Industri Alkes Menuai Berkah di Tengah Pandemi
Industri farmasi dan alat kesehatan mampu mencatatkan kinerja gemilang di tengah pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan tingginya permintaan domestik terhadap produk dari kedua sektor strategis tersebut. Industri ini terus didorong meningkatkan kinerjanya.
“Kementerian Perindustrian bertekad mewujudkan kemandirian industri obat dan alat kesehatan di Indonesia, serta mendorong sektor ini agar dapat menjadi pemain utama dan tuan rumah di negeri sendiri,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam pada webinar bertajuk “Efek COVID-19, Urgensi Ketahanan Sektor Kesehatan”, pada minggu ketiga Desember tahun lalu.
Meski sebagai pendatang baru dalam dalam prioritas industri 4.0 pemerintah saat ini, tapi sektor farmasi dan alat kesehatan berpeluang besar melakukan akselerasi untuk masuk ke sektor industri 4.0. Boleh jadi pemerintah serius menderek sektor ini lebih cepat masuk ke situ. Buktinya Kemenperin membagikan kebijakan percepatan implementasi industri 4.0 di sektor farmasi serta kimia di acara talkshow Navigating the Journey of 4.0: Pharmaceutical and Chemical Industry, dalam rangkaian Hannover Messe 2021, beberapa waktu lalu.
Dalam perkembangannya Kemenperin menambahkan sektor industri alat kesehatan dan industri farmasi. “Masuknya industri alat kesehatan dan farmasi ke dalam prioritas pengembangan Making Indonesia 4.0 merupakan salah satu upaya Kemenperin untuk dapat segera mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan,” tambahnya.
Kemandirian Indonesia di sektor industri alat kesehatan dan farmasi merupakan hal yang penting, terlebih dalam kondisi kedaruratan kesehatan seperti saat ini. Sektor industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah Pandemi Covid-19, di saat sektor lain terdampak berat.
Namun di sisi lain, pandemi juga meniupkan angin segar bagi sebagian industri. Salah satunya yaitu industri alat kesehatan. Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses kesehatan, pandemi menjadi momentum bagi pelaku industri alat kesehatan untuk terus berinovasi sehingga dapat terus memicu pertumbuhan bisnis.
Asosiasi Produsen Alat Kesehatan (Aspaki) menyatakan bahwa pasar alat kesehatan di Indonesia sangat menggiurkan. Angkanya bisa mencapai US$2,2 juta per tahun dengan jumlah potensi tersebar di sekitar 3000 rumah sakit serta 9000 puskesmas dan klinik swasta di seluruh Indonesia, sebagaimana dikutip dari mediaindonesia.com, pada 30 Desember 2020.
Menurut laporan perusahaan konsultan Dezan Shira, nilai industri alat kesehatan di Indonesia pada 2019 diperkirakan mencapai US$2,4 miliar (Rp33,95 triliun) dengan sebagian besar produk merupakan produk impor. Nilainya bahkan meningkat saat pandemi, terlebih Kementerian Kesehatan memiliki dana sebesar Rp169,7 triliun untuk menanggulangi covid-19 sebagai bagian dari program pemulihan nasional.
Di kancah global, bisnis alat kesehatan juga mengalami tren positif. WTO (World Trade Organization) mencatat sepanjang 2020 bisnis alat kesehatan mengalami peningkatan sebesar 38% dibandingkan tahun sebelumnya. Bisnis alat kesehatan pada masa pandemi terbilang menjanjikan.
PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 468 persen pada tahun 2020. Beriringan dengan pandemi covid-19 DGNS berhasil meluncurkan produk Biomolecular yang mana berhasil membantu pemerintah dalam melakukan pemeriksaan serta skrining penyakit Covid-19dalam bentuk pemeriksaan Polymerase Chain Reactions (PCR).
DGNS berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 52 miliar pada tahun 2020 atau tumbuh 468 persen dari tahun sebelumya yang sebesar Rp 9,2 miliar per tahun. Sementara dari sisi pendapatan DGNS berhasil membukukan Rp 183 miliar atau pertumbuhan 256,8 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 51,3 miliar. “Peluncuran produk biomolecular sebagai jawaban perseroan terhadap merambaknya pandemi covid-19 di Indonesia,” kata Direktur Utama DGNS Mesha Rizal Sini, pada 23/3, sebagaimana dikutip dari liputan6.com.
Sehingga, industri alat kesehatan dan farmasi perlu didorong untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri. Kemandirian di sektor industri alat kesehatan dan farmasi diharapkan berkontribusi dalam program pengurangan angka impor hingga 35% pada akhir tahun 2022. “Inovasi dan penerapan industri 4.0 di sektor industri alat kesehatan dan farmasi dapat meningkatkan produktivitas,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, dalam suatu kesempatan.
Berdasarkan peta jalan tersebut, terdapat tujuh sektor industri yang didorong sebagai fokus prioritas pada Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, serta alat kesehatan. Ketujuh sektor ini dipilih karena dapat memberikan kontribusi sebesar 70% dari total PDB manufaktur, 65% ekspor manufaktur, dan 60% pekerja industri.
Ketika Covid-19 masuk ke tanah air, permintaan terhadap vitamin, suplemen dan obat-obatan untuk menambah kekebalan tubuh meningkat. Seiring demand yang tinggi pada sektor tersebut, pemerintah menambahkan sektor alat kesehatan dan farmasi ke dalam sektor prioritas dalam Making Indonesia 4.0.
“Sektor industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing sektor industri alat kesehatan dan farmasi dengan mendorong transformasi teknologi berbasis digital. Pemanfaatan teknologi digital dimulai dari tahapan produksi hingga distribusi kepada konsumen,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, minggu kedua April lalu.
Untuk melihat kesiapan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, termasuk di sektor-sektor tersebut, Kemenperin melakukan assessment Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0)
Sekretaris Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Arianti Anaya mengatakan pihaknya telah membuat peta jalan untuk mengakselerasi perkembangan industri farmasi dan alat kesehatan mencakup langkah yang harus dilalui, target perkembangan produk serta jangka waktu menuju industri 4.0. Target dari peta jalan tersebut adalah untuk memajukan industri yang menghasilkan produk bahan baku yang berteknologi tinggi.
“Guna mewujudkan peta jalan tersebut, dibutuhkan sinergi antara stakeholders guna meningkatkan kapabilitas dari pabrik untuk memproduksi alat kesehatan yang diperlukan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari kontan.co.id, pada 14/ 4 lalu.
Ia menambahkan, ada pertumbuhan sarana produksi alat kesehatan yang terus meningkat. Dari 193 perusahaan di tahun 2015, telah mencapai 891 perusahaan pada 2021. “Dalam lima tahun terakhir, industri alat kesehatan dalam negeri tumbuh sebanyak 698 industri atau meningkat 361,66%,” imbuh Arianti.
Menurut data Kementerian Kesehatan, sampai tahun ini terdapat 271 industri formulasi farmasi, 17 industri bahan baku farmasi,132 industri obat tradisional, 18 industri ekstraksi hasil alam. Angka tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produk farmasi dan alat kesehatan di Indonesia telah diekspor ke beberapa negara, seperti Belanda, Inggris, Polandia, Nigeria, Cambodia, Vietnam, Filipina, Myanmar, Singapura, Korea Selatan serta Amerika Serikat. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama/Shutterstock


