Cara Petani Banyuwangi Sumartini Pindah Haluan dari Lahan Pajale ke Budidaya Buah Naga
Menanam tanaman pangan seperti Pajale (Padi, Jagung dan Kedele) rentan dengan kerugian. Memang sekali tanam, tiga bulan sudah panen. Namun bila gagal panen, uang modalpun lenyap. Sementara menanam buah naga, cukup sekali tanam, panennya bisa berkali-kali dan hasil panen pun menjanjikan.

Tak ragu-ragu Sumartini mengambil keputusan berpindah haluan menjadi petani buah naga. Sebelumnya ia hanya menanam pajale (padi, jagung, kedele-rep), namun pada 2013 bersama teman-teman di Kelompok Tani Sinar Jati, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ia mendapat pencerahan dari Dinas Pertanian Provinsi bahwa ada prospek yang lebih baik di bidang hortikultura. Kelompok Tani yang berdiri tahun 2006 ini pun awalnya mencoba peruntungan menanam melon dan cabai merah. Namun ternyata, harga jualnya fluktuatif. Hingga suatu hari ada yang menawarkan menanam buah jeruk dan naga. “Tahun 2015 mulai beralih ke buah naga. Kontraknya sampai 2020 harus sudah go organic,”ungkap Sumartini tentang awal bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur.
Kepada pelakubisnis.com Sumartini menjelaskan bedanya menanam tanaman pangan seperti pajale dengan menanam buah naga. Kalau menanam pajale siklusnya lebih pendek. Sekali tanam tiga bulan panen. Kalau tidak panen atau gagal panen modal ikut habis. Karena tidak panen 1 musim saja modal tidak kembali. Sementara budi daya buah naga, kita sekali tanam saja yang penting perawatannya intensif rutin bisa jalan. Sekali tanam buah naga menunggu 9 bulan baru muncul bunga. Kurang lebih 1 tahun baru panen itupun cabangnya masih sedikit. Setidaknya 1 tahun baru bisa dijual.
Tak pelak, 80 persen masyarakat petani di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi saat ini memilih menanam buah naga dan jumlah petaninya bisa ratusan orang. Diakuinya sekitar ½ hektar lahan milik sendiri, 1//4 hektar sewa. Namun karena kebutuhan untuk sekolah anak ¼ hektar lahan buah naganya ia jual. Sekarang ia banyak menyewa lahan milik orang. Total lahan yang digunakan Sumartini untuk budi daya buah naga sekitar 0,75 hektar.
Dari lahan 0,1 hektar per tahun bisa menghasilkan 24 ton. Diakuinya dibanding padi, menjual buah naga penghasilan bersihnya meningkat 50%. Bahkan ia sudah bisa membeli tanah bangunan dan toko sebesar kurang lebih 500 meter persegi.
Usahanya mulai berkembang ketika Dinas Pertanian setempat membinanya. Dan ada offtaker seperti PT Indo Multi Niaga (IMN , pengelola perusahaan pertambangan yang kemudian diambil alih PT Bumi Suksesindo (BSI) sebagai operator membina masyarakat di Desa Sumbermulyo yang menampung hasil budi daya buah naga. “Disitu kami diajarkan bagaimana menanam yang baik, bagaimana pupuknya, dan lain-lain,”ujar lulusan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) jurusan dan hortikultura ini.
Baru tahun 2020, hadir PT Nusa Tropical Indonesia atau Nusafresh, perusahaan ekspor yang bergerak di bidang pertanian, yang bekerjasama dengan Astra Group melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) dan dari situ Poktan setempat beralih ke tanaman organic. “Sejak bertemu tim CSR PT IMN, kami mendapat banyak ilmu dari pelatihan yang diselenggarakan PT IMN bahkan sampai menjadi fasilitator desa pertanian organic,”terang Sumartini seraya menambahka n, pada tahun 2020 PT Nusafresh memberikan banyak ilmu tentang bagaimana mekanisme proses pengiriman ekspor impor.

Bersama kelompok tani terbuka jalan lebih luas ketika bertemu dengan tim DSA dan Nusafresh order dari tahun 2000 sampai 2023 untuk spek ekspor ke negara-negara Eropa seperti Italia, Hongkong dan Singapura. “ Permintaannya sedikit paling 500 kilogram. Sebenarnya permintaan banyak namun kita tidak bisa supply. Karena susah untuk menghasilkan buah kualitas ekspor itu,”ungkap wanita 58 tahun ini seraya menambahkan, bersama Nusafresh poktan asal Banyuwangi ini mendapat fasiltas pelatihan untuk meningkatkan produktivitas budidaya buah naga, juga kemudahan akses pasar local hingga ekspor. Selain dengan Nusafresh, poktan ini juga bermitra dengan PT Oreng Osing (Salein).
Menurut Sumartini, yang menjadi kendala hingga saat ini, kita belum bisa menghasilkan buah yang seragam dengan ukuran yang sama kualitas sama karena perubahan iklim yang tidak menentu. Selama ini hanya bisa disiasati dengan hal sederhana untuk meminimalisir buah rusak. Alhasil, dari 10 persen kini mampu menaikkan hingga 25% dalam hal peningkatan kualtasnya.
Pun, lanjutnya, disepakati bersama offtaker sebagai mitra, hasil budidaya buah naga dibagi dalam beberapa spek. Ada spek A1 untuk pasar modern seperti supermarket yang saat ini komposisinya baru 20%, ada spek produk A2 yang diperuntukkan pasar B2B seperti hotel dengan komposisi 35% dan sisanya segmen pasar BC (pasar tradisional/pasar becek) yang masih ada kendala dalam menyusun strategi harga.
“Untuk yang tidak laku di pasaran sekarang sudah ada solusi, saya dan teman-teman sudah bisa bikin sale. Nanti buah naga yang sudah dikeringkan akan dibeli PT Salein. Kemudian dibikin sale. Kita jual online juga untuk sale,”papar Sumartini yang menyebutkan total produksi bersama teman-teman bisa mencapai 3 ton sekali panen. Tapi yang masuk ke pasar modern baru 20 – 25%.
Kendati keuntungan yang diperoleh lebih besar dari menanam pajale, namun diakui Sumartini kendala tetap saja ada seperti tanaman terkena hama yang sulit dikendalikan. Mulai dari budidaya sampai pemasaran, ia bergerak bersama teman-teman Poktan di desanya berdasarka n SoP (Standard operating procedure). Sejauh ini menurutnya buah rijek isinya dibuat menjadi naga kering. Sementara untuk kulit, dan pucuk daun dijadikan pupuk padat dan cair. Tapi menurutnya baru digunakan untuk kebutuhan produksi sendiri. Dakuinya 100% memakai pupuk olahan sendiri . Bisa ribuan liter dari limbah kulit buah naga dan daun-daunnya.
Tahun 2022 datang YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra-red) yang membantu mencarikan pasar-pasar baru seperti masuk ke pasar modern seperti swalayan. Sebelumnya sudah masuk sendiri tapi melalui pihak ketiga. Dalam hal ini kontribusi pasar modern baru sekitar 20 persen. “Bulan April tahun ini kami akan ikut pelatihan varietas baru, dari varietas buah naga pink,”jelasnya.
Untungnya YDBA terus mencarikan pasar business to business (B2B) seperti masuk ke hotel, resto dan kafe (horeka). Kebetulan ia dan tim Kelompok Tani sudah memiliki sertifikat organic dari Lembaga Sertifikasi Organik Independen (LeSos) di tahun 2022.
Sementara dari YDBA ia banyak belajar tentang materi basic mentality, pembukuan berimbang, pelatihan demi pelatihan diikuti, ada pendampingan, dicarikan pasar, mengirim sampel hingga dicarikan jalan mencari permodalan.
Selain menanam buah naga, mantan karyawati perusahaan ekspor impor ini juga melakukan tumpang sari dengan menanam jahe di bawah pohon naga yang hasilnya dijadikan serbuk dan dijual.
Sejak berhenti kerja ia mulai belajar menanam tanaman pangan pajale. Setidaknya kedisplinan kerja semasa menjadi karyawan dipraktekkan. Dulu ia hanya menjual hasil pangan pajale, kini ia benar-benar menerapkan ilmu pertanian lewat budi daya buah naga.
Target tahun ini ia berharap bisa mengeluarkan buah kualitas BC . Dan ada yang menampung tidak hanya masuk ke pasar becek dengan harga sekitar Rp 14 – 15 ribu per kilogram sudah termasuk ongkos kirim, sementara di segmen pasar A1 dijual dengan harga Rp 24 – 25 ribu dan segmen A2 dijual dengan kisaran harga Rp25 – 33 ribu. Sumartini berharap, omzet bisa naik 10% di tahun ini dibanding tahun lalu dimana penjualan bisa mencapai 3 ton per bulan. Bila kita kalikan dengan harga terendah Rp15 ribu, omzet Sumartini bisa mencapai Rp45 juta per bulan.[] Siti Ruslina
