Gita Nurhati Rochmah : Dari Radja Jersey Sampai Gorgeous Indonesia

Gita Nurhati Rochmah menjadi  sosok multitasking yang mampu mensinergikan bakat dan minatnya dalam mengelola usaha.  Seperti apa ia menjalani  bisnis konveksi kaos jersey dan brand lainnya hingga mampu meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan?  

“Assalamu’alaikum…aku lagi di HijabFest nih guys, last day..sisa sedikit lagi nih…jadi buat sahabat Gorgeous..flash sale up to 70%. Ini dolby ya, meni gemes cakep-cakep, dijual dari Rp150 ribu, jadi Rp70 ribu aja, tinggal 3 pieces lagi…yuk langsung…ayo gercep guys, di-screenshoot…yang mau aku keep ya..,”demikian gaya berjualan Owner Radja Jersey dan Gorgeous Indonesia, Gita Nurhati Rochmah (kerap disapa Gitadiredja atau Gita Natadiredja di media sosial-pen) yang  tengah siaran langsung dari Instagramnya saat berada di  HijabFest Transmart Cibubur, Depok, pada 9 Oktober 2022.

Wanita kelahiran 5 September 1994 ini adalah  anak bontot dari empat bersaudara yang terlahir dari keluarga sederhana. “Meski kehidupan kami tergolong susah, tapi Bapak tidak pernah memperlihatkan kepada anak-anaknya. Bayangkan ketika saya masih duduk di bangku SD, sekitar tahun 2006, penghasilan Bapak hanya sekitar Rp 400 ribu per bulan yang harus menghidupi empat orang anak yang semuanya sekolah,” kata Gita kepada pelakubisnis.com.

Meskipun dibesarkan bukan dari keluarga   pebisnis, ia  tak pernah menyangka  bila saat ini bisa memiliki usaha produksi  kaos jersey.  Boleh jadi kondisi ini merupakan kehendak Sang Khaliq! 

Awalnya dari kebutuhan ekonomi untuk melanjutkan kuliah. “Saya memutuskan melamar kerja tanpa skill yang memadai di sebuah perusahaan.  Di tempat bekerja saya benar-benar belajar dari nol. Pukul 7 pagi hingga sore saya bekerja, lanjut sore harinya saya kuliah sampai pukul 9 malam.  Sampai di rumah saya membuat kerajinan tangan (handmade),” kenangnya.

Kerajinan tangan hasil karyanya diberi brand GNR Gallery. Saat itu ia gemar  membuat handmade apapun dari bunga, bucket, dekorasi dan lain-lain.  Sisa waktu itu digunakan semaksimal mungkin untuk membuat sesuatu. Hingga larut malam dengan tekun ia membuat kerajinan tangan.

Ia tipe orang yang suka belajar apa pun, termasuk tipe multitasking. Seperti ketika memilih bidang studi. Niat mengambil bidang desain karena minat dan bakatnya di bidang itu,  ia malah terdampar di Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Kehumasan (public relation), di Bina Sarana Informatika. “Ketika teman-teman bisa fokus kegiatan perkuliahan, saya malah ‘nyambi’ kerja. Saya harus bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja,”ungkapnya. 

Menurut Gita, yang penting fokus ingin selalu belajar, kalau dapat gaji itu bonus. Ketika  bekerja pada orang lain, mau belajar apa saja, mulai dari produksi, desain, marketing dan semua bidang dipelajari. Sampai mempelajari  metode  SEO (search enginee optimization). 

Boleh jadi ia mewakili generasi milenial yang serba ingin tahu dan di luar pakem, yang mengasah diri menjadi serba bisa. Selain pebisnis, ia juga content creator, fotografer, dan senang menggambar.

Setelah tiga tahun bekerja pada perusahaan yang memproduksi kaos jersey, ia   memutuskan resign dan mengelola usaha sendiri. Tahun 2016 mendirikan CV Cakra Buana Niaga Khatulistiwa dengan teman dekat yang kini menjadi suami, Rizal Ramdhani. “Saya menikah tahun 2019 dan kini memiliki anak seorang putri bernama Syahlaa Jana Alishba,” tambahnya.

Bidang usaha yang ia geluti adalah konveksi dan membangun brand dengan nama Radja Jersey. Ia bersyukur pernah belajar banyak hal tentang proses kerja konveksi yang kini bisa  terapkan di perusahaan sendiri.

“Ketika membesut usaha, saya mendapat suntikan modal dari seorang pengusaha dari kenalan Bapak. Pengusaha itu menyuntikan modal sebesar Rp 300 juta. Pengusaha itu percaya dengan keluarga kami. Dan satu orang investor lagi menanamkan modal sebesar Rp 90 juta. Alhamdulillah kini saya sudah bisa melunasi pasokan dana sebesar Rp300 juta itu. Kini tinggal satu investor lagi yang bekerjasama dengan saya,” urainya serius.

Diakuinya tidak mudah membangun usaha. Semua dimulai dari nol. Dari  membayar jasa makloon (menjahit pada orang lain-red)  sampai akhirnya  mampu memproduksi sendiri.  Waktu membangun usaha, dibantu 1 desainer. Pertama kali membuka usaha, ia langsung mendapat klien yang membeli dalam jumlah besar. Ini kali pertama bisnis Radja Jersey mendapat order.   

Mengapa membidik segmen pria?  Gita menjawab, “Pertama kali kerja di perusahaan produksi kaos Jersey yang notabene lebih dominan pembelinya pria. Mungkin ini sudah sudah jalan Tuhan. Dari situ saya mendapat banyak peluang karena sudah memahami karakter pasarnya dan tahu celahnya. Saya pahami ketika perusahaan tempatnya bekerja tak mampu memenuhi kebutuhan sesuai keinginan pasar,  saat itulah saya ambil peluang tersebut,”.

Lebih lanjut ditambahkan, ia dan suami sepakat,  lebih memilih segmen pasar yang sempit dengan masuk ke segmen baju sport seperti lari, menembak, panahan dan bersepeda.  Saat ini kalau bicara kaos jersey, persepsi orang adalah kaos bola dan kaos jersey  yang banyak dipakai. Sedangkan Radja Jersey justru mengambil ceruk pasar ‘custom design’.  Dan memang harus spesifik supaya pasarnya jelas dan fokus sasaran.  Sebab, menurutnya, kalau kurang spesifik akan terlalu luas,  takutnya pasar malah tidak tercover.

Radja Jersey dari awal produknya dikemas lebih berkualitas untuk segmen menengah atas.  Jadi fokus di kualitas, custom design dan ada garansi 3 tahun.  Makanya kenapa harganya mahal karena  kualitasnya tidak “kaleng-kaleng”.

Di tahun pertama (2016-pen), Radja Jersey masih menggunakan promosi lewat facebook gratis. Makanya ia mencoba bermain di SEO. Ketika   ketik ‘bikin  jersey sepeda di Bandung’,  itu akan keluar nama Radja Jersey di baris pertama laman perta; IGma.

Di tahun 2016 itu omzet Radja Jersey masih puluhan juta rupiah dan  volume penjualan masih di angka 500-an pieces dengan segmen pasar mulai dari individu, komunitas hingga korporat. Tapi memang tidak ada minimal order.  ,”Di tahun 2017 naik lagi dan hingga sekarang bisa mencapai 4 ribu pieces bahkan sampai kewalahan,”terang Gita. “Dulu saya pernah dapat order sampai 4 ribu pieces itu untuk event besar. Karena mesin tidak mencukupi dan harus beres dalam waktu tiga minggu, jadi kewalahan dan  sempat bagi-bagi rejeki juga ke penjahit lain (outsourch-red). Tapi saya lihat dulu kualitas mereka agar hasil kualitasnya sama,” lanjutnya seraya menambahkan hingga kini  sudah memiliki sekitar 20 orang karyawan.

Semua skill yang dimiliki pada akhirnya menelorkan karya-karya dengan beberapa brand. Tak heran bila  ia berhasil menyabet penghargaan sebagai Juara I Wirausaha Muda Pemula Jawa Barat, Bidang Fashion dan Tata Busana 2022.    

Terhitung sejak 2016 hingga sekarang,  usaha Radja Jersey tumbuh hampir 70%. Dari situ, barulah ia membesut brand-brand baru. Di tahun 2017, karena kesukaannya dengan dunia desain dan fesyen, ia  membangun brand Gorgeous Indonesia, yaitu brand produk fesyen wanita yang menyasar segmen milenial dengan patron ilustrator.

Selain Radja Jersey dan Gorgeous Indonesia, tambah Gita, juga memiliki brand lain yang menyasar segmen pria yaitu Wolke Apparel dan Mozlemen yang baru diluncurkan belum lama ini. Untuk brand Mozlemen sendiri  lahir dari faktor ketidaksengajaan. Ia terpanggil  berdonasi ke Palestina dan sejak saat itu  saya terinspirasi membuat baju muslim pria seperti baju dan kaos Palestine.

Sedangkan produk Gorgeous Indonesia dipajang eksklusif. Orang-orang bisa lihat story telling disitu dan bisa nge-barcode scanner (QR Code).  Ada penjelasan produknya, siapa yang mendirikan dan sebagainya. 

Selain custom, Gorgeous Indonesia juga merupakan salah satu produk atau jasa yang menggunakan Teknik sublimation printing. Pola marketing yang di persiapkan salah satunya membuat promo yang menarik.

Gorgeous itu kan artinya cantik. Jadi Indonesia cantik. Lewat brand fesyen wanita  ini ia  ingin menonjolkan sisi  ke-Indonesia-an. “Misalnya saya bikin shopping bag tanpa plastik, bisa muat 4 kg. Kalau ke mana-mana bisa pakai itu. Sedangkan dari motif bahan menggunakan motif Indonesia, seperti bunga Indonesia. Motif-motif itu diaplikasikan menjadi produk fesyen. Jadi bisa meningkatkan brand Indonesia dengan warna-warna yang lebih kekinian,”tutur Gita.

Menurutnya,  Gorgeous Indonesia memodifikasikan patron printing. Hasilnya muncul beberapa warna lembut seperti warna pastel, pink dan warna-warna lainnya. Milestone  Gorgeous Indonesia berlanjut. Karena kreatifitas dan kepiawaian membangun jaringan, ia  mendapat kesempatan  memajang produk-produknya di Neighbourhood Uniqlo (kerja sama KemenkopUKM dengan Uniqlo Indonesia), di Paskal Shopping Center Bandung.

Bila bicara Gorgeous Indonesia, menurut  teman-temannya identifikasi brand ini berciri ‘Gita banget!’ “Saya suka yang feminim, suka sesuatu yang simple, tapi elegan. Jadi saya memang mendesain apa yang saya suka itu yang  dijual. Saya harus search dulu bahannya enak nggak. Temanya sesuai aku apa nggak. Kalau nggak sesuai saya nggak akan jual karena, nggak berani.  Masa  harus kasih barang yang jelek. Saya nggak mau! Itu bukan saya banget!,” kata Gita  mengunci percakapan. [] Siti Ruslina