The Renaissance of Business Mulai Muncul

Bila brand berhasil melewati digital disruption, millennial  disruption dan pandemic disruption, maka brand-brand baru akan menggilas brand-brand lama dalam tempo singkat. Ibarat era The Renaissance of Business yang akan memunculkan inovasi baru,  entrepreneur baru. Fenomena itu kini mulai nampak…!

Inventure kembali menggelar Indonesia Forum Brand (IBF) 2021. Perhelatan yang berlangsung 2 -4 November lalu ini, membahas  local brand yang sukses dan mampu melewati tiga disruption yaitu, digital disruption, millennial  disruption dan pandemic disruption. Brand-brand tersebut telah melakukan seleksi terhadap merek-merek lokal yang ada di pasar.

Brand-brand yang  mampu melewati masa ini adalah mereka yang  memiliki kapabilitas dan  strategi digital kompotensi. Mereka yang sukses membawa brand baru ini mampu melesat dari zero from hero?  Siapa yang akan menjadi champion di masa pandemi ini?

Selama satu dekade terakhir (bahkan 5 tahun belakangan), bermunculan merek-merek nasional yang sebelumnya tidak terkenal, namun kini begitu mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sejumlah nama seperti GoTo, Traveloka, MsGlow, RANS, Sayurbox, Brodo, Never Too Lavish, Blibli, SiCepat, Warung Pintar, Ajaib Sekuritas, Bak Jago, dan Sociolla, bukan hanya kian populer. Produk-produk mereka makin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiprah perusahaan tersebut memang berbeda satu sama lain. Namun mereka menyeruak di industrinya masing-masing, mampu bersaing, bahkan tak sedikit yang menggoyang keberadaaan pemain lama yang telah mapan. Valuasinya pemain-pemain baru ini pun terus membesar dan diperkirakan kian membesar pada tahun-tahun mendatang seiring tingkat penerimaan serta penggunaan yang makin masif.

Perkembangan ini merupakan hal yang natural terjadi. “Triple disruption” telah melakukan apa yang disebut sebagai “pembilasan” terhadap mereka yang ada di panggung bisnis. Seperti halnya proses mencuci, triple disruption memilah serta memilih mana yang layak dan relevan dengan situasi sekarang: mereka yang tak lincah beradaptasi – termasuk pemain-pemain mapan sekalipun –   akan tergilas, atau tergantikan pemain-pemain baru.

Perusahaan-perusahaan yang disebutkan di atas adalah para penunggang yang berhasil berselancar di atas triple disruption. Bahkan bisa dikatakan mereka adalah “anak kandung” dari disrupsi yang muncul, terutama disrupsi digital dan milenial. Mereka hadir memanfaatkan kemajuan teknologi digital serta munculnya kaum milenial. Malah tak sedikit dari perusahaan tersebut yang memang dilahirkan serta dikembangkan oleh kaum milenial itu sendiri.

Ciri khas para penunggang yang sukses berselancar di atas triple disruptions ini adalah pola pikir dan perilaku para founder serta pengelolanya yang digital minded dan digital savvy. Mereka lincah memanfaatkan teknologi digital dan preferensi milenial. Karena lahir serta dibesarkan di tengah gonjang-ganjing disrupsi, mindset berikut DNA-nya adalah cepat mengadopsi kemajuan digital, piawai melakukan digitization dan adaptation seperti pentingnya menerapkan omnichannel dalam strategi bisnisnya. Tak heran jika mereka lebih resilien dan lebih piawai mengelola disrupsi sehingga produk serta mereknya berkembang dalam 5 tahun terakhir. Mereka berhasil membalik disrupsi dari ancaman menjadi peluang untuk tumbuh eksponensial.

“Merek-merek lama mesti waspada perkembangan ini. Mereka mesti menyadari zaman sudah berubah. Agar tetap relevan, tak terbilas perkembangan, bukan hanya mindset yang harus disetel ulang, tapi juga pendekatan terhadap strategi dan taktik bisnis,” ungkap Yuswohady, Managing Partner Inventure.

Selain konferensi, pada IBF 2021 juga diluncurkan buku berjudul The Rise of Cool+Agile Brands. Dalam buku ini dikupas sekitar 30 brand yang mampu keluar dari jerat triple disruption di atas. Brand-brand baru yang fresh dan menawarkan model bisnis baru yang inovatif ini disebut Cool+Agile Brands.

Namun demikian, dalam ajang bergengsi itu, ada 25 brand yang hadir, sebagai Indonesia Cool and Agile Brand. Inventure punya thesis utama selama 10 tahun ke depan tentang apa yang disebut pembilasan brand. Kita ambil kata ‘Genoside’ mungkin agak ngeri. 

“Ada brand lama dengan mindset dengan pengelolaan lama mulai fishing off. Dan selama 10 tahun terakhir muncul brand dengan spirit baru dengan model bisnis baru dengan mindset baru mulai menggeliat menggantikan brand-brand lama,” kata  Yuswohady seraya menambahkan, ini adalah  fenomena luar biasa dan tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia juga mulai terjadi pembilasan ini dan IBF adalah yang pertama mengungkap bagaimana fenomena ini terjadi.

Yuswohady  menambahkan, sesungguhnya ada 3 disrupsi yang kita alami selama ini yang mungkin belum familiar. Yang pertama tentu saja Digital Disruption, core dari semua disrupsi yang terjadi. Kemudian  yang kedua adalah milenial disruption.  “Saya menulis tentang ‘Millenial Kills Everything”’ disitu dipaparkan tentang 50 perusahaan dan industri yang dibunuh oleh milenial karena milenial ini preferensi dan values nya berbeda mindset nya berbeda maka  banyak organisasi-organisasi lama yang tidak hafal dengan mindset generasi milenial dan ditinggalkan milenial. Maka customer yang tidak memiliki pasar milenial,  maka dia akan mati karena dunia akan dikuasai oleh milenial. Karena gen X  dan gen baby boomers akan pensiun dan akan meninggalkan arena dan akan digantikan oleh milenial dan gen z,” urainya.

Yang disebut Millennial Disruption melakukan perubahan perilaku . Bisnis dasi menurun kata Yuswohady, secara sistematis karena milenial tidak suka pakai dasi. Jadi itu yang kita sebut Millennials Disruption.

Sedangkan disrupsi yang ketiga adalah Pandemic Disruption. Terutama industri-industri yang high touch dan high mobility, seperti tourism itu terkena disrupsi ini. Seperti hotel, mal, dan restoran semua terdisrupsi kena pandemic disruption karena buat mereka situasi ini sangat berat.

Mulai dari Digital Disruption, Millennial Disruption dan Pandemic Disruption itu terjadi secara beruntun yang memicu banyak brand yang tidak kuat menahan arus disrupsi dan dia tumbang.  Sementara brand-brand disruptif native yang kita kenal Digital Native, adalah perusahaan yang disruption native.  Yaitu perusahaan yang lahir dan berkembang di tengah goncang-ganjing disrupsi. “Itu yang saya sebut sebagai Cool and Agile Brand. Kenapa saya sebut Cool and Agile Brand? Itu karena usianya tidak lebih dari 10 tahun. Seperti Gojek, dia sekitar 10 tahun sementara yang lain baru berusia 5 atau 7 tahun dan mereka masih fresh, itu dia kenapa saya sebut ‘Cool’..” ujarnya.

Menurut Yuswohady, mereka adalah  anak kandung dari disrupsi. Mereka lahir, besar dan berkembang secara eksponensial karena disrupsi. Mereka ampuh karena running the wave dengan memanfaatkan disrupsi bukan malah jatuh. Justru perusahaan-perusahaan ini tumbuh eksponensial karena adanya disrupsi. Contoh perusahaannya ada Tokopedia ada Sayur Box, Blibli, Zafara dan lain-lain. Tidak semua digital, ada Never to Levis, ada SiCepat yang berkembang. Ketika logistik tumbuh, maka SiCepat juga tumbuh dengan cepat. Ada Agate, ada Vidio yang menyaingi Netflix, ada Warung Pintar, ada Brodo, ada RANS milik Raffi Ahmad yang berawal dari content creator, dari entertainment ke entrepreneur memang itu berawal dari satu perusahaan yang hanya mengumpulkan massa melalui YouTube tapi sekarang menjadi holding yang luar biasa. Ada Element Bike karena orang lagi happening dengan bersepeda.

Yuswohady membagi 3 kategori perusahaan yaitu, pertama,  perusahaan yang survive, yang luput dari disrupsi.  Kedua,  karena mereka tumbuh di tengah digitalization. Kemudian ketiga adalah mereka yang melakukan adaption. Yaitu mereka yang memiliki kemampuan melakukan perubahan-perubahan di masa pandemic.

“Saya buat matriksnya. Yang pertama secara vertikal ada digitalization. Kemudian yang horizontal adalah tindakan melakukan perubahan-perubahan secara cepat. Namanya adaptation. Ketika kita buat matriksnya, high-low. Di  high low ketemu ada 4 pemain disitu. Yang kiri bawah yang disebut The Usuals, dia  tidak melakukan perubahan apa-apa, hilang dari peredaran. Sementara yang kiri atas, The Digitals adalah mereka yang lolos karena kekuatan transformasi digital. Kalau yang kanan bawah The Creatives, adalah pemain-pemain yang unggul dan bisa lolos dari lubang jarum disrupsi. Mereka  thriving untuk melakukan perubahan secara cepat. Dan yang kanan atas itu apa yang saya sebut ‘The Agiles’.  Mereka yang kuat di digitalisasinya dan kuat di adaptasinya. Ini yang ultimate ada di kanan atas,” jelas Yuswohady menunjukkan bagan yang ia sebut sebagai The Golden Age of Business Reinvention.  

Jadi, dalam 10 tahun terakhir brand-brand di Indonesia itu menghadapi apa yang namanya Transformasi Digital.  Begitu mengalami Digital Disruption. Berikutnya diserang lagi oleh Millennial Disruption. Terakhir mereka mengalami apa yang disebut Pandemic Disruption.

Pandemic Disruption adalah menutup keseluruhan dari triple disruption. Jadi setelah babak belur kena digital, kemudian kena pasar milenial dan ketiga kenal pandemic. Maka perusahaan yang bisa lolos melalui tiga disrupsi ini mereka akan menjadi pemain yang kuat sekali. Karena sudah terlatih! Disruption Native, yaitu perusahaan-perusahaan yang bisa keluar dari kawah candradimuka oleh Triple Disruption.

“Prediksi saya setelah krisis pandemic ini selesai, maka umat manusia akan memasuki apa yang disebut ‘Golden Age of Reinvention’. Jadi kita akan mendapati banyak pemain baru, inovasi-inovasi baru, entrepreneur-entrepreneur baru ( ‘Welcome Golden Age of Business Reinvention’) yang akan menyongsong The Renaissance  seperti abad XV-XVI,  dari zaman gelap muncul zaman terang.   

Setelah kita babak belur kena tiga disrupsi, kemudian kita memasuki era Renaissance, jadi ‘Golden Age of Reinvention’  sebagai  The Renaissance of Business. Di mana akan muncul inovasi baru,  entrepreneur baru.  Dan pemain lama akan tergantikan oleh pemain-pemain baru. Sama seperti Renaissance  di abad XV atau XVI dimana teknologi lama tergantikan oleh teknologi baru, seni lama tergantikan dengan seni baru. Politik gaya lama akan tergantikan dengan politik baru.

“Ini saya gambarkan era pandemic disruption itu menandai sebuah era baru yang saya sebut ‘Golden Age of Reinvention’ jadi bisnis ditemukan Kembali. Yang awalnya tidak digital, sekarang digital dan yang tadinya tidak milenial  menjadi milenial. Pemain-pemain baru akan muncul dan pemain lama mulai surut dan menghilang dari peredaran. Makanya saya sebut pembilasan brand-brand lama ke brand-brand baru,”tukas Yuswohady. [] Siti Ruslina/Foto: pinterest