Pertamina  Ingin Jadi Lokomotif Penggerak Industri Nasional

Skala bisnis Pertamina yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir memberikan peluang besar untuk meningkatkan penyerapan produk dan jasa dalam negeri. Melalui sinergi Holding, Subholding, hingga Anak Perusahaan, Pertamina terus mengoptimalkan belanja perusahaan agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri nasional.

PT Pertamina (Persero) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri nasional melalui penyelenggaraan Pertamina P3DN Summit 2026. Ajang ini menjadi wujud nyata peran Pertamina sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, tidak hanya dalam menjaga ketahanan energi, tetapi juga dalam mendorong Peningkatan Penggunaan Produk dalam Negeri (P3DN), memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.

Komitmen tersebut memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan kajian independen Universitas Indonesia (2025), implementasi P3DN di lingkungan Pertamina menghasilkan output ekonomi nasional sebesar Rp1.388,9 triliun, berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp772,9 triliun, serta mendukung penyerapan sekitar 4,47 juta tenaga kerja.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan bahwa penyelenggaraan P3DN Summit 2026 sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam memperkuat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah industri, dan mewujudkan kemandirian ekonomi.

“Pertamina ingin menjadi lokomotif yang menggerakkan industri nasional menuju panggung global. Setiap investasi yang dilakukan harus mampu memperkuat kapasitas industri dalam negeri. Dengan demikian, setiap proyek energi bukan hanya menghadirkan manfaat bisnis, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi Indonesia,” ujar Simon.

Sementara itu, Direktur Logistik & Infrastruktur Pertamina, Jaffee Arizon Suardin, menjelaskan bahwa skala bisnis Pertamina yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir memberikan peluang besar untuk meningkatkan penyerapan produk dan jasa dalam negeri. Melalui sinergi Holding, Subholding, hingga Anak Perusahaan, Pertamina terus mengoptimalkan belanja perusahaan agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri nasional.

“Pertamina hadir bukan hanya sebagai pengguna produk dalam negeri, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi pertumbuhan industri nasional. Ketika produk lokal semakin banyak terserap, industri manufaktur akan semakin berkembang, investasi meningkat, dan lapangan kerja baru tercipta. Inilah makna sesungguhnya dari Energizing Indonesia—tidak hanya menghadirkan energi bagi negeri, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Jaffee.

Komitmen tersebut tercermin dari realisasi belanja produk dalam negeri Pertamina sepanjang tahun 2025 yang mencapai Rp531,5 triliun, meningkat 27,95 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari belanja infrastruktur operasional dan kegiatan pemeliharaan (maintenance) sebesar Rp309,6 triliun atau sekitar 58,2 persen dari total realisasi.

Hingga Juni 2026, realisasi penyerapan belanja produk dalam negeri Pertamina telah mencapai Rp239,9 triliun, mencerminkan konsistensi perusahaan dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Melalui P3DN Summit 2026, Pertamina berharap dapat mempererat kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, dan UMKM untuk mempercepat transformasi industri Indonesia agar semakin kompetitif dan mampu bersaing di pasar global.

Pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan industrialisasi sebagai bagian dari Asta Cita, untuk memperkuat swasembada energi, memperluas akses energi, mempercepat transisi energi, serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.  Salah satu instrumen utama untuk mewujudkan agenda tersebut adalah Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Langkah ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global yang masih dipengaruhi dinamika geopolitik dan berpotensi memberikan tekanan terhadap rantai pasok energi dunia.

Airlangga: Pertamina adalah bedrock atau tumpuan perekonomian Indonesia/foto: doc. Menko Perekonomian

“Kita lihat bahwa ketidakpastian dan ketidakprediksian dunia ini masih terus berjalan. Oleh karena itu bagi Pertamina menjadi penting untuk mencari sumber-sumber diversifikasi energi. Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi kita sudah bisa produksi sendiri,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Summit di Jakarta, pada 22/7.

“Karena infrastruktur untuk ekonomi yang pertama energi, yang kedua energi, yang ketiga energi. Mau itu industri, mau itu digitalisasi, semuanya yang pertama energi dulu, kemudian infrastruktur berikut adalah listrik, baru kita bisa bangun mulai industri dan yang lain. Jadi ini adalah bedrock Indonesia adalah Pertamina,” kata Airlangga..

Airlangga Hartarto, mengapresiasi kontribusi Pertamina dalam memperkuat fondasi perekonomian nasional. Menurutnya, Pertamina adalah bedrock atau tumpuan perekonomian Indonesia. “Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pertamina atas kontribusi nyata ini,” ujar Airlangga.

Airlangga menyoroti besarnya alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sektor migas dan petrokimia yang selama ini masih didominasi produk permesinan, komponen elektrik, serta jasa rekayasa (engineering) luar negeri.

Oleh karena itu, Airlangga mendorong sinergi antara Kementerian/Lembaga terkait untuk rekayasa industri guna merebut kembali porsi pengerjaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dalam negeri. Ia menegaskan agar proyek-proyek strategis, seperti pengerjaan Andaman Project di lepas pantai Aceh, menjadikan Aceh sebagai laying down area, sehingga manfaat multiplier effect dan penyerapan tenaga kerja lokal dapat terwujud secara maksimal.

“Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineers-engineers Indonesia. Kemudian beberapa alat yang juga sudah kita siap, tentunya di Indonesia sudah punya wellhead, sudah punya valve, punya pressure vessel dan juga chemicals project ataupun product. Sehingga tentu ini diharapkan kemampuan dan juga multiplier effect dari project betul-betul bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri,” ujar Airlangga.[] Yuniman Taqwa