Jamur Borobudur Puput Setyoko, Dari Budidaya Sampai Wisata Edukasi Jamur

Karena buta warna Puput Setyoko  membuang jauh mimpinya menjadi seorang karyawan.  Namun, siapa sangka  ia justru menemukan masa depannya  menjadi  wirausahawan di industri jamur dengan perolehan omzet hingga Rp50 juta/bulan.   

Banyak hikmah yang bisa dipetik ketika seseorang memiliki keterbatasan  dan justru keterbatasan itu yang menuntunnya menjadi orang sukses. Puput Setyoko misalnya.  Selepas lulus SMK –Sekolah Menengah Kejuruan— pada 2010, ia mencoba peruntungan mengejar mimpinya menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Namun malang tak dapat ditolak, berkali-kali melamar kerja, ia selalu gagal pada tahapan test kesehatan. Apa pasalnya? Puput ternyata buta warna.  “Saya ingin sekali bekerja jadi pegawai. Karena di keluarga belum ada yang bekerja pada orang lain. Ayah saya kusir andong,  ibu saya pedagang, saudara rata-rata jadi pedagang. Saya baru sadari kalau buta warna pas test kesehatan waktu melamar kerja,”cerita  pria 30 tahun ini kepada pelakubisnis.com.

Kandidat  UMKM Terfavorit 2021 versi  Program  kewirausahaan   ‘Jemput Rejeki’ besutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno yang ditayangkan salah satu stasiun teve swasta nasional ini  tak pernah menyangka pada akhirnya ia berkecimpung di bisnis budidaya jamur hingga melakukan diversifikasi usaha ke  makanan olahan  jamur.   Bahkan ia sampai  masuk ke segmen agro wisata. Tak sedikit wisatawan lokal dan mancanegara yang sudah berkunjung ke tempatnya yang berada di lokasi Dusun XIX, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah,   yang  berjarak tak sampai  2 kilometer dari  Kawasan  Taman Wisata Candi Borobudur.

Dari ujung telepon Puput bercerita tentang   latarbelakang bagaimana ia sampai terjun ke usaha budidaya jamur. Ketika mendapati  sulitnya melamar pekerjaan di banyak perusahaan  dan selalu gagal pada tahap test kesehatan karena  ternyata ia  memiliki cacat bawaan yaitu buta warna.  Sementara bidang pekerjaan yang diminati tidak bisa menerima karyawan buta warna.  Saat itu ia sempat bekerja serabutan. Sempat ikut saudara bekerja ke Kalimantan juga.  Namun tak bertahan lama karena ia tak sanggup dengan biaya hidup yang tinggi.”Per hari saya dibayar Rp70 ribu. Sementara pengeluaran untuk makan di sana tidak murah. Akhirnya saya kembali ke Borobudur,”kenang  suami  dari  Isna Yuliani ini.

Hingga suatu hari muncul keingintahuan yang dalam tentang  jamur.  Kebetulan Puput suka sekali dengan menu masakan tumisan  jamur buatan ibunya. Disitu terbersit pertanyaan, dari mana asal jamur ini? Ia pun mencari tahu hingga menemukan tempat budidaya jamur di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Sangat disayangkan  saat itu ia tak mendapat informasi apa-apa tentang cara budidaya  jamur. 

Tak putus asa, keingintahuannya tentang budidaya  jamur semakin tinggi hingga akhirnya ia menemukan tempat di daerah Bandungan, Yogyakarta.   Disitu ia melihat langsung cara budidaya jamur dengan media baglog dengan bahan utama serbuk kayu gergaji.   

Bersyukur  saat itu tanpa sengaja ia  mendapat ilmu tentang cara membuat baglog ketika hendak membeli beberapa potong baglog.  Disitu ia menawar minta potongan harga. Namun si penjual justru menantangnya. “Dikasih diskon tapi dengan syarat saya harus membantunya membuat  baglog,”kata Puput.

“Pucuk dicinta ulam pun tiba” Mungkin demikian dalam hati Puput.  Sudah dapat diskon, ia dapat ilmu pula tentang budidaya jamur. 

Puput  senang bukan kepalang.  Ia pun pulang membawa 250 batang baglog yang dibawanya menggunakan motor roda tiga. Namun di perjalanan, jalanan yang berliku dan berbukit-bukit sempat membuat kendaraannya terjungkal  dan ratusan baglog pun berjatuhan. “Saya ada dokumentasinya dan belum pernah kami share ke media lain,”ujarnya.

Tak patah arang, ia pun bangkit dan berhasil membawa sekitar 150 baglog yang tersisa.  Ia pun mulai belajar membudidaya jamur. Untuk kali pertama ia berhasil mendapatkan  hasil panen sebanyak 1kg jamur tiram mentah dan langsung dijual ke pasar. Bukan kepalang senangnya hati Puput karena berhasil memanen jamur tiramnya meski hanya dapat 1kg.

Tahun 2014 ia mulai dapat memanen lebih banyak jamur. Bahkan sampai rela menjual laptop yang ia beli selama bekerja di Kalimantan dulu, untuk mengembangkan bisnis budidaya jamur tiram. Diakuinya tak sulit menjual jamur tiram mentah karena pasarnya sangat besar.  Hingga akhir 2015 ia mulai merekrut 1 orang karyawan. Karena usahanya sudah mulai berkembang.

Singkat cerita, tahun 2017 ia menikah. Setelah menikah, Puput meminta istrinya yang sebelumnya bekerja pada orang lain untuk berhenti bekerja dan fokus membantunya mengelola usaha budidaya jamur . Pasalnya di tahun itu  usahanya kian berkembang. Bila sebelumnya hanya menjual hasil panen jamur tiram, kemudian berkembang  menjual baglog dan bibit jamur.  “Saya minta istri keluar dari pekerjaannya dan fokus bantu saya. Masalahnya waktu itu  saya sudah mulai banyak order. Tak hanya hasil jamur, saya juga juga bibit jamur dan baglog. Nah istri saya minta untuk mengelola produk olahan jamur seperti keripik jamur misalnya,”ungkap pria kelahiran 22 Juli 1991 ini.

Sejak 2017 itu lah milestone dimana Jamur Borobudur mulai merambah ke usaha produk olahan jamur.  “Awalnya saya masuk ke angkringan dan warung-warung makan.  Saya jual Rp1500/20gram. Itu sekilo bisa jadi 50 bungkus.  Saya minta ijin taruh dagangan disitu,”kenang Puput yang kini sudah melengkapi usahanya dengan sertifikat  ijin pangan industri rumah tangga (PIRT) dan ijin  sebagai produk oleh-oleh.

Dan di tahun 2018  ia mulai membangun brand dengan nama Jamur Borobudur.  Meski awalnya ada kendala karena terjadi perdebatan soal penggunaan nama Borobudur dari DitJen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), karena tak boleh digunakan menjadi nama brand. “Namun karena menggunakan gambar Candi Borobudur,  saat itu   diperbolehkan.  Kenapa menggunakan nama Borobudur, terus terang itu pakai strategi ‘nebeng’ karena nama Borobudur sudah terkenal. Akhirnya kami pakai nama itu untuk mengangkat nama jamurnya dan karena pusat produksi kami ada di sekitar kawasan Candi Borobudur juga,”jelas Puput.  

Lantas, di tahun yang sama ia juga mulai masuk ke segmen pariwisata menawarkan wisata edukasi jamur.  Saat itu  ayahnya yang bekerja sebagai kusir andong  sering menawarkan kepada para tamu yang datang ke Taman Candi Borobudur, apakah ada yang ingin berkunjung melihat-lihat budidaya jamur.   Ternyata tak sedikit orang yang berminat mengunjungi  tempat produksi jamurnya.  Melihat-lihat proses budidaya jamur hingga melihat pengolahan jamur menjadi keripik.  Jadi selain bisa melihat perberdayaan masyarakat, para wisatawan juga dapat membeli langsung keripik jamur  langsung dari dapur Jamur Borobudur.

Dari permintaan pasar juga akhirnya pada tahun 2019  ia membangun Gallery Jamur Borobudur  yang kini semakin banyak disinggahi dari wisatawan lokal hingga wisatawan asing.”Sebelum pandemic banyak wisatawan mancanegara datang kemari,”ungkap  pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini.  

Ia pun mulai menjajaki  kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dengan dunia pariwisata. Selain dengan Dinas Pariwisata, ia juga bekerjasama dengan para pemandu wisata, hotel dan agen-agen travel dengan menawarkan paket kunjungan wisata edukasi jamur ke tempatnya.  Memang tak ia pungkiri bila wisata edukasi jamur ini diberikan gratis meski  pada akhirnya bertujuan untuk mendongrak penjualan.

Diakuinya  profit terbesar memang berasal dari penjualan langsung di  gallery Jamur Borobudur ini. Karena ia tak perlu melalui pintu bakul-bakul para pedagang di pasar dan di pusat oleh-oleh. Akhirnya segmen pasar  wisata edukasi ini yang memberikan kontribusi  terbesar dibandingkan segmen pasar yang lain. “Jadi omzet terbesar dari makanan olahan dan kunjungan wisata sebesar 60%, untuk baglog kontribusinya 10%, sisanya dari penjualan bibit dan peralatan bahan pembuat jamur,”terangnya sambil menambahkan untuk saat ini produknya semakin berkembang tak hanya menjual keripik jamur tiram, krupuk jamur matang, ada juga jamur kuping crispy dan  item produk terlaris adalah keripik jamur tiram.    

Pun pada akhirnya terbentuk tiga segmen pasar Jamur Borobudur. Pertama segmen petani  yang berminat berbudidaya jamur yang membeli  bibit jamur dan baglog sampai peralatan bahan-bahan jamur. “Hasil panen jamur para petani tadi akan ia beli  untuk kami olah menjadi  makanan berbahan jamur. Kalau dulu kami jual jamur mentah ke pasar-pasar, sekarang kami fokus pada pengolahan jamur menjadi makanan. Pasar jamur  mentah yang begitu besar biarkan dinikmati para petani agar mereka semangat untu memproduksi jamur,”tuturnya.

Karena  nilai ekonomi yang lebih tinggi membuat Puput harus banting setir ke penjualan makanan hasil olahan jamur.  Bila 2015 omzet jamur mentahnya  berkisar Rp 150 ribu/hari,  di tahun 2018 sejak menjual hasil pengolahan makan berbahan jamur, omzet naik sekitar Rp 50 juta/bulan. Namun karena pandemic omzet menyusut di kisaran Rp 30 – 33 juta/bulan.

Di atas lahan seluas 1000 meter persegi, ia memproduksi jamur. Dari budidaya jamur dengan memanfaatkan 2 rak kumpung baglog menghasilkan produk olahan jamur yang dijual dengan harga Rp80 ribu/kg.  Sementara ketika menjual mentah harga jualnya ke pasar hanya Rp10 ribu/kg. Sementara ketika digoreng menjadi masakan,  jamur susut 3 ons menjadi tinggal  7 ons. Tapi dengan olahan nilai jualnya lebih tinggi bisa mencapai Rp70 ribu/kg.  “Kalau mentahnya Rp10 ribu/kg, tapi kalau saya olah nilai tambah mentahnya meningkat menjadi Rp50 ribu/kg,”hitung Puput  yang saat ini melibatkan 10 tenaga kerja termasuk ia dan istri untuk pengembangan usahanya.

Lewat wisata edukasi, nama Jamur Borobudur dikenal hingga turis mancanegara seperti dari negara Jepang, Belanda, China, Korea dan lain-lain.

Satu hal penting menurutnya untuk membesarkan usaha adalah dengan memperbanyak silaturahmi. “Membangun jaringan  ke lembaga-lembaga terkait, ke asosiasi dan mendekat ke para senior yang sudah lebih dulu terjun ke industri jamur,  memperkenalkan diri, baik dari komunitas budidayanya seperti asosiasi atau kelompok-kelompok kecil  petani budidaya jamur. Di pengolahan kami ada teman-teman UKM/UMKM, merapat ke Dinas Koperasi dan UKM, Disperindag, teman-teman disitu juga banyak. Sedangkan untuk dunia pariwisata kami  mendekat ke asosiasi pariwisata, ke para tour guide, ke Kemenpora mengikuti sejumlah pelatihan-pelatihan. Intinya menambah relasi dan menambah silaturahmi itu otomatis menambah pengembangan bisnis kita,”paparnya. Mimpinya  kelak suatu saat nanti bisa membangun restoran berbahan dasar jamur. Karena di kawasan Borobudur ini masih susah mencari kuliner di malam hari. “Tentunya kalau untuk menghidupkan wisata di malam hari harus bareng-bareng  dari  berbagai  pihak, tidak bisa bersendiri-sendiri.  Saya inginnya di Borobudur ini aktif juga di malam hari seperti Yogyakarta. Baik di kuliner maupun di jalan-jalannya,”pungkas Puput Setyoko. []Siti Ruslina