Memburu Yangko Story, Panganan Oleh-Oleh Kota  Semarang

Selain Bandeng Juwana dan Lumpia Semarang, ada lagi Yangko Story, brand makanan tradisional yang terbuat dari olahan tepung  ketan, tepung terigu, gula, dengan isian  kacang tumbuk yang kian diminati para pemburu oleh-oleh yang berkunjung ke Kota Semarang.

Henny Anggreni Wijono, Owner  Yangko Story /Foto: Galenis

Sekarang tak hanya bandeng presto dan lumpia, muncul beberapa panganan oleh-oleh Semarang , salah satunya yang  sedang  tren adalah  brand Yangko Story.  Akhir  Oktober 2023 lalu pelakubisnis.com berkesempatan menyambangi  rumah produksi  Yangko Story di kawasan Gayamsari, Semarang. 

Hari itu  Henny Anggreni Wijono, Owner  Yangko Story  menerima pelakubisnis.com di tengah kesibukannya memproduksi yangko  sambil  terus melayani  orderan yang terus masuk lewat handphone nya.  Ternyata tak sedikit orang dari luar daerah Semarang yang sudah langganan memesan Yangko Story.  “Mereka menghubungi saya lewat WA atau Instagram tapi tetap akhirnya lebih banyak ke WA, lalu kami antar pesanan mereka ke hotel,”terang Henny seraya menambahkan orang Semarang sendiri jarang tahu dengan Yangko Story dan biasanya tahu dari teman dan kerabatnya di luar Semarang.

Ia  menjelaskan, sebenarnya  Yangko Story merupakan usaha keluarga suaminya, Yonas Ardie. Awalnya usaha keluarga ini dimulai   di Yogyakarta di sekitar tahun 1955 oleh generasi pertama dan dilanjutkan kakeknya Yonas, Go DJing Kauw  sebagai generasi kedua. Kemudian rentang tahun 1960an,  kakek Yonas pindah ke Kota Semarang dan  meneruskan usaha kue yangko . Saat itu generasi ketiga, Slamet Harsono (78), yang tak lain adalah ayah dari Yonas,   sudah mulai ikut membantu. Seperti anak-anak peranakan Tionghoa lainnya  di zaman dulu, sudah menjadi keharusan anak membantu usaha orangtua.  Hingga di tahun  1970an usaha ini berhenti karena kakeknya memilih berdagang  kain. “Papa pun bekerja pada orang lain,”kata Henny tentang ayah mertuanya.

Slamet Harsono (78)  sejak kecil   sudah ikut membantu orangtua membuat yangko/Foto: Galenis

Waktu berlalu, di tahun 2017-an Henny  dan Yonas kepikiran ingin mencoba usaha kuliner  karena saat itu anak-anak sudah mulai besar dan Henny memiliki waktu luang untuk mencari kegiatan baru yang bisa menghasilkan uang untuk bantu-bantu suami.  “Kebetulan resep dan cara pembuatan yangkonya ayah  mertua saya masih ingat nih jadi seperti resep turun temurun, kemudian mulai lah coba dan akhirnya sampai sekarang usaha ini berjalan,”jelasnya kepada pelakubisnis.com.

Ia  ingin  ada tambahan pemasukan  yang pasti , karena kondisi usaha suami sedang kurang baik.  Mulai trial  membuat yangko di tahun 2017. “Adakah kendala di awal? Pasti ada! Kendala awal pasti ada yang terkait dengan bagaimana cara menjualnya , pengemasan yang bagus , pengembangan item rasa supaya tidak monoton, pemilihan bahan baku yang baik karena menurut ayah saya,  supaya tastenya masih original seperti masa lalu pemilihan bahan baku harus benar-benar bagus, “jelas Henny.

Bagaimana situasi pasar ketika Yangko Story muncul?  Saat itu yangko dikenal sebagai cemilah khas Yogyakarta, pun di Semarang sudah ada  orang yang menjual . Namun sebenarnya yang namanya yangko dari Yogyakarta biasanya keras dan kering.  Merunut sejarahnya, yangko disinyalir  menjadi  makanan yang sering dibawa Pangeran Diponegoro  ketika pergi  berperang. Teksturnya yang keras dan kering membuat makanan ini awet disimpan dalam waktu lama.

Tapi   Go DJing Kauw   ketika di Semarang justru membuat difrensiasi keluar dari pakem makanan yangko yang beredar di pasar sebelumnya. Kakek Yonas ini justru membuat yangko dengan tekstur lebih lunak dan memang  jadi lebih basah (fresh) sehingga   tidak tahan lama karena tidak  ada kandungan pengawet di dalamnya.  “Itu juga atas permintaan konsumen. Ternyata konsumen di  Semarang lebih suka yangko yang basah,”cerita Henny yang saat ini masih menggunakan tenaga inti  dari keluarga termasuk kedua mertuanya masih turun tangan di lini produksi.

Lalu di tahun 2017, Yonas dan Henny melahirkan Yangko Story dan memodifikasi  resep yangko dari nenek moyang dengan isian pasta kacang,  ada isian tambahan seperti cokelat pasta, nutella, ovomaltine, dan kacang matcha (adonan yangko dicampur ke matcha-red).

“Respon pasar cukup bagus karena menurut mereka ini makanan unik taste jadul lah bilangnya. Terus ada juga masukan dari anak-anak muda supaya diisi nutella misalnya dan ternyata enak,”kata Henny seraya mengakui dari bahan baku dan teksturnya Yangko Story jadi seperti mochi yang juga menjadi salah satu panganan oleh-oleh  Kota Semarang. Lagi-lagi karena sejarah, mochi yang juga dikenal sebagai makanan khas orang Jepang ini, juga familiar menjadi  cemilan oleh-oleh Kota Semarang.  “Cuma bedanya mochi lebih lengket dan bentuknya bulat. Sedangkan yangko bentuknya kotak dan lebih kenyal. Sebenarnya bahan yang digunakan sama  hanya cara pengolahannya beda jadi hasilnya beda,”jelas Henny.

Ia  mengungkapkan  lika likunya membangun usaha yangko lumayan banyak asam garam  karena pertama,  proses produksinya masih manual, pemasaran juga terbatas hanya online saja , dan belum mahir menggunakan social media (sosmed). “Untuk kue yangko ini sendiri masuknya ke makanan tradisional peranakan lah kalau menurut saya bahan baku tradisional tanpa pengawet sehingga tidak bisa tahan lama, makanya kita arahnya lebih ke “made by order” ,”papar ibu dua anak ini.

Di awal  membangun brand awareness, Henny lebih banyak memberikan  sample atau  taster ke banyak teman dan kerabat.  Alhasil, strategi konvensional dengan  word of mouth (dari mulut ke mulut-red) pun berjalan sebagaimana mestinya.  

Diakuinya hingga hari ini, sejak kembali membangun usaha yangko, strategi distribusi diperbanyak  dengan mencari rekanan pengiriman/ kargo karena ini makanan tradisional  tanpa pengawet sehingga tidak tahan lama jadi konsumen  harus tahu lama pengirimannya dan  menjadi kendala ketika tiap daerah kadang tidak bisa sama sampainya dengan estimasi waktu pengiriman.

 “Sekarang kami mulai masuk ke marketplace seperti Shoppe, Tokopedia dan ternyata lumayan banyak yang memesan dari situ. Karena dari situ mereka suka dapat gratis ongkir. Kami kerja sama juga dengan paxel,”tambah ibu dari  Hanzel Gilbert Ardie dan Kristalyn Gretel Ardie ini seraya menambahkan untuk satu dua kasus ada kejadian konsumen terima lebih lama dari estimasi waktu yang sudah ditentukan , itu diganti.”Kami tidak sekedar jualan, tapi kami cari pelanggan,”tukasnya.

Pun dari strategi komunikasi yang disampaikan lewat  brand dan desain  kemasan  diakui Henny  konsepnya elegan karena  rata-rata orang beli untuk dikasih ke orang lagi sebagai oleh-oleh.  Karena buah tangan sebisa mungkin hadir dengan desain yang elegan.  Desain logo sendiri diakui Henny, ia dibantu seorang teman lulusan luar negeri yang memiliki selera  desain bagus. Sementara untuk nama Yangko Story  sendiri diciptakan suaminya  diartikan sebagai   makanan yang memiliki cerita kenangan   tentang sejarah warisan  nenek moyang. 

Bicara  omzet menurut Henny  naik turun  fluktuatif. “ Yang penting cukup  untuk support keluarga ,”katanya seraya menambahkan, di awal usaha paling banyak 15 boks per hari. Untuk saat ini rutin bisa mencapai  5kg adonan atau 25 boks per hari atau sekitar Rp 600-700 ribu per hari bahkan bisa sampai 70-80 boks per hari atau dari nilai bisa mencapai Rp3 juta per hari di momen weekend. 

Anak menantu dan orangtua bahu membahu memproduksi yangko/Foto: Galenis

Pun ketika pandemic banyak yang jastip (jasa titipan).  “Yang datang satu orang, belanjanya buaaanyak.  Saya gak bisa kasih komisi jadi dari harga Rp50 ribu per boks dia naikkan harga lagi. Karena kualitas bahan bakunya tidak bisa kami turunkan,”cerita menantu dari Slamet Harsono dan  Fenny Sutanto.

Suatu kepuasan buatnya bila produknya banyak disukai oleh semua kalangan dan berbagai kota walaupun  yang dijual cuma industri kecil rumah tangga tapi sampai beberapa artis dan pejabat pernah merasakan kue yangkonya. “Itu sebuah kebanggaan buat kami,”aku Henny.

Dilalahnya di masa pandemic Covid-19 kemarin dimana Henny dan Yonas agak panik dan deg-degan karena takut  tidak ada orang yang datang berkunjung ke Semarang, ternyata  order  via online tambah banyak.

Yangko yang kita tahu produk panganan warisan nenek moyang. Bagaimana mengkreasikan produk local ini hingga mampu mengikuti perkembangan zaman?  “Sebenarnya kita arahnya lebih ke sesuatu yang benar-benar tradisional,  ya  kami tidak ingin mengubah cita rasa dari yangko ini sendiri karena nilai historynya, bagi keluarga saya ini sangat luar biasa. Paling mengkreasikannya dengan pengemasan yang baik. Kami juga  urus ijin-ijin seperti PIRT , Setifikat Halal sehingga konsumen tidak khawatir untuk kualitas produk kami. Kemudian penambahan item rasa.  Yang dulu cuma rasa kacang saja sekarang penambahan topping seperti cokelat, nuttela , matcha, ovomaltin,”papar Henny .

Seperti apa mengkomunikasikan brand produk Yangko Story?” Ini bukan makanan kekinian ya.. tapi makanan jadul tradisional yang bisa generasi sekarang nikmati dengan taste yang sama seperti  zaman dulu semacam nostalgia masa lalu. Kita seperti menceritakan nostalgia masa lalu mungkin generasi 40-70an bisa bercerita tentang makanan ini,”timpal Yonas dalam jawaban tertulisnya  seraya menyebut hasil dari strategi komunikasi yang dibangun cukup efektif diterima pasar.  

Henny berharap di masa depan dapat  mengatur management  usaha atau membuat system usaha yang memungkinkan produksi bisa meningkat dan diiimbangi dengan promosi-promosi  produk terbaru. Tapi ia belum bermimpi  suatu hari produknya meluas hingga skala internasional karena menurutnya bila melihat konsep produknya yang rentan tidak tahan lama ini. “Itu  tidak mungkin,”ujarnya.

Namun sejauh ini diakui Henny produknya sudah sampai  Singapure, Malaysia  dan Jepang mereka bawa secara handcarry. “ Ada yang coba jastip. Kendala di penerbangan mereka tidak bawa sendiri,  titip ke teman, tapi logistiknya yang repot.  Contoh di pandemic kemarin ke Australia, sempat terkendala di logistic. Ini pasti rusak.  Sudah beli tidak dapat barangnya. Itu masih menjadi kendala.  Ada sekitar 15 boks akhirnya yangkonya rusak,”ungkap Henny yang ke depannya  akan menata ulang tempat produksi agar ketika suatu hari bisa merekrut orang luar sehingga semuanya sudah siap.  “Sekarang semuanya masih ditangani sendiri,”pungkasnya. []Siti Ruslina