Optimisme Ekonomi di Tahun Politik
Election economy Indonesia di tahun 2024 dapat mendorong menggeliatnya kondisi ekonomi dunia yang masih melambat. Di tengah fenomena itu, peluang apa saja yang mendorong ekonomi Indonesia tumbuh di tahun politik?
Tahun 2024 digelar Pemilihan Umum (Pemilu) serentak, pemilihan presiden, pemilihan legislatif dan pemilihan kepala daerah. Banyak orang bilang tahun pemilu merupakan tahun wait and see atau tiarap. Namun demikian, ketika zaman “gunjang-ganjing”, atau eranya turbulensi, menurut Managing Partner Inventure, Yuswohady, justru disitulah banyak peluang. Justru menjadi surga bagi entrepreneurs karena banyak peluang yang bisa diambil.
Tahun 2024 merupakan tahun election economy . Inventure sudah melakukan kajian terhadap kondisi yang sama tahun 2014 dan 2019. “Ini untuk membuktikan apakah betul election economy itu ada. Di mana dilakukan penyelusuran pada tahun 2014 dan 2019. Sektor bisnis mana saja yang diuntungkan, kira-kira polanya akan sama tahun depan, sehingga teman-teman punya guided apa yang harus dilakukan di tahun politik,” kata Yuswohady, dalam Webinar, Winning Triple Economies, Marketing Outlook 2024, Gonjang-ganjing di Tengah Tahun Politik, yang diselenggarakan November lalu.

Yuswohady mengatakan, ada Winning Triple Economies. Pertama menjadi driver economy tahun 2024 adalah election economy. Kedua Return of Leisure Economic. Pada akhir 2017 Inventure melakukan kajian. Ditemukan pergeseran konsumsi sangat besar sebagai dampak posisi Indonesia sebagai negara middle income country. Pergeseran konsumsi yang paling mendasar dari good ke experience. “Makanya saya mengatakan bahwa kita 2018 memasuki era leisure economic. Tetapi dua tahun kemudian era leisure economy tertahan karena adanya pandemi. Tetapi karena tarikan leisure itu begitu kuat, maka ketika usai pandemi, kembalinya cepat sekali. Tahun ini target wisman Kemenpekraf bisa mencapai 10 juta. Padahal tahun 2020, tahun 2021 hanya 200 – 300 ribu wisman,” tambahnya.
Sementara yang ketiga adalah digital ekonomi baru (refocusing). Kenapa disebut demikian? Karena tahun 2022 terjadi rasionalisasi atau refocusing terhadap startup-startup digital yang beroperasi tidak benar. Fenomenanya terlihat adanya “bakar uang”. “Era setelah ini digital ekonomi akan lebih strong atau operasi bisnis lebih kuat,” kata Yuswohady seraya menambahkan, akan melihat tiga ekonomi tersebut di tahun 2024.
Lebh lanjut ditambahkan, membuat marketing plan mesti harus positif. Kalau kita membuat marketing plan paling gampang melihat SWOT. Di SWOT kita mengerti kondisi-kondisi eksternal dan kita mengerti opportunity di eksternal dan kita juga mengerti kekuatan kita. “Kalau di marketing plan lebih banyak threats dibandingkan opportunity, sebaiknya nggak usah bikin marketing plan. Kalau pun marketing plan anda negatif, maka anda mau berperang tetapi auranya negatif. Makanya challenge dari marketing plan kita harus ngulik-ngulik data dan tren yang ada, sehingga kita bisa lebih banyak menemukan peluang daripada ancaman,” tandasnya.
Dengan kata lain, untuk membuat marketing plan di tahun 2024, harus banyak menemukan peluang-peluang di tahun depan. Tahun 2024 ini adalah tahun politik. Bila mindset ini tahun politik itu tahun gunjang-ganjing atau tiarap., maka kalau kita menyakini sesuatu itu benar, akan menjadi kenyataan. Kalau kita sudah pesimis tahun 2024 tidak akan tumbuh dan konstan, maka yang akan terjadi akan konstan.
Ia melanjutkan, tetapi bila kita optimis di tahun 2024 yang dilandasi oleh kejelian melihat peluang yang ada di tahun depan, maka bila kita mau tumbuh berapapun akan tercapai. Hal ini didasarkan atas kemampuan melihat tren-tren yang ada dan kemampuan melihat peluang-peluang di dalamnya.
Melihat outlook tahun 2024, kata Yuswohady, apa saja peluang-peluang di tahun depan agar teman-teman punya referensi untuk melihat tahun 2024 sebagai positif. Mudah-mudahan kita melihat tiga peluang yang ada di tiga ekonomi itu (election economy, leisure economy dan digital economy, maka teman-teman bisa punya gambaran di industri -masing-masing itu bisa tumbuh di tahun depan, karena adanya peluang-peluang tersebut.
Menurut Yuswohady, tinjauan secara makro di dunia ada ancaman melebarnya perang Israel dan Palestina. Ekonomi dunia tahun 2024 agak melambat. Hal ini dibagi menjadi negara maju, negara-negara amazing dan dan developing country. “Untungnya Indonesia masuk diantara negara-negara amazing country developing country, pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai September 2023 masih di angka 4,9 persen. Di akhir tahun diharapkan bisa mpai 5 persen,” tambah Yuswohady. Kinerja ekonomi Indonesia masih lebih bagus dibandingkan negara-negara lain.
Kemudian perang Israel, kalau sampai Iran ikut-ikut, maka harga minyak akan naik. Naiknya akan tinggi, Kalau harga minyak sampai naik, pengaruh bagi Indonesia akan inflasi. Sedangkan boikot terhadap produk-produk luar akan menimbulkan sentimen positif terhadap produk-produk lokal. Ini menjadi peluang brand-brand lokal untuk memperkuat brand ekuitinya.
Sementara negara-negara mitra dagang Indonesia (kegiatan ekspor-impor) akan banyak ditentukan dengan pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang Indonesia bagus atau tidak. Secara umum ada yang bagus, ada yang jelek atau melambat, tetapi tidak sampai negatif. Contoh 25 persen ekspor Indonesia ke Tiongkok, pertumbuhannya turun dari 6,3 persen menjadi 5 persen. Ada Amerika Serikat, Jepang pertumbuhannya stagnan, India dan Korea Selatan pertumbuhannya masih kuat.Tahun depan, menurut Yuswohadi, pertumbuhan akan turun sedikit, tetapi kita masih tetap optimis karena konsumsi Indonesia didorong oleh election economy.
Prediksi di dalam negeri, tambah Yuswohady, tahun 2022 pertumbuhan Indonesia diangka 5,3 persen, sedangkan sampai September 2023 pertumbuhan Indonesia diangka 4,9 persen. Prediksi dari Bank Indonesia diangka 5-an persen. Sementara amazing country di posisi 4 persen. Inflasi tahun ini lebih bagus, diperkirakan di akhir tahun 2023 di posisi 3 persen.
Di sisi lain di dalam negeri ada pemilu. “Saya melihat pemilu itu akan menggerakkan ekonomi kita. Dengan adanya pemilu akan mobilisasi masyarakat. Kalau mobilisasi tinggi, maka transportasi akan berkembang. Dan jagang lupa juga ketika election economy, akan banyak saluran bansos (bantuan sosial). Bansos ini akan menggerakkan perekonomian karena masyarakat ditinggat akar rumput akan mendapatkan suntikan dana segar dan kemudian akan dibelanjakan, sehingga spending rumah tangga akan meningkat,” tambah Yuswohady.
Tidak hanya itu, ada money politik paradox. “Walaupun money politik itu tidak bagus, seharusnya diberantas karena bukan sesuatu yang terpuji. Tetapi money politik menjadi pelumas bagi kegiatan pertumbuhan ekonomi kita, karena akan meningkatkan daya beli di masyarakat. Kegiatan ini tersebar sampai ke desa-desa. Hal ini menjadi costumers spending, sehingga menggerakkan ekonomi,”paparnya.
Menurut Yuswohady, sektor-sektor yang bisa menjadi landasan adalah sektor pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan dan konsumsi terus bertumbuh. Yang menarik adalah pertumbuhan-pertumbuhan besar adalah transportasi (mobilisasi pemilu), jasa dan akomodasi (makanan dan minuman).
“Sektor ritel atau customers di tahun depan akan bagus karena adanya bansos, ada money politik dan aktivitas mobilisasi oleh adanya kampanye,” ujarnya seraya menambahkan sektor ini akan tumbuh bagus di tahun 2024.
Lebih lanjut ditambahkan, ada 5 indikator mengapa kita optimis di tahun 2024. Pertama, peningkatan aktivitas produksi, terutama manufaktur. Kedua, mobilitas masyarakat oleh adanya kampanye. Awal tahun depan akan meningkatkan konsumsi dan daya beli karena banyak bansos. Kemudian ada pemilu legislatif dan pemilu kepala daerah. Kita lebih optimis bahwa customers spending akan meningkat. Di mana pertumbuhan ekonomi didorong oleh investasi, ekspor impor, government spending (pengeluaran pemerintah) dan terakhir pengeluaran rumah tangga. Sekitar 60 persen didominasi oleh customer spending.
Ketiga, kunjungan wisatawan manca negara (wisman). Ini merupakan the return of leisure economy. Wisman akan menjadi penopang ekonomi Indonesia. Keempat, beberapa acara internasional dan nasional, terutama konser musik yang akan men-drive perekonomian kita yang basisnya leisure ekonomi. Kelima, kegiatan yang berkaitan dengan kampanye dan politik di sepanjang tahun 2024.[]Yuniman Taqwa/Siti Ruslina/Ilustrasi: Inventure
