Festive Season Dorong Tingkatkan Penjualan Mayora

PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) optimistis dapat memperoleh keuntungan tambahan seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat. Momentum festive season tahun ini diprediksi ada kenaikan secara value sebesar 37% dan volume 19%.

Ricky Afrianto, Direktur Pemasaran Global Mayora Group (Foto: Mayora)

Menjelang bulan Ramadhan para produsen industri makanan dan minuman mulai mempersiapkan diri menghadapi peningkatan permintaan. Di kategori produk makanan dan minuman, misalnya,  menjelang Ramadhan diprediksi akan meningkat di kisaran 10%. Jauh hari sebelum momentum Ramadhan produsen mulai meningkatkan volume produksi.

Ketua Komite Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil menengah (UKM) Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Irwan S Widjaja mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, selama Ramadhan terjadi lonjakan penjualan makanan dan minuman mencapai 12 persen. Namun, pada 2019 diperkirakan hanya sekitar 10 persen.

Sejumlah emiten makanan dan minuman, termasuk PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) optimis dapat memperoleh keuntungan tambahan seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat yang terjadi selama periode bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2019. Corporate Secretary PT Mayora Indah Tbk. Yuni Gunawan mengatakan, perseroan mencatatkan tren kenaikan penjualan sekitar 15%-20% selama periode puasa dan lebaran, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kenaikan penjualan terutama terjadi pada segmen biskuit, wafer, dan kembang gula, sebagaimana dikutip dari bsinis.com.

Meski permintaan meningkat selama periode puasa dan Lebaran, realisasi sepanjang semester I diperkirakan hanya mencapai 45% dari target penjualan 2019. Yuni menjelaskan, proyeksi penjualan yang tidak mencapai separuh dari target sepanjang tahun itu disebabkan banyaknya masa libur, termasuk libur panjang karena lebaran.

Berdasarkan data Nielsen, festive tahun 2018 total kategori naik sebesar 6.9% festive tahun lalu. Dan menurut Direktur Pemasaran Global,  PT Mayora Indah, Tbk, Ricky Afrianto, dilihat tahun ini akan tumbuh at least sama dengan 2018. Jika festive dibanding rata-rata di bulan yang normal, festive ada kenaikan secara value sebesar 37% dan volume 19%,” ujar Ricky kepada pelakubisnis.com seraya menambahkan  untuk tahun ini rasanya akan sama seperti tahun lalu. Faktor terjadinya peningkatan adalah adanya THR yang pasti, sehingga membantu meningkatkan pembelian masyarakat.

Menurut Ricky berdasarkan data festive season itu,  mulai terlihat 12 minggu atau tiga  bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Namun demikian, akan  terjadi peningkatan signifikan pada  6 minggu terakhir menjelang lebaran. Permintaan itu biasanya akan hubungan dengan kapan THR dibagikan.

Sementara Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri meminta perusahaan bisa membayar Tunjangan Hari Raya (THR)  maksimal dua minggu sebelum lebaran. “Hal ini dilakukan agar pekerja dapat mempersiapkan mudik dengan baik,” kata Menaker di Jakarta, 8/5.

Menurut Hanif, pemberian THR Keagamaan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan pengusaha kepada pekerja. Hal ini sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016.

Bila mengacu pada peraturan tersebut, maka peningkatan penjualan makanan dan minuman untuk Ramadhan dan Idul Fitri akan terjadi pada minggu kedua Ramadhan. Tren tersebut akan terus berlanjut pada H-1 Lebaran. Apalagi rencananya pemerintah akan mengeuarkan gaji ke-13 bagi pegawai negeri, ABRI, Kepolisian dan pensiunan pada Juni.

Ricky menambahkan ada permintaan khusus, terutama produk dengan kemasan khusus, dijual secara paket pasti akan meningkat dibanding bulan-bulan biasanya. Produk-produk Mayora yang meningkat biasanya biscuit, minuman soda, sirup, cooking oil, chocolate dan lain-lain.  Beberapa cases, menjelang lebaran produk cologne, juice, air freshener juga meningkat mendekat Lebaran.

Walau diakui, dalam momentum seperti itu terjadi persaingan sangat sengit. Pasalnya, kata Ricky, semua brand berlomba-lomba menarik perhatian konsumen, sedangkan ketersediaan produk dan jasa pasti akan banyak. “Semua orang akan berlomba untuk menarik perhatian. Dan akhirnya biaya berpromosi dan beriklan pada periode ini juga akan meningkat,” katanya serius.

Produk-produk Mayora Group termasuk yang banyak berseliweran di tayangan variety show  di televisi tanah air  hampir di setiap momen bulan Ramadhan. Beberapa brandnya seperti Energen, Bengbeng Drink, Sereal dan Kopi Torabika Cappucino kerap muncul menemani pemirsa televisi di waktu berbuka puasa dan sahur.

Namun demikian,  secara overall menurut Ricky, persaingan masih terbilang wajar. Untuk harga justru beberapa pemain memberikan harga yang sangat bersaing dengan harapan pembelian oleh konsumen akan bertambah dalam hal kuantitinya.

Tetapi keunggulan komparatif Mayora, kata Ricky,  adalah skala produksi, teknologi, pengalaman dan portfolio produk yang sudah ada. Mayora dalam bersaing, tentu tak terlepas dari beberapa strategi yang diterapkan pihak managemen dalam mengatur strategi perusahaan mulai dari pemasaran, menghadapi konsumen dan pesaing. Salah satu produk perusahaan yang sangat laku dipasarana adalah kopi yang menjadi selera para konsumen khususnya di Indonesia.

Sementara competitive advantage, Mayora, tambah pria asal Palembang ini, kualiatas produk, brand image, dan uniknya produk yang ditawarkan memberikan keunggulan bagi produk dan merek Mayora. Dalam festive ini Mayora berusaha untuk melakukan perencaaan yang baik, program promosi dan iklan yang sudah dibuat jauh hari sebelumnya dan melakukan komunikasi dan pesan yang relevan dan menarik bagi konsumen. Hal ini akan membantu kesuksesan festive pastinya.

Kendati demikian, kendala pasti ada karena semua produk akan berlomba-lomba untuk menang sedangkan ketersedian termpat di outlet juga terbatas. Dalam hal transportasi, pengiriman juga bisa menjadi salah satu kendala. Dan penjualan e-commerce yang mulai naik pastinya juga akan ikut meramaikan festive. Cara mengatasi tentunya dengan perencanaan yang baik, produk yang berkualitas dan unik.[] Siti Ruslina