Upaya Tri Sukamto Cetak Bimuda Masuk Rantai Pasok Astra
Meski tak mempunyai basic di industri manufaktur, tak menjadi hambatan bagi Tri Sukamto membesut bisnis IKM komponen otomotif dan alat berat. Berkat perkenalannya dengan YDBA, menjadikan PT Bimuda Karya Teknik yang dibangunnya mampu masuk dalam supply chain Astra Group.
Selama 22 tahun bekerja di dunia perbankan, boleh jadi membuat hidup Tri Sukamto tertantang untuk memulai karier baru. Meskipun karier di dunia perbankan – perlahan tapi pasti – mulai menanjak. Pada tahun 2017 Bank Permata membuka cabang di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kebetulan ia ditempatkan di sana sebagai manager.

Namun jalan hidup berkata lain. Mimpi menjadi pengusaha terus mengusiknya. Itu yang membuat Tri mencari peluang sebagai pengusaha di Tegal. Posisinya sebagai manager bank, membuatnya kerap berhubungan dengan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM).
“Saya mencari informasi dari nasabah bank. Ini sebagai cikal bakal saya menjadi pengusaha,” kata Tri kepada pelakubisnis.com, minggu ketiga September lalu.
Menurut Tri, di Tegal ada cabang Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian, Kabupaten Tegal. Karena kerap berkunjung ke YDBA, membuatnya tertarik berkecimpung di industri logam. Isu mengenai rantai pasok komponen ke Astra Group sudah ada, walaupun saat itu belum banyak IKM logam di Tegal yang bisa masuk supply chain ke perusahaan leader otomotif di Indonesia ini.
Saat itu ia mendapat informasi ada beberapa pemain komponen otomotif besar di Jababeka yang sedang mencari sub kontraktor (subkon) komponen otomotif di Tegal. “Saya ikut kegiatan YDBA kalau ada kunjungan mencari subkon di IKM Tegal. Akhirnya saya konsultasi dengan Dinas (Perindustrian-red) dan YDBA,” kata Tri seraya menambahkan pihak YDBA menyarankan membuat badan hukum bila tertarik menjadi IKM logam.
Atas saran YDBA, ia mendirikan badan usaha, PT Bimuda Karya Teknik (BKT/Bimuda) pada 2 Mei 2018. Ia pun mulai bergabung menjadi binaan YDBA. Walaupun belum memproduksi komponen, tapi Tri sudah mendapat pencerahan dari YDBA. Secara paralel ia mendirikan workshop di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Tegal dan mendapat pelatihan dari YDBA.
“Di YDBA saya mengikuti pelatihan manajemen keuangan, training proses produksi, seperti memahami proses quality, cost dan delivery (QCD) dalam proses rantai pasok. Itu yang selalu diajarkan YDBA,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Ekonomi, di perguruan tinggi swasta di Jakarta ini.
Dari situ ia mendapat pemahaman proses rantai pasok. Dalam waktu bersamaan ia berkenalan dengan Abdi Wesly seorang pengusaha industri komponen, PT Trimitra Marganda Unggul yang pabriknya baru pindah ke Tegal. “Beliau menjadi mentor dan sekaligus sebagai ayah angkat dalam industri logam. Pak Abdi Wesly dulunya pensiunan dari PT Toyota Manufaktur Indonesia,”terang Tri Sukamto.
“Saya ceritakan kepada Pak Abdi Wesly agar bisa membimbing saya. Kebetulan beliau ada beberapa mesin kecil ditawarkan kepada saya. Asal kuncinya ikuti arahan dan nggak usah ngeyel (macam-macem-red). Ikuti saja, ini sudah ada pekerjaannya. Tinggal dijalankan,” kata Tri, meniru saran dari Abdi Wesly.
Ada 4 mesin stamping bekas ukuran kecil yang disupport Abdi Wesly tanpa modal. Padahal nilai 4 mesin itu sekitar Rp 450 juta. Bayarnya nanti, kata Tri, dipotong invoice. Customer pertamanya ia dapat dari Abdi Wesly. “Ini kesempatan emas yang nggak bakal dua kali terjadi. Saya ada keberuntungan dan Alhamdulillah langsung jalan. Bahkan, Pak Abdi Wesly memberi kelonggaran untuk mencari customer-customer baru lain,” urainya lanjut.
Saat itu, Abdi Wesly mengatakan kepada Tri Sukamto, ia harus bisa memilih, mau jadi pengusaha atau tetap bekerja di bank. Tidak bisa sambil-sambilan. Akhirnya diputuskan jadi pengusaha. “Pada Oktober 2018 saya resign dari Bank Permata dan fokus menjalankan usaha,” ujarnya serius.

Menurut Tri, karena tidak memiliki latarbelakang di bidang manufaktur, maka ia harus mencari leader yang berlatarbelakang manufaktur di Tegal dan setidaknya merekrut 4 karyawan operator. “Awal produksi hanya merekrut 5 karyawan, yaitu 1 leader dan 4 operator lulusan STM yang sudah pernah bekerja membuat komponen otomotif,” lanjutnya.
Uniknya di IKM otomotif, tambah Tri, satu komponen otomotif hanya dipasok dari 1 IKM, tidak boleh 1 komponen yang sama dipasok oleh lebih dari satu perusahaan manfaktur. Ini artinya diperlukan quality dengan presisi yang sangat tinggi. Batas toleransi di bawah 1 persen atau nyaris 100 persen sempurna produk yang dihasilkan.
Beruntung sebelum produksi, Tri dan timnya mendapat pelatihan dari YDBA tentang QCD dan 5R (yaitu Rapih, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas). Tidak hanya itu, ia juga mendapat arahan-arahan dari customers, sehingga dapat beradaptasi dengan customer yang ternyata sebagai tier 1 dari rantai pasok Astra Group.
Konsep 5R yang diajarkan YDBA benar-benar dijalankan dan visual 5R tercermin jelas di lingkungan workshop. Semua karyawan dapat mengetahui dan menjadi suatu budaya. Pihak YDBA selalu mengevaluasi kinerja usaha. Misalnya dari pertumbuhan usaha, ada peningkatan atau tidak.
Menurut Tri, pembuatan komponen otomotif menggunakan alat, beda halnya pembuatan komponen alat berat yang dilakukan secara manual. Sehingga presisi pembuatan komponen otomotif sangat tinggi, bahkan tidak ada toleransi kesalahan. Walaupun awal menjalankan usaha, ada kendala, seperti trial and error. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, akhir proses produksi bisa diikuti sesuai dengan flow produksi, sehingga menjadi SOP (Standard Operating Procedure) baku.
Memang awalnya sempat membuat komponen alat-alat berat. Namun demikian, dalam waktu bersamaan juga mengerjakan komponen otomotif. Itu sebabnya, core bisnis Bimuda adalah otomotif stamping dan alat berat.”Memang awalnya saya rekrut leader pemain alat-alat berat. Di Tegal banyak pemain alat-alat berat. Di Tegal juga banyak pemain yang bikin komponen otomotif motor bukan untuk pabrikan,” terangnya.
Sementara kalau investasi di komponen alat-alat berat tidak terlalu besar, karena hanya membutuhkan mesin las yang nilainya yang tidak mahal dibandingkan investasi memproduksi komponen otomotif. Pekerjaan memproduksi komponen alat-alat berat hanya jasa welding saja. Untuknya, dalam tempo singkat, kata Tri, ia berkenalan dengan Abdi Wesly yang memperkenalkan dirinya dengan pembuatan komponen otomotif, yang akhirnya masuk supply chain Astra Group.
“Sekarang 70 persen menangani pekerjaan pembuatan otomotif yang masuk dalam supply chain Astra. Hanya sekitar 30 persen menangani komponen alat-alat berat untuk memenuhi kebutuhan sesuai pesanan,” tambah Tri.
Ia pun mulai menjajaki pasar yang lebih luas. Pada tahun 2019 ada tambahan 2 mesin Stamping dan mesin progressive yang menghasilkan quantity produksi lebih banyak. Tambahan investasi tersebut juga dipasok dari Abdi Wesly dengan cara kredit. Saat itu ia mulai dikenalkan dengan PT Nandya Karya Perkasa (NKP) dan akhirnya NKP secara otomatis menjadi bapak angkat Bimuda.
Tri menambahkan, produksi pertama yang dihasilkan adalah bracket untuk otomotif. Bimuda pada awalnya berada pada posisi tier 3 dan 4 dari OEM (Original Equipment Manufacturer) , melalui Abdi Wesly yang berada pada posisi tier 2 dan 3. Sedangkan posisi Bimuda di NKP sudah masuk tier 2.
Menurut Tri, ada dua sistem dalam proses pengadaan raw material pada tier 2 dan 3. Ada yang dipasok dari customer, dimana Bimuda hanya mendapat pembayaran pembuatan komponen. Ada juga customer yang meminta raw material disediakan Bimuda (tier 2 dan 3) dengan standar bahan baku yang sudah ditentukan. “Yang penting quality, cost dan delivery sesuai yang ditetapkan. Tapi kalau harganya tidak masuk, misalnya, bisa negosiasi,” jelasnya.
Lebih lanjut ditambahkan, tahun 2019 Bimuda mengalami pertumbuhan sangat tinggi dengan karyawan 20 orang. Sayangnya, baru bertumbuh, tapi tahun 2020 kembali anjlok karena munculnya wabah Covid-19. Selama pandemi, diakuinya order hanya tersisa 10 persen. Terpaksa harus memangkas karyawan.
Baru tahun 2021 – 2022 mulai bangkit kembali. Karyawan yang sempat dirumahkan dan belum mendapat kerja dipanggil lagi. Bahkan, setelah Covid tahun 2022, Bimuda sudah masuk dalam kategor IKM binaan YDBA yang sudah mandiri. Kini karyawan Bimuda mencapai 40 orang, setelah sempat memiliki 50 karyawan sebelum pandemi.
Bila pada tahun awal berdiri, Bimuda baru mampu mencetak omzet sekitar Rp 30 juta per bulan dengan kondisi memiliki 4 mesin stamping. Setelah Covid, Bimuda menambah 3 mesin stamping dan mesin-mesin yang lain. Saat ini mesin stamping ada 9 unit, ada mesin welding 5 unit, mesin robot welding 1 unit, dan spot welding 1 unit. Terus ada mesin shearing, mesin cutting dan beberapa mesin lainnya.
Bahkan omzet Bimuda tahun 2023 -2024 mencapai Rp 5 – 6 miliar per tahun. Tapi tahun 2024 akhir sampai sekarang ini omzet cenderung turun karena faktor ekonomi global dan domestik yang menurun.”Bimuda memproduksi komponen untuk roda dua dan roda empat (sepeda motor dan mobil-red). Permintaan komponen roda empat yang menurun,” ujar Tri seraya menambahkan, inginnya target tahun 2025 di atas Rp 10 miliar per tahun, tapi sampai semester 1 2025, masih jauh panggang dari api.
Terbukti dari tiga shift slot produksi yang disediakan saat ini, lanjut Tri, hanya satu shift yang jalan. Itu pun dari satu shift yang jalan, utilisasi produksi hanya 80 persen. Artinya kapasitas produksi yang terpasang saat ini hanya kurang lebih 20-an persen dari tiga shift yang disiapkan.
Menurut Tri, saat sedang mencari customer-customer baru lagi dan merambah pasar komponen otomotif di aftermarket. Aftermarket maksudnya pasar untuk produk (seperti suku cadang, aksesori, atau peralatan) yang diproduksi oleh pihak ketiga, bukan oleh produsen asli produk utama, untuk digunakan dalam pemeliharaan, perbaikan, atau peningkatan produk asli tersebut. Produk aftermarket umumnya lebih terjangkau dan memiliki ketersediaan yang luas.
Selain itu, peluang pasar juga bisa berasal dari YDBA yang sering mengadakan link and match dengan Astra Group. “Kemarin Astra Daihatsu Motor membawa 23 IKM untuk berkompetisi sesama IKM untuk meningkatkan kompetensi agar bisa masuk ke tier 2 supply chain Astra Group. Saat ini sedang berproses untuk membuat penawaran,” tambah Tri.
Tahun 2024 Bimuda mendapat penghargaan platinum di ajang kompetisi binaan mitra UMKM Award 2024. Tahun 2025 juga Bimuda mendapat penghargaan dari AHM (Astra Honda Motor) penghargaan quality control circle (QCC) untuk kategori individu juara 1 dan untuk kategori grup, juara 2. Sebelumnya perusahaan ini mendapat penghargaan Peringkat III Kompetisi QCC 2021 dan Peringkat 1 dalam Kompetisi 5R pada tahun 2022 yang diselenggarakan YDBA.
Adapun target 2026 Bimuda akan ekspansi ke pembuatan dies dengan nilai investasi mencapai Rp 500 juta. Walaupun saat ini baru memproduk 5 dies untuk kebutuhan internal perusahaan. Namun demikian, Tri optimis bisa mendapat customer baru di tahun 2026, dari pembuatan dies dan lainnya. “Ini baru satu bulan berjalan membuat dies dan nantinya akan menjadi divisi baru di Bimuda,” kata Tri mengunci percakapan. [] Siti Ruslina
