokus dengan bisnis yang kita bangun. Ia justru menebar ilmu ke sekian banyak teman yang akhirnya mengikuti jejak Sri, ikut membuka usaha laundry.

Diakuinya pasti sedikit mengganggu karena pasti kue pasarnya termakan oleh pemain baru.”Tapi jangan takut, nanti customer akan balik lagi. Tantangan terbesar dari bisnis jasa seperti laundry ini adalah memaintain kepuasan customer.  Ada juga yang sengaja menjatuhkan kita dengan membuat review jelek di sosmed. Tapi nanti customer yang berpindah akan balik lagi kok…prinsipnya  selama orang pakai baju, dia pasti butuh jasa cucian. Jadi fokus saja di usaha kita, tak usah lihat orang lain nanti baperan,” tukas owner Vika Laundry  ini yang belakangan melakukan aktivasi brand lewat social media dengan memanfaatkan aplikasi AI (artificial intelegence-red).

Vika Laundry berkomitmen sesuai dengan layanan  yang ditawarkan. Tepat Waktu adalah nilai jual dari tempat laundry ini. Selain memberikan layanan free  Delivery Pick-Up,  Vika Laundry juga memiliki  layanan Kiloan Satuan Express,  layanan  satu hari selesai.  Selain komitmen tepat waktu, menurut Sri usaha laundry nya sejak 2019 mengaplikasikan  Smartlink (aplikasi android atau smartpinter untuk jasa penyedia aplikasi laundry-red).

Investasi aplikasi platform Smartlink ini memiliki  banyak keunggulan. Dari mulai  order masuk, pengecekan barang, urusan transaksi keuangan, sampai  sudah ada bagian yang khusus menshortier pakaian kotor yang direkam video yang memungkinkan  pihaknya lebih teliti menjaga pakaian customer. Jadi tak satu helai pun dari pakaian customer yang luput dari rekaman video. Mulai dari kasir menerima order, masuk ke mesin cuci, masuk mesin pengering, kemudian setrika, lalu proses pengemasan hingga siap dijemput atau diantar ke customer, semua proses tersebut sudah sistematis.

Yang jelas tak hanya Sri yang bisa memantau dan mengetahui proses kerja, setiap karyawan pun di handphone nya dilengkapi  aplikasi Smartlink untuk  pengecekan tugas masing-masing.  “Mulai order, mesin kasir, pengecekan semuanya kami gunakan Nota Elektronik untuk meminimalisir keamanan barang customer hingga  agar tidak muncul complain,”papar wanita  46 tahun ini yang mengakui bisnis laundry memang menggiurkan karena  profitnya bisa sampai 40-an persen bila dikerjakan sendiri.

Tak heran bila ia bisa mengembangkan sayapnya ke beberapa outlet. Pun setelah kedua outlet lainnya ditutup, dengan satu outlet saja, dengan memiliki 9 mesin cuci berkapasitas 400kg per hari, 6 pengering dan setrika uap.

Bahkan saat ini ia mulai membuka unit bisnis baru yakni, Manajemen Laundry. Dimana ia membantu pengusaha laundry yang tak sanggup mengurus usahanya. Dari unit usaha ini ia kerja sama bagi hasil dengan pemilik laundry (investor).

 Tips dari Sri, perbaiki sistem dengan SoP. Jangan sampai SoP nya tidak bagus, baju-baju orang tercampur, meminimalisir turn over karyawan dengan memberi mereka kenyamanan bekerja. Tips kedua adalah pengelolaan SDM yang baik. Dan yang ketiga adalah tingkatkan kualitas.

Vika Laundry memiliki sejumlah produk andalan seperti produk kiloan express, kemudian tak hanya menerima jasa laundry pakaian saja, di tempat ini juga memiliki produk jasa laundry tas dan sepatu, perlengkapan bayi, sofa dan kasur hingga menangani laundry pesantren dan karpet masjid. Layanan andalan delivery order pun menjadi salah satu added value bagi laju usaha Vika Laundry.

Mimpinya suatu hari dia akan lebih mengembangkan bisnis laundry dari 1 outletnya namun pasar semakin luas, lalu membesarkan unit bisnis Manajamen Laundry dan  bisa memiliki satu outlet laundry self service.  Ia berharap tahun ini mampu mencetak omzet Rp1,3 milyar , tumbuh dari omzet tahun lalu yang hampir mencapai Rp 1 milyar per tahun. []Siti Ruslina