Wastra Nusantara Sarat Nilai Kearifan Lokal, Diminati Konsumen Lokal dan Internasional
Industri wastra nusantara, seperti batik, tenun, dan songket, mampu merespons kebutuhan akan menjamurnya industri slow fashion di tengah gencarnya tren fast fashion yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Bahkan, sisa-sisa kain wastra nusantara seperti jumputan, tenun, dan batik, oleh Dimita Agustin, pendiri Dara Baro dijahit kembali menjadi produk fesyen yang menarik.
Transformasi wastra yang dulunya hanya digunakan sebagai sarung atau selendang, kini berkembang menjadi produk fashion modern seperti blazer, jas, celana, hingga aksesori seperti topi dan tas. Bahkan wastra, khususnya tenun, telah beradaptasi dengan selera pasar, terutama kalangan muda. Ini adalah peluang besar untuk terus dikembangkan
Itu sebabnya, wastra nusantara hadir bukan hanya sebagai produk budaya, melainkan sebagai solusi. Proses pembuatannya yang sarat nilai kearifan lokal, penggunaan bahan alami, serta filosofi yang terkandung di dalamnya menjadikan wastra sejalan dengan konsep slow fashion, yakni fesyen yang menekankan kualitas, keberlanjutan, dan keadilan bagi setiap pihak.
Industri wastra Indonesia berpotensi terus tumbuh dan semakin diminati konsumen lokal dan internasional. Industri wastra Nusantara, seperti batik, tenun, dan songket, dianggap mampu merespons kebutuhan akan menjamurnya industri slow fashion di tengah gencarnya tren fast fashion yang berdampak negatif terhadap lingkungan.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada 21/4.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan implementasi pelaku industri wastra pada konsep keberlanjutan, Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin menjalin kerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) untuk menggelar webinar dengan tema “Cinta Wastra Nusantara: Peran IKM Wastra dalam Fesyen Berkelanjutan” pada 16/4. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara Road to HUT Dekranas ke-45 yang telah diresmikan oleh Ketua Harian Dekranas pada 11 Maret 2025 yang lalu.
Menurut Reni, Kemenperin dan Dekranas memberikan perhatian khusus terhadap industri wastra di Indonesia. Pasalnya industri ini sangat erat dengan konsep berkelanjutan yang tengah digandrungi konsumen di pasar global. “Kesadaran konsumen terhadap pentingnya perubahan gaya hidup dalam mendorong keberlanjutan lingkungan dan kondisi alam, mengarahkan pada tren slow fashion yang bertolak belakang dengan fast fashion,” ungkapnya.
Reni menambahkan, tren fast fashion yang terjadi saat ini merupakan bagian dari gaya hidup pasar yang cepat, dinamis, serta kemudahan konsumen dalam mengakses informasi digital dan pasar online atau marketplace. Perubahan ini menyebabkan kebiasaan membeli baju yang diproduksi secara massal, dengan bahan yang kurang ramah lingkungan, sehingga berdampak menjadi limbah solid terhadap lingkungan.
“Selain itu, saat ini industri fesyen dituntut untuk menjawab isu-isu keberlanjutan, yang merupakan dampak dari berbagai faktor yang saling terkait seperti ekonomi, lingkungan dan sosial. Arah gerak dunia kini tertuju pada fesyen yang tidak hanya memikat secara visual, namun juga bertanggung jawab secara ekologis dan etis,” tegas Reni.

Sementara Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Budi Setiawan menambahkan, konsep slow fashion menawarkan alternatif tren fesyen yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas, produksi beretika, kelestarian lingkungan, produksi yang lebih lambat dan terencana, serta mempromosikan nilai etis dalam rantai pasok.
“Prinsip ini tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan dengan mengurangi limbah dan konsumsi energi, tetapi juga membantu memastikan bahwa para pekerja di sektor mode mendapatkan upah yang layak dan kondisi kerja yang adil,” jelasnya.
Di Indonesia, lanjut Budi, konsep slow fashion memiliki potensi besar untuk tumbuh, terutama dengan keberadaan perajin lokal dan penggunaan bahan baku alami yang kaya, seperti produk wastra yang meliputi tenun dan batik.
“Wastra, sebagai produk mode tradisional Indonesia, memiliki karakteristik yang sangat sesuai dengan prinsip slow fashion. Proses pembuatan wastra yang perlu ketelitian dan memakan waktu lama menjadikannya simbol kualitas dan keunikan yang mendukung keberlanjutan,” imbuhnya.
Di samping itu, pelaku industri fesyen, khususnya industri wastra sebetulnya dapat menerapkan konsep ramah lingkungan melalui beberapa cara, di antaranya melalui penggunaan bahan baku berkelanjutan seperti bahan organik dan bahan daur ulang, mengoptimalkan proses produksi, serta mengolah limbah produksi.
“Untuk memperkuat ekosistem industri fesyen berkelanjutan yang ramah lingkungan, perajin juga dapat ikut serta mengedukasi konsumen tentang pentingnya konsep tersebut,” ujar Budi. Diharapkan, melalui pelaksanaan webinar, dapat memberikan masukan pengetahuan bukan saja dari para perajin atau IKM wastra, tetapi masyarakat umum sebagai konsumen untuk dapat bijak saat memutuskan membeli dan mempertimbangkan segala aspek yang unggul pada atribut produk wastra dan kriya di Indonesia.
Desainer sekaligus Anggota Komisi VII DPR, Samuel Wattimena yang menjadi salah satu narasumber pada acara webinar mengungkapkan, kampanye wastra Nusantara sebagai salah satu tren fesyen berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip slow fashion, tak hanya mendorong konsumen untuk lebih menghargai produk wastra dan proses pembuatannya.
“Ini tentu akan memperkuat identitas lokal dalam panggung mode dunia. Sebab, industri wastra tradisional terbukti membuka kesempatan lapangan kerja bagi perajin lokal, meningkatkan ekspor nasional, dan mendorong perekonomian daerah,” ungkapnya.
Samuel juga mendorong pemerintah pusat dan daerah serta Dekranas untuk terus mempererat sinergi dalam mengembangkan kemampuan perajin wastra di berbagai daerah, serta akses pengadaan bahan baku yang ramah lingkungan, dan akses promosinya.
Sebelumnya pada , 12/2 2025, Etnura Fashion Festival kembali digelar keempat kalinya di Dyandra Convention Hall, Surabaya. Acara ini menjadi ajang bagi desainer dan pelaku usaha mode untuk menampilkan karya berbasis wastra Nusantara, seperti batik, tenun, songket, dan lurik.
Ketua Panitia, K.rt Tekno Wiroyudho, menjelaskan bahwa festival tahun ini mengusung tema “Arunika Merajut Wastra Nusantara” sebagai bentuk komitmen Etnura dalam melestarikan kain tradisional Indonesia melalui fashion, sebagaimana dikutip dari beritabangsa.id, pada 12/2
Etnura sendiri merupakan wadah bagi para desainer dan pelaku industri mode yang berfokus pada pengembangan busana berbahan kain tradisional.
Sementara semangat mencintai bumi dan budaya lokal diwujudkan secara nyata oleh Dara Baro, salah satu UMKM perempuan binaan Pertamina yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan. Menjelang Lebaran 2025, koleksi busana Dara Baro yang dibuat dari sisa-sisa kain wastra nusantara seperti jumputan, tenun, dan batik, habis terjual di gerai besar Jakarta.
Koleksi ini bukan sekadar tren, tapi juga bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Dengan mengusung teknik Boro asal Jepang, sebuah metode menjahit dan menambal ulang kain bekas menjadi busana baru, Dara Baro berhasil mengubah limbah tekstil menjadi produk bernilai tinggi yang penuh cerita dan keindahan.
Dimita Agustin, Pendiri Dara Baro, mengungkapkan bahwa semangat utama mereknya adalah menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga bumi melalui karya. Sejalan dengan Hari Bumi, 22 April 2025, Dara Baro makin bertekad menjaga kelestarian alam melalui fesyen berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa setiap potongan kain punya cerita. Melalui teknik boro, kami ingin menunjukkan bahwa sisa bukan berarti sia-sia. Kami juga ingin mengajak generasi muda untuk melihat bahwa industri kreatif bisa berdampak sosial dan lingkungan secara nyata,” ujar Dimita.
Kualitas dan orisinalitas karya Dara Baro turut menarik perhatian internasional. Baru-baru ini, brand ini mendapatkan undangan kurasi dari L’adresse Paris, salah satu platform fashion bergengsi di Prancis yang dikenal ketat dalam memilih brand yang akan ditampilkan.
Dara Baro juga menjadi salah satu UMK fashion yang terpilih untuk mengikuti Osaka Expo, yang saat ini sedang digelar di Osaka, Jepang. UMKM ini terpilih karena fokus pada produksi fashion yg memanfaatkan limbah perca serta berorientasi pada keberlanjutan.[] Yuniman Taqwa/foto: ilustrasi utama: Sarinah.co
