Kilang Mini LNG Pertama Resmi Beroperasi, Alternatif Distribusi Gas Bumi
Kini distribusi gas bumi di Indonesia tidak lagi bergantung pada jaringan pipa. Boleh jadi banyak kawasan industri dan pembangkit listrik dapat terjangkau gas bumi. Berbagai terobosan mulai dihadirkan agar gas bumi bisa menjangkau lebih banyak kawasan industri dan pembangkit listrik.
Untuk pertama kalinya di Pulau Jawa, gas produksi dalam negeri dicairkan menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) dalam skala mini. Dengan model demikian, menghadirkan alternatif cara penyaluran gas bumi yang jauh lebih fleksibel bagi industri dan sektor ketenagalistrikan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, pada 11/2, meresmikan Kilang Mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas, di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur. Fasilitas ini menjadi kilang mini LNG pertama di Pulau Jawa dan diharapkan memperkuat pemanfaatan gas bumi domestik sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
“Peresmian kilang mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas ini merupakan kilang LNG pertama di Pulau Jawa. Ini merupakan momentum bagaimana kita bisa memanfaatkan gas produksi dalam negeri, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan industri, pembangkit listrik, dan juga berbagai kegiatan ekonomi lain. Ke depan tidak tertutup kemungkinan pemanfaatan LNG melalui kilang mini ini didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Yuliot.
Ia menyoroti besarnya beban subsidi LPG nasional yang diperkirakan mencapai Rp87 triliun pada 2025. Menurutnya, keberadaan fasilitas mini LNG ini berpotensi mendorong substitusi LPG ke LNG, sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan efisiensi anggaran negara.
Proyek ini dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp247 miliar dan dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 20 ton LNG per hari, atau hampir 7.000 ton per tahun. kehadiran fasilitas ini dapat menjadi role model bagi para pelaku usaha di berbagai daerah dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan potensi gas, khususnya di wilayah-wilayah penghasil gas bumi di Indonesia.
PT Likuid Nusantara Gas (PT LNG), merupakan perusahaan patungan antara PT Jababeka Infrastruktur, entitas anak KIJA menguasai 60% saham. Sementara itu, PT Fortius Development Asia dan pemegang saham perorangan masing-masing memiliki 20% saham. Total investasi yang digelontorkan untuk pembangunan fasilitas ini mencapai sekitar US$16,9 juta, , sebagaimana dikutip dari industry.co.od, posting13/2.

Budianto Liman, Wakil Direktur Utama PT Jababeka, mengapresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur energi ini. “Pabrik ini merupakan pabrik mini LNG pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa. Kami yakin fasilitas ini dapat berkontribusi pada penyediaan energi yang lebih rendah emisi dan kompetitif bagi pelaku industri,” ujarnya, masih dari sumber yang sama..
Berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi awal sebesar 2,5 MMSCFD (million standard cubic feet per day) dengan potensi ekspansi hingga 4 MMSCFD per hari. Operasionalnya diharapkan mampu meningkatkan kontribusi bisnis infrastruktur yang bersifat recurring terhadap pendapatan KIJA, seiring meningkatnya kebutuhan energi industri yang lebih ramah lingkungan.
Dari sisi industri dalam negeri, proyek ini menonjol berkat tingkat kandungan komponen lokal yang tinggi. “Dari pengembangan teknologi, mini LNG ini menggunakan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN yang cukup tinggi, sekitar 86% dari informasi yang kami terima. Jika dibandingkan dengan standar yang kita tetapkan sekitar 30-40%, capaian ini jauh di atas ketentuan. Tentu ini merupakan bagian dari kolaborasi teknologi. Tadi Mr Ambassador juga menyampaikan bahwa ini merupakan kolaborasi teknologi antara Indonesia dengan Galileo, perusahaan teknologi dari Argentina,” jelasnya.
Di lahan seluas satu hektare, PT. Liquid Nusantara Gas kini mengoperasikan unit-unit modular cryobox. Direktur Utama PT. Liquid Nusantara Gas, Wira Rahardja, menyatakan bahwa saat ini ada tiga mesin cryobox dari Galileo Technologies dan akan ditambah menjadi lima.
“Teknologi ini kami pilih karena paling tepat untuk mini LNG. Selain mudah dipindahkan, proses instalasi dan pengoperasiannya juga relatif cepat. Ke depan akan ada lima cryobox, dengan kapasitas produksi sekitar 2.500 ton LNG per bulan,” ujar Wira.
Cryobox merupakan pemanfaatan teknologi Nano LNG Liquefaction, yakni kombinasi unik prinsip Joule-Thomson dengan loop refrigerant (propana) tertutup yang memungkinkan unit mulai memproduksi LNG dalam waktu sekitar lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit. Karakter modular dan cepat operasional itulah yang membuat instalasi cocok untuk lokasi industri atau pelabuhan kecil tanpa memerlukan infrastruktur tetap yang besar.
“Melalui Galileo Technologies, Argentina menyediakan solusi modular dan efisien yang mendukung transisi energi. Proyek ini bukan sekadar menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia, memperluas pilihan bahan bakar bersih, dan mengembangkan infrastruktur modern di wilayah kepulauan,” jelas Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa.
Kilang Mini LNG milik PT. Liquid Nusantara Gas memanfaatkan pasokan gas dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait yang dikelola oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Gas tersebut kemudian diolah menjadi LNG agar lebih praktis dan efisien untuk didistribusikan ke pembangkit listrik, kawasan industri, serta berbagai pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.
Sinergi antara hulu dan hilir ini menandai babak baru dalam pemanfaatan gas domestik untuk memenuhi kebutuhan energi bersih bagi masyarakat dan pelaku industri. Melalui skema ini, gas yang dihasilkan tidak hanya mengandalkan jaringan pipa konvensional, tapi juga diolah menjadi bentuk cair untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, sebagimana dikutip dari rri.co.id, posting 12/2.
“Gas yang dihasilkan dari Lapangan BD Wilayah Kerja Madura Strait dialirkan dan dilakukan pengolahan di kilang mini ini untuk dimanfaatkan bagi berbagai kegiatan,” katanya.
Yuliot menambahkan, langkah HCML dalam menyediakan pasokan gas secara berkelanjutan menjadi kunci utama dalam upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor elpiji yang selama ini menguras devisa negara. Produksi dari sektor hulu tersebut langsung diserap untuk diolah menjadi energi yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan bagi konsumen lokal.[] Yuniman Taqwa
