Pemerintah Iran Beri Respon Positif Terhadap 2 Kapal Tanker Pertamina Melewati  Selat Hormuz

Pemerintah Iran telah menyampaikan pertimbangan positif atas jaminan keamanan perlintasan armada kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz. Meski demikian, pelintasan tersebut belum dapat langsung dilakukan. Masih membutuhkan kesiapan teknis operasional dari pihak Pertamina,

Sejak ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran, membuat distribusi minyak dunia terganggu. Betapa tidak, sekitar 20 persen lalu lintas migas global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap konflik di kawasan tersebut dapat berdampak pada pasokan energi internasional. Boleh jadi Indonesia akan terdampak akibat perang antara Amerika Serikat dan  Israel melawan Iran, karena sebagian impor minyak mentah Indonesia melewati jalur tersebut.

Sekitar 19–25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz/foto: ist

Sekitar 19–25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital bagi ketahanan energi nasional. Di tengah ketegangan geopolitik tahun 2026, pemerintah mengamankan pasokan melalui diversifikasi ke negara lain, seperti AS, dan memastikan kapal tanker Pertamina beroperasi di bawah pemantauan ketat. 

Sepanjang 2025, misalnya,  Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel di antaranya berasal dari Arab Saudi. Selebihnya, pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari berbagai sumber, antara lain Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk BBM.

Ada dua kapal Pertamina—supertanker atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dan Gamsunoro—yang terjebak di Selat Hormuz. VLCC Pertamina Pride dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro untuk melayani pihak ketiga (non-Pertamina).

Awalnya terdapat empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah. Antara lain; Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman. Belakangan, PIS Paragon dan PIS Rinjani berhasil keluar dari wilayah konflik Timur Tengah, dan tengah melayani distribusi energi untuk mitra pihak ketiga.

Pemerintah Iran menyatakan, kapal-kapal yang mereka kategorikan sebagai non-hostile atau yang tidak bermusuhan, diizinkan melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan melalui nota resmi Kementerian Luar Negeri Iran kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO), sebagaimana dilansir AFP.

“Kapal-kapal non-hostile, sepanjang mereka tidak berpartisipasi maupun mendukung tindakan agresi terhadap Iran, serta sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang dinyatakan, bisa mendapat manfaat dari lintasan aman melalui Selat Hormuz dengan berkoordinasi dengan otoritas yang berwenang,” bunyi pernyataan resmi tersebut.

Otoritas Iran masih memberlakukan kebijakan blokade selektif di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi atau sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Kawasan ini dibatasi berdasarkan afiliasi negara asal kapal. Armada dari negara yang berkonflik dengan Teheran dilarang melintas, sementara akses terbatas diberikan kepada negara-negara netral, termasuk Indonesia.

Pemerintah bersama pihak-pihak terkait terus memperkuat koordinasi guna mendukung proses pelintasan kapal Indonesia yang berada di kawasan Teluk Persia agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), persetujuan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Kemlu RI, KBRI Teheran, pihak Pertamina, Kedutaan Besar Iran di Jakarta, dan otoritas terkait di Teheran.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyampaikan bahwa Kementerian ESDM terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait untuk mendukung kelancaran proses tersebut, sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi nasional.

“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Anggia di Jakarta, Minggu (29/3).

Vahd Nabyl A. Mulachela: Kemenlu bersama dubes Indonesia di Teheran telah melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Iran guna memastikan keselamatan kapal dan awak kapal Indonesia/foto: ist

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran sejak awal telah melaekukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Iran guna memastikan keselamatan kapal dan awak kapal Indonesia.

“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” kata Nabyl.

Pemerintah Iran telah menyampaikan pertimbangan positif atas jaminan keamanan perlintasan armada kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz. Meski demikian, pelintasan tersebut belum dapat langsung dilakukan.

Kemlu RI mencatat bahwa tindak lanjut dari tanggapan positif Iran ini masih membutuhkan kesiapan teknis operasional dari pihak Pertamina, yang mencakup penyelesaian perlindungan asuransi pelayaran serta kesiapan kru kapal, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, yang posting pada 29/3.

Kemlu RI dan KBRI Teheran menegaskan akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna memastikan kelancaran dan keamanan pelintasan armada milik Pertamina di kawasan tersebut.

Ada beberapa negara di kawasan Asia terpantau telah mendapatkan izin khusus untuk mengoperasikan armadanya. China telah menerima jaminan keamanan penuh dari Teheran untuk seluruh kapal tankernya, meskipun sempat terjadi penundaan keberangkatan karena alasan teknis. Selain itu, negara-negara seperti Pakistan, India, dan Malaysia juga telah mengantongi izin serupa setelah melalui komunikasi bilateral dengan otoritas Iran.

Pertamina menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Pemerintah Indonesia dalam penanganan situasi ini. Saat ini, Pertamina melalui Pertamina International Shipping (PIS) tengah mempersiapkan aspek teknis dan administratif agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.[] Yuniman Taqwa