Industri Mamin, Bidik 5 Besar Pemain Global pada 2030

Implementasi industri 4.0 diyakini mampu meningkatkan ekspor makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sekitar USD12,65 miliar yang akan menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025. Langkah apa yang diambil untuk mencapai target tersebut?

Kementerian  Perindustrian (Kemenperin) berupaya menggenjot ekspor lima sektor industri potensial pada ta­hun 2019. Salah satu dari kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman. Sebab, sektor ini konsisten memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Bahkan Kemenperin memproyeksikan ekspor industri nonmigas tembus US$ 130,74 miliar atau setara dengan Rp 1895 triliun (kurs Rp 14.500/per-dollar AS) sepanjang 2018. Proyeksi ini meningkat 4,51% dibandingkan realisasi ekspor industri nonmigas tahun lalu sebesar US$ 12,10 miliar. Dari jumlah tersebut industri makanan dan minuman  menyumbang sebanyak 6,34%.

Nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2017 mencatatkan di angka USD31,7 miliar, sehingga mengalami neraca perdagangan yang positif apabila dibandingkan dengan impor produk mamin pada periode yang sama sebesar USD9,6 miliar.

Foto: Kokola Group

Pertumbuhan ekspor pada periode Januari-Juni 2018 untuk industri makanan tumbuh sebesar 2,51%, sedangkan industri minuman tumbuh sebesar 8,41%. Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, Agustus lalu mengatakan, dalam menggenjot industri makanan dan minuman agar lebih berdaya saing di era industri 4.0, Kemenperin memacu produktivitas dari sektor hulu, mendorong penerapan teknologi terkini, serta memberdayakan sektor industri kecil dan menengah (IKM) terkait.

Sebut saja Implementasi industri 4.0 diyakini mampu meningkatkan ekspor makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sekitar USD12,65 miliar yang akan menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025. Oleh karena itu, Kemenperin menyiapkan tahapan strategi guna mencapai sasaran tersebut sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Dalam roadmap ditetapkan bahwa industri makanan dan minuman merupakan satu dari lima sektor manufaktur kita yang siap dan tengah diprioritaskan pengembangannya untuk menjadi pionir memasuki era revolusi industri 4.0 di Tanah Air,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin Abdul Rochim mewakili Direktorat Jenderal Industri Agro pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Yogyakarta, akhir Agustus lalu.

Pemerintah menargetkan pada  tahun 2025, industri makanan dan minuman nasional dibidik menjadi pemimpin di pasar makanan kemasan sederhana hingga medium di tingkat Asean. Produk yang difokuskan, antara lain air minum dalam kemasan, mi, teh siap saji, dan kopi.

“Pada 2030, Indonesia ditargetkan menjadi lima besar eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global,” imbuhnya. Rochim pun mengungkapkan, saat ini 30 persen industri makanan dan minuman di Indonesia telah menerapkan teknologi industri 3.0. “Sedangkan, sejumlah perusahaan besar sudah menerapkan industri 4.0 di beberapa bagian lini produksi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari mnews.co.id.

“Kami berupaya meningkatkan efisiensi pada rantai pasokan, menciptakan inovasi kemasan makanan dan minuman yang modern, meningkatkan skala ekonomi industri, serta mempercepat ekspor,” imbuh Achmad Sigit. Dengan penerapan program prioritas di era revolusi industri 4.0 tersebut, Sigit meyakini industri makanan dan minuman nasional dapat menjadi kekuatan besar di Asean.

Bahkan, dalam rangka percepatan pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional, selain melalui penerapan revolusi industri 4.0, Kemenperin menyiapkan berbagai insentif untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor tersebut. “Insentif itu antara lain, pembebasan pajak (tax holiday), pengurangan pajak, dan pembebasan bea masuk atas impor mesin,” katanya, sebagaimana dikutip dari wartaekonomi.co.id.

Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, dalam keterangan tertulis mengatakan, empat langkah strategis yang dijalankan Kemenperin dalam upaya mewujudkan industri makanan dan minuman nasional yang mampu kompetitif di era digital. Pertama, memfasilitasi perangkat cerdas berupa Cyber-Physical Systems untuk mengintegrasikan jaringan Internet of Things dengan lini produksi agar hasilnya menjadi lebih efisien, optimal dan berkualitas, sebagaimana dikutip dari detik.com.

kedua, memperbaiki aliran bahan baku untuk menjaminnya pasokan kepada industri makanan dan minuman. Upaya ini perlu dilakukan melalui kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Seperti menerapkan tekonologi cerdas di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, seperti melalui sistem pemantauan otomatis atau drone autopilot.

Ketiga, mengimplementasikan peta jalan industri 4.0 dengan melibatkan sektor hulu sampai hilir agar terciptanya keterpaduan untuk meningkatkan daya saing industri makanan dan minuman nasional.

Keempat, yakni Kemenperin akan memberikan pelatihan mengenai upaya peningkatan ekspor serta menggelar pertemuan bisnis dan promosi investasi di sektor industri makanan dan minuman.

Sigit meyakini, apabila keempat jurus tersebut terlaksana dengan baik, industri makanan dan minuman nasional mampu menjadi pemimpin di pasar makanan kemasan sederhana hingga medium di tingkat Asean pada tahun 2025. Bahkan,Indonesia diproyeksi masuk dalam jajaran lima besar negara eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global pada tahun 2030.

“Oleh karenanya, dibutuhkan langkah sinergi antara pemerintah, pelaku industri dan pihak akademisi karena ke depannya akan memerlukan banyak kegiatan riset untuk menghasilkan inovasi. Untuk itu, kami memberikan apresiasi atas terselanggaranya International Conference on Agro Industry (IcoA),” paparnya.

Sementara Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, mengatakan pihaknya mendorong ekspor industri makanan dan minuman halal yang saat ini merupakan sektor potensial dan siap  dikembangkan lebih jauh agar membantu kinerja ekspor nasional dan neraca transaksi berjalan.

Kokola Group salah satu produsen biskuit yang mengusung positioning Halal untuk produk-produknya (Foto:Kokola Group)

“Kita melihat berbagai potensi di Indonesia. Halal tourism itu pasti, tapi itu sektor jasa. Yang di manufaktur mungkin kita akan prioritaskan beberapa saja, tidak terlalu banyak. Salah satunya yang mau kita dorong adalah makanan dan minuman,” ujar Bambang usai menjadi pembicara kunci dalam Komite Nasional Keuangan Syariah Forum di Jakarta Desember lalu, sebagai mana dikutip dari antaranews.com.’

Lebih lanjut ditambahkan, industri makanan dan minuman merupakan industri paling siap dari sisi ekspor dan kapasitas produksi. Bahkan, sejumlah perusahaan bisa membangun pabrik produksinya di luar Indonesia.

Ia menuturkan secara umum produk halal Indonesia saat ini statusnya masih sebagai negara pengimpor (net importer) yaitu barang atau jasa yang diimpor lebih besar daripada ekspor. Bambang berharap suatu saat nanti Indonesia bisa menjadi produsen utama produk-produk halal yang bersaing di kancah perdagangan global.

Salah satu yang bisa menjadi pasar ekspor potensial bagi produk-produk halal Indonesia yaitu negara-negara di Afrika karena penduduk negara-negara di sana mencapai 1 miliar orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen penduduknya beragama Islam. Laju pertumbuhan penduduk di Afrika juga tergolong tinggi.

Sementara Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah masih fokus memperkuat industrialisasi sumber daya alam berbasis holtikultura. Sektor ini memberi dampak luas bagi perekonomian nasional, melalui peningkatan nilai tambah bahan baku dan penyerapan tenaga kerja lokal, serta penerimaan devisa dari ekspor.

“Industri hortikultura ini harus terus didorong karena dapat meningkatkan nilai tambah tinggi dan menyerap tenaga kerja besar. Industri ini mempunyai daya saing kuat,” kata Airlangga, di Jakarta, November lalu, sebagaimana dikutip dari liputan6.com.

PT Great Giant Pineapple di Lampung Tengah,‎ misalnya, merupakan perusahaan penghasil produk nanas dalam kaleng ketiga terbesar di dunia. Bahkan, menjadi terbesar di dunia dalam hal produksi yang terintegrasi dengan lahan pertanian nanas milik sendiri. “Ini salah satu industri yang berbasis ekspor dan semua bahan bakunya dari lokal. Industri hortikultura ini harus terus didorong karena dapat meningkatkan nilai tambah tinggi dan menyerap tenaga kerja besar. Industri ini yang juga mempunyai daya saing kuat,” papar Airlangga.

Plt Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Ngakan Timur Antara dalam   keterangannya di Jakarta akhir Oktober lalu mengatakan, selain mendorong peningkatan mutu serta pengembangan inovasi dan teknologi, Kemenperin memfasilitasi pelaku industri nasional termasuk produsen makanan dan minuman untuk semakin memperluas pangsa pasar dan aksesnya ke rantai suplai dunia, sehingga dapat mendongkrak kinerjanya.

Untuk memperluas jaringan pasar ekspor, lanjut Ngakan, Kemenperin aktif memfasilitasi industri nasional ikut serta dalam kegiatan pameran baik di dalam maupun luar negeri. Misalnya, melalui kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, sebanyak 18 pelaku usaha makanan dan minuman dari Indonesia dapat tampil pada ajang Salon International de l’Alimentation (SIAL) Paris 2018.

Ke-18 perusahaan Indonesia tersebut, yakni Mignon Sista Internasional (minyak esensial, biji vanilla, moringa, daun kari, jeruk purut), Kawanasi (fruit chips), Java Peppers Industries (cabai ceri, cabai rawit dan aneka sambal), Manna Anugrah Sejahtera (gula kelapa, gula arenga, sirup nektar organik), Karsa Abadi Madeteas (teh herbal), Hitara Cipta Selaras (black garlic), dan Biobali Internasional (minyak organik). Mitra Ayu Adi Pratama (ekstrak pandan, Mace oil and Mace oleoresin, minyak pala dan oleoresin, minyak lada hitam, minyak jahe dan Ginger Oleoresin, minyak Massoia, dan esktrak kopi), Pondok Daya (gula kelapa organik, kacang pili natural), Danora Agro Prima (spesialis produk cocoa), Siantar Top (makanan ringan), dan Javara (bumbu makanan, produk kelapa), Kemudian ada juga Universal Trading (canned seafood), Nison Indonesia (canned seafood), Sari Segar Husada (produk kelapa), Coco Sugar Indonesia (gula kelapa), Mayora (makanan ringan dan kopi), dan Interaromat (makanan ringan, teh dan kopi).

Pada pameran SIAL Paris 2018, Kemenperin membawa sembilan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor makanan dan minuman. Kesembilan perusahaan lainnya merupakan binaan KBRI di Paris. “Mereka yang terseleksi berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, dan dengan keberagaman produk,” ujarnya.

“Ini kesempatan yang sangat bagus, karena merupakan salah satu pameran business-to-business (B2B) terbesar di dunia. Selain itu, sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah kepada industri makanan dan minuman nasional untuk mengembangkan aksesnya ke pasar internasional,” imbuhnya, sebagaimana dikutip dari akurat.co.

Mereka menempati area seluas 180m2 di Paviliun Indonesia untuk mempromosikan produk-produk unggulannya kepada para pengunjung pameran makanan dan minuman yang digelar setiap dua tahun sekali ini. Kegiatan yang sudah berlangsung pada 21-25 Oktober 2018 ini diperkirakan dihadiri sebanyak 155.000 orang pengunjung dan melibatkan 7.020 peserta dari 109 negara.

Di samping itu, Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri makanan dan minuman nasional agar lebih kompetitif di pasar global. Langkah strategis ini sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 serta upaya pemerintah dalam menggenjot nilai ekspor nasional dari produk manufaktur.

“Selain mendorong peningkatan mutu serta pengembangan inovasi dan teknologi terbaru, kami juga memfasilitasi pelaku industri nasional termasuk produsen makanan dan minuman untuk semakin memperluas pangsa pasar dan aksesnya ke rantai suplai dunia sehingga dapat mendongkrak kinerjanya,” kata Plt. Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, di Jakarta, Minggu 28/10.

Kemenperin ke depannya lebih fokus terhadap peningkatan produktivitas sektor hulu dengan pemanfaatan teknologi, pemberdayaan industri kecil dan menengah (IKM) dengan dukungan pendanaan dan fasilitasi mesin produksi, melakukan efisiensi rantai pasokan, serta meningkatkan produksi makanan kemasan modern dengan inovasi produk.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri makanan dan minuman konsisten memberikan kontribusi yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional. “Potensi industri makanan dan minuman di Indonesia bisa menjadi champion, karena supply dan user-nya banyak. Untuk itu, salah satu kunci daya saingnya di sektor ini adalah food innovation and security,” ungkapnya.

 

Sementara Airlangga berharap, industri makanan dan minuman nasional terus melakukan terobosan inovasi produk. Sehingga, dapat diminati oleh konsumen dalam negeri dan mancanegara. Di samping itu, guna menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang andal di sektor ini, Kemenperin menjalankan beberapa program seperti penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan, serta pengembangan pendidikan vokasi industri.

“Kami mengapresiasi kepada industri makanan dan minuman yang telah berpartisipasi dan mendukung program kerjasama pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri,” tegas Airlangga.[]  Yuniman Taqwa