Upaya Yanty Melianty Pertahankan MagFood Meski Turbulensi Bisnis Menerpa
Melalui bendera PT MagFood Inovasi Pangan (MagFood) Yanty Melianty mengembangkan MagFood Red Crispy, brand franchise makanan gerobakan yang sempat berkembang hingga 270 gerai di Indonesia. Seiring waktu, sistem gerobakan berubah konsep menjadi AMAZY Family Resto yang tersebar di banyak kota di Indonesia dan Malaysia. Namun di tengah debut usahanya yang terus berkembang, ia dikhianati anak buah hingga mengalami kerugian puluhan milliar rupiah.

Jam terbangnya sebagai professional di bidang marketing sudah tidak diragukan lagi. Tahun 1994, memulai karir sebagai Product Planner di American Standard. Ia juga pernah menjabat sebagai Marketing Manager PT Nestle Indonesia Tbk. Setelah itu ia bergabung di PT Mustika Ratu Tbk, lalu berlanjut ke PT Mayora Indah Tbk, hingga menjabat posisi Direktur Pemasaran di PT Tupperware Indonesia selama 6 tahun.
Dia adalah Yanty Melianty. Wanita karir yang telah sudah puluhan tahun bergelut di bidang marketing. Dan setelah keluar dari Tupperware Indonesia, ia memutuskan untuk fokus mengembangkan bisnis. Diakuinya, pengalaman panjang di beberapa perusahaan besar ini menjadi fondasi dalam membangun bisnis.
Tahun 2013 persisnya ia memutuskan memijakkan kedua kakinya fokus mengembangkan PT MagFood Inovasi Pangan (MagFood-red) yang dibangunnya sejak 2001. Mulai merintis usaha sendiri ketika kaki yang satu masih berpijak sebagai professional. Namun di awal Yanty tak terlibat langsung sehari-hari. Ia hanya menjadi investor. Sementara semua kegiatan operasional MagFood ia serahkan kepada professional. Baru setelah tak lagi di Tupperware ia mulai terjun langsung ke bisnis sendiri.
“Salah satu impian saya adalah mengembangkan lebih banyak wirausahawan Indonesia dan negara lain. Memulai perusahaan sendiri bukanlah hal mudah, bahkan lebih banyak kegagalan daripada kesuksesan. Saya terus belajar, maju, dan berkembang. Saya memiliki semangat untuk mengembangkan merek-merek Indonesia menjadi merek global, karena Indonesia adalah pasar yang besar dan memiliki banyak peluang. Saya percaya peluang-peluang ini harus menjadi bagian dari komunitas kita demi perekonomian Indonesia yang lebih baik,” ungkap Yanty Melianty, Founder & CEO PT MagFood Inovasi Pangan (MagFood).

Pengalaman di dunia marketing khususnya di industri makanan dan minuman yang membuatnya ahli dalam mengembangkan produk dan bisnis. ”Tujuan kami ingin menciptakan keunggulan kompetitif bagi UKM dan usaha mikro untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik. Awalnya kami mengembangkan produk bumbu makanan dengan konsep yang disesuaikan permintaan konsumen,” jelasnya seraya menambahkan, positioning MagFood tak hanya sebagai produsen bumbu masak saja, tapi lebih dari itu. Perusahaan ini juga memberi solusi terintegasi untuk memastikan para UMKM bisa maju dengan membuat beragam program pelatihan, seminar dan webinar.
Dari keinginan menjadi bagian dari sukses para UMKM membuat Perusahaan ini perlu memberi solusi terintegrasi dengan membangun kemitraan lewat usaha gerobakan. Tahun 2003 persisnya MagFood meluncurkan gerai gerobakan/booth fried chicken (makanan ayam goreng) dengan merek MagFood Red Crispy. Dalam kurun empat tahun berkembang hingga 270 gerai di Indonesia. “Kami kemudian mengembangkan bisnis menjadi konsep restoran dengan merek AMAZY di Indonesia & Malaysia dengan model bisnis waralaba. Saat itu ia sampai menyabet The Best Start Up dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut dari Majalah Franchise.

Pada tahun 2013, ia meluncurkan model bisnis komunitas melalui program “Industri Rumahan””. Pasar yang dibidik untuk usaha mikro dan baru di bidang bisnis makanan. Program ini menyasar target usaha kecil bakso, nugget, yogurt, makanan ringan, dan es krim dengan membangun merek “Pokapoki” pada tahun 2015.
Pendiri Komunitas Wirausaha Indonesia pada tahun 2002 ini mendidik dan memberikan informasi (jaringan) bagi usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM). Kini ia memiliki tiga lini bisnis melalui 2 bendera, PT MagFood Inovasi Pangan yang bergerak di bidang food service. Lalu di tahun 2002 Yanty mengembangkan brand MagFood Red Crispy, yaitu gerai gerobakan/booth fried chicken yang kemudian konsepnya dikembangkan lagi menjadi restoran keluarga Bernama Family Resto Amazy yang dikelola melalui bendera PT MagFood Amazy Internasional.
Ada tiga sistem yang dikelola PT MagFood Amazy Internasional yakni, own company (milik sendiri), business opportunity (BO) dan sistem franchise. Selain itu ada lini bisnis frozen food yang saat ini memiliki kurang lebih 20-an item produk. Baik MagFood Red Crispy dan Amazy Family Resto di bawah bendera PT MagFood Amazy Internasional.
Potensi Amazy cukup tinggi untuk berkembang. Bisa dipahami,selain memiliki unique selling point dari Amazy yang menggunakan 20 jenis bumbu rempah alami berkualitas, konsumsi daging ayam di tanah air masih tinggi, potensi pasar masih sangat besar dengan jumlah populasi yang mencapai 280 juta penduduk dan target pasar yang menyasar usia anak-anak, remaja hingga keluarga. Satu hal penting menurut Yanty usaha ini tetap berjalan, bahwa perusahaan bergantung kepada sistem bukan keterampilan perorangan.
Dalam hal ini MagFood Amazy Internasional sudah lebih dari 20 tahun mengelola bisnis franchise ini secara konsisten membuka peluang usaha bagi siapa saja yang mau berwirausaha untuk bermitra dengan Amazy Family Resto. Perusahaan ini menawarkan paket kemitraan dari harga Rp 6 jutaan hingga Rp 12 jutaan. Selain itu dibuka pula kesempatan menjadi reseller Amazy Frozen Food dari harga paket mulai Rp500 ribu.
Sementara PT MagFood Inovasi Pangan yang menyasar segmen B2B dan dari sisi produk memiliki bumbu tabur yang memiliki 99 varian rasa, termasuk pilihan non-MSG dan vegetarian. Ada bumbu masak, saus perendam, tepung bumbu, serta frozen food untuk pasar hotel, restoran, dan katering. Seluruh produknya sudah tersertifikasi BPOM, halal BPJPH, dan Sertifikasi HACCP (2023), serta dipasarkan secara nasional melalui distributor dan keagenan.
Tak hanya memasarkan produk, PT MagFood Inovasi Pangan juga memberikan solusi terintegrasi bagi masyarakat yang mau belajar berbisnis kuliner dengan membuka program pelatihan, seminar dan webinar. Menurut istri dari
Sejatinya buat Yanty, mengembangkan bisnis fast moving consumer goods (FMCG) bukan hal baru. Pengalamannya memasarkan produk dapat dilihat dari pencapaian yang diraih MagFood seperti Penghargaan Paramakarya 2021 yang diberikan Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin penghargaan Paramakarya 2021 dan Menteri Ketenagakerjaan RI, Indonesian Food Innovation (IFI) Award 2021: Penghargaan dari Kementerian Perindustrian RI atas inovasi produk, pemasaran, dan manajemen Perusahaan, Leadership Award (2020): Penghargaan internal untuk manajemen MagFood Group, dan beberapa penghargaan lain.

Namun siapa sangka, peraih Kartini Award 2007 dan Outstanding ASEAN Women Enterpreneur 2016 ini yang memiliki segudang pengalaman di dunia bisnis dengan sejumlah penghargaan yang diraih di sepanjang karirnya, ternyata pernah tersandung masalah penipuan? Rupanya dalam perjalanan bisnisnya, ia menghadapi kasus serius berupa fraud yang dilakukan oleh karyawan kepercayaannya. Awalnya ia tidak menyadari adanya kecurangan karena pelaku menunjukkan kinerja yang baik selama bertahun-tahun.
Karyawan tersebut adalah pasangan suami istri yang telah membangun citra religius sebagai kedok untuk menutupi tindakan manipulasi dan pencurian. Mereka menggunakan agama sebagai alat untuk mendapatkan kepercayaan dan menghindari kecurigaan.
Seiring waktu, Yanty mulai merasa ada yang tidak beres dalam operasional perusahaan. Namun, sulit untuk membuktikan kesalahan karena pelaku piawai menyembunyikan jejak dan memanipulasi sistem. Setelah bukti mulai terkumpul, karyawan tersebut akhirnya dikeluarkan dari perusahaan. Namun, dampak kerusakan yang ditimbulkan sudah sangat besar, baik secara finansial maupun moral organisasi.
Pelaku diketahui membangun “kerajaan” internal dengan merekrut dan mempromosikan orang-orang yang loyal kepadanya, sekaligus menyingkirkan karyawan yang jujur dan kompeten. Selain itu, pasutri ini juga memanipulasi data perusahaan, termasuk data keuangan, pajak, dan karyawan, sehingga memperumit proses audit dan pemulihan sistem. “Kerugian yang saya alami puluhan milliar rupiah. Saya kehilangan uang, perusahaan juga mengalami penurunan reputasi,”aku Yanty kepada pelakubisnis.com.
Persisnya tahun 2018 pelaku akhirnya berhasil dikeluarkan dari perusahaan setelah sekitar 15 tahun bekerja. Menurut Yanti, momen ini menjadi titik balik penting dalam restrukturisasi perusahaan. Perusahaan melakukan pembersihan besar-besaran, termasuk memecat puluhan karyawan yang terlibat atau terpengaruh oleh sistem yang rusak.
Di saat yang sama, muncul pandemi Covid-19 yang memperburuk kondisi perusahaan. Banyak outlet terpaksa tutup, terutama yang berbasis franchise. Untuk bertahan, Yanty menggunakan tabungan pribadi dan bahkan menjual aset seperti emas dan properti. Strategi finansial konservatif sebelumnya membantu perusahaan tetap bertahan. “Tapi pas Covid, tutup 80 gerai karena Covid. Gerai franchise tutup semua itu,”ungkap wanita 58 tahun ini.

Dalam proses pemulihan, ia mulai membangun sistem manajemen yang lebih ketat, termasuk menggunakan konsultan eksternal untuk keuangan dan HR (human resources) agar mengurangi potensi manipulasi internal. Ia menerapkan prinsip bahwa fungsi-fungsi penting seperti keuangan tidak boleh lagi sepenuhnya dipegang oleh orang dalam perusahaan untuk mencegah konflik kepentingan.
Yanty belajar bahwa kontrol, pengawasan, dan pembatasan wewenang sangat penting dalam organisasi, terutama di perusahaan skala UKM yang rentan terhadap penyalahgunaan. Sedangkan dari sisi bisnis, MagFood tetap berjalan dengan fokus utama pada layanan business to business (B2B), yaitu menyediakan bumbu untuk pelaku usaha kecil hingga menengah di sektor makanan.
Krisis internal dan pandemi tak membuat istri dari Isa Surya Nurmuhamad ini pantah arang. Ia terus melakukan kegiatan marketing dengan berbagai upaya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi zaman yang serba digital.
Model bisnisnya terintegrasi dimulai dari produksi bumbu hingga pengembangan franchise seperti gerobak makanan dan produk turunan lainnya. Pun seiring berjalan waktu ritel gerobakan sempat bertransformasi menjadi family resto.
Meskipun pernah memiliki hingga 270 outlet, jumlah tersebut langsung rontok akibat krisis internal dan pandemi. Namun, ia mampu memimpin perusahaan tetap bertahan dan terus beradaptasi.
Pengalaman tersebut, menurut Yanty, menjadi pelajaran penting baginya memahami tentang ilmu manajemen. Kehati-hatian dalam mempercayai orang, serta ketahanan dalam menghadapi krisis bisnis dan pengkhianatan internal menjadi “bayang-bayang” yang harus dihindari di kemudian hari.
“Kemana-mana dia (penghianat-red) bawa nama Amazy tapi orang yang kenal sudah tahu reputasinya,”pungkas Yanty yang terpaksa harus memangkas banyak karyawan, dari 200’an karyawan kini tinggal sekitar 37 orang dan mempertahankan 140 outlet Family Amazy Resto yang tersebar di banyak kota di Indonesia.
Diakuinya, dulu sebelum terjadinya krisis internal dan pandemi, usahanya melalui dua bendera PT MagFood Inovasi Pangan dan PT MagFood Amazy Internasional sempat di posisi PKP (Pengusaha Kena Pajak) karena omzet dari masing-masing bendera mampu menembus omzet di atas Rp5 milliar per tahun, tapi sekarang menurutnya dari 2 bendera hanya mampu meraup omzet sekitar Rp7,5 milliar per tahun.[]Siti Ruslina
