Pasar Muslim Kian Melebar, Perlu Pahami Manfaat Bagi Konsumen

Pasar muslim di Indonesia terus berkembang pesat. Namun, banyak brand  menargetkan segmen yang berfokus pada manfaat spiritual (spiritual benefit) sebagai daya tarik utama. Padahal, tren terbaru memenangkan hati konsumen muslim, brand harus menawarkan manfaat fungsional (functional benefit) dan manfaat emosional (emotional benefit) yang ekselen, tak cukup hanya manfaat spiritual.

“Spiritual benefit seperti kesesuaian dengan nilai-nilai Islam memang penting, tetapi itu bukan lagi faktor pembeda di pasar. Saat ini, konsumen muslim semakin kritis dan menuntut functional benefit dan emotional benefit yang lebih nyata, seperti kualitas produk, harga kompetitif, inovasi teknologi, serta kemudahan akses,” ujar Yuswohady, Managing Partner Inventure dan pemrakarsa Indonesia Muslim Market Outlook (IMMO) 2025, pada 6/3 lalu.

Data terbaru dari Inventure 2025 menunjukkan bahwa banyak produk yang mengusung label syariah atau halal masih menghadapi tantangan dalam memperluas pangsa pasar. Salah satu contoh nyata adalah industri perbankan syariah.

Meskipun bank syariah telah hadir lebih dari tiga dekade, pada data Inventure 2023 menunjukkan,  hanya 6% responden yang memiliki produk syariah. Dari kelompok kecil ini, alasan utama mereka memilih bank syariah adalah karena spiritual benefit, seperti menghindari riba, kesesuaian dengan ajaran Islam, dan ketenangan hati. Namun, spiritual benefit ternyata tidak cukup kuat untuk meyakinkan 94% konsumen perbankan konvensional agar beralih ke bank syariah.

Contoh lain dari keberhasilan penerapan strategi functional benefit adalah Wardah, salah satu merek kosmetik halal terbesar di Indonesia. Di awal kemunculannya, Wardah menonjolkan branding Islam sebagai diferensiasi utama. Seiring dengan meningkatnya persaingan di industri kosmetik, Wardah mulai memperkuat functional benefit dengan menggunakan bahan-bahan yang aman, mengembangkan teknologi kecantikan yang lebih baik, serta meningkatkan kualitas produk melalui inovasi formula.

Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas pangsa pasar mereka, tidak hanya di kalangan muslim tetapi juga konsumen yang lebih luas.

Sementara sertifikasi halal harus menjadi perhatian utama bagi pelaku usaha Indonesia. Pasar Muslim sangat besar dan terus berkembang. Di tingkat global, industri halal juga bergerak sangat dinamis. Jika produk Indonesia ingin bersaing, sertifikasi halal bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.

Demikian disampaikan Dr. Ir. Trisiladi Supriyanto M. Si., Direktur Sa’adah Global, dalam acara IMMO 2025, yang diselenggarakan kolaborasi antara Inventure dan Rumah Zakat, pada minggu pertama Maret lalu.

Menurut riset yang dilakukan oleh Inventure-Rumah Zakat, kesadaran dan permintaan terhadap kosmetik halal di Indonesia terus meningkat. Tren gaya hidup halal semakin populer, terutama di kalangan generasi muda, yang aktif mencari produk dengan transparansi bahan dan proses produksi.

Riset tersebut mengungkap bahwa 96% konsumen di Indonesia mendukung aturan sertifikasi halal untuk semua produk kosmetik yang akan diberlakukan pada 2026. Angka ini menunjukkan bahwa industri kecantikan halal memiliki peluang besar untuk berkembang lebih luas.

Selain faktor keyakinan, kosmetik halal juga diminati karena dianggap lebih aman dan transparan dalam penggunaannya. Media sosial dan peran influencer turut mempercepat adopsi tren ini, menjadikan kosmetik halal tidak hanya sebagai kebutuhan religius tetapi juga bagian dari gaya hidup modern.

Dr. Trisiladi menambahkan bahwa salah satu langkah penting dalam mempercepat sertifikasi halal bagi produk Indonesia adalah kehadiran penyelia halal atau Dewan Pengawas Syariah di dalam perusahaan. “Penyelia halal akan berperan penting dalam mendampingi perusahaan selama proses sertifikasi. Sa’adah Global hadir untuk membantu perusahaan dalam memastikan produk mereka memenuhi standar halal yang berlaku,” jelasnya.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang ekosistem halal dan syariah, Sa’adah Global menghadirkan layanan edukasi serta sertifikasi halal, syariah, kesehatan, dan keamanan pangan. Selain itu, perusahaan ini juga menyediakan layanan investasi internasional, perdagangan, rantai pasok, serta teknologi informasi dalam ekosistem halal.

“Melalui sinergi berbagai unit usaha dalam ekosistem kami, Sa’adah Global berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan sumber daya manusia, inovasi aplikasi, serta peningkatan produk di sektor halal dan ekonomi syariah. Dengan layanan yang terintegrasi dan komprehensif, kami ingin mendukung para pemangku kepentingan industri halal agar dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutup Dr. Trisiladi.

Dengan semakin tingginya permintaan terhadap produk halal, baik di dalam negeri maupun secara global, peran lembaga seperti Sa’adah Global menjadi semakin krusial. Dukungan terhadap sertifikasi halal bukan hanya tentang memenuhi regulasi, tetapi juga memastikan daya saing produk Indonesia di pasar dunia.

Gerakan boikot terhadap merek global yang dianggap mendukung Israel semakin meluas di kalangan konsumen muslim Indonesia/foto: ist

Sementara Gerakan boikot terhadap merek global yang dianggap mendukung Israel semakin meluas di kalangan konsumen muslim. Fenomena ini mencerminkan kesadaran baru: konsumen muslim tidak hanya mencari produk halal, tetapi juga memperhatikan isu-isu keadilan, kemanusiaan, dan keislaman.

Riset Inventure terbaru menunjukkan bahwa 89% responden lebih memilih mengganti produk global yang diboikot dengan brand lokal Islami. Momentum ini menjadi peluang bagi brand lokal Islami untuk berkembang dan memperkuat posisi mereka di pasar.

“Ini bukan sekadar tren, tetapi sebuah perubahan pola konsumsi. Konsumen muslim kini lebih sadar akan maqashid syariah—bahwa setiap pilihan konsumsi harus membawa manfaat, baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual,” ujar Yuswohady, Managing Partner Inventure, dalam IMMO 2025.

Dengan peluang ini, brand lokal bisa menegaskan identitasnya sebagai brand asli Indonesia yang mendukung nilai-nilai kebaikan, termasuk kepedulian terhadap isu sosial. Brand lokal juga bisa membangun narasi dengan memosisikan diri sebagai “pilihan konsumen muslim” yang menekankan bahwa produknya adalah alternatif yang sesuai dengan prinsip halal dan mendukung ekonomi umat.

Namun peluang itu juga mengandung PR besar bagi brand lokal Islami, yaitu terus-menerus mengokohkan daya saing dengan mendongkrak manfaat fungsional (functional benefit) dan manfaat emosional (emotional benefit) dari produk, tak cukup hanya sekadar identitas Islam. Alasannya, konsumen tetap menuntut kualitas, inovasi, dan layanan brand lokal Islami yang setara atau lebih baik dari merek global

Sebagai contoh, merek-merek kosmetik halal kini tak cukup hanya mengandalkan branding Islami berikut label halalnya, tetapi juga meningkatkan teknologi dan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Hal yang sama berlaku di sektor makanan, fashion, dan layanan keuangan berbasis syariah.[] Yuniman Taqwa