Bisnis Tas Lipat Dayan Craft Sri Suryani Tumbuh Dua Kali Lipat
Kualitas tas lipat Sri Suryani semakin diminati pasar. Kepiawaiannya memecah pola, boleh jadi yang membuat tas lipat yang dihasilkan rapih dan bernilai estetik. Awalnya hanya mengerjakan makloon untuk baju lurik hingga tas pesanan korporat. Namun sejak berkenalan dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) tahun 2022, mulai memproduksi tas lipat dan nilai omzetnya naik dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah saya dapat order dari HNI Bogor bu…”demikian Sri Suryani, Owner Dayan Craft yang dihubungi pelakubisnis.com pada awal Maret lalu di hari terakhir penyelenggaraan Pameran Inacraft 2024. Ia sekalian berpamitan akan kembali ke Klaten, Jawa Tengah, daerah asalnya. Ketika bertemu di ajang Pameran Inacraft Maret 2024 lalu, ia sempat cerita, banyak mendapat pesanan tas lipat diantaranya dari perusahaan consumergoods Halal Network International (HNI) yang gurita bisnisnya sudah meluas di tanah air. Namun saat bertemu ia baru mendapatkan pasar dari salah satu wilayah distibusi HNI di Jawa Tengah. Ketika ikut dalam pameran Inacraft 2024, ia mendapat orderan dari cabang HNI di wilayah lain.
Diakuinya penjualan di Inacraft belum mencapai target yang diharapkan namun ia bersyukur banyak bertemu dengan orang-orang hebat bahkan ada janji kolaborasi dengan beberapa pihak. Memang target utama Sri mengikuti ajang bergengsi tersebut semata-mata ingin naik kelas. “Besok kalau ada kesempatan ikut Inacraft lagi, produk harus sudah bernyawa,”tutur wanita 44 tahun ini tentang kesannya mengikuti Pameran Inacraft 2024 yang masuk dalam booth binaan YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra). Dayan Craft merupakan UMKM binaan YDBA yang menjual tas lipat (Double Handle Large-red).
Berkat kecerdasan ketekunan keseriusan dan kesabaran setelah malang melintang mencoba peluang dari usaha makanan, kalau pas panen kedelai membuat tempe, lalu pernah bekerja di garmen , akhirnya baru tahun 2010 Sri Suryani menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passionnya, yakni menjadi UMKM yang bergerak di industri pembuatan tas.
Lantas darimana asal muasal Sri sampai terjun ke industri pembuatan tas lipat?
Perlu diketahui, ketika masih gadis, Sri Suryani sempat bekerja di perusahaan garmen. Cuma uniknya Sri tak pernah lama menekuni satu bidang. Paling tidak 3 bulan kerja di satu bidang, ia pindah perusahaan. Dan ketika pindah ia selalui memilih pekerjaan yang berbeda-beda. Dari bagian packaging (pengemasan), cutting (menggunting) sampai bagian sewing (menjahit) semua sudah pernah ia coba.
Alhasil ketika sudah memahami semua bidang, dia lebih siap dan lebih terampil. “Kenapa pabrik bisa membuat produk secara massal dengan kualitas yang bagus? Itu karena memang mereka melakukan pecah pola. Satu orang mengerjakan satu bagian, jadi hanya memikirkan 1 bagian saja. Jadi kemungkinan salahnya sedikit sekali karena mikirnya cuma satu. Kemungkinan gagalnya kecil bila menggunakan cara pecah pola,”ungkap istri dari Widayat ini.
Membuka usaha menjahit dari segmen individu hingga suatu hari ia mendapat order jahitan kain lurik dalam partai besar dari pengrajin lurik di Klaten, Jawa Tengah. Dari satu UMKM lurik kemudian berkembang ke pengusaha lurik yang lain. Ketika melihat banyak limbah kain lurik yang tersisa dan terbuang, muncul ide memanfaatkan sisa kain lurik tersebut dijadikan sesuatu seperti dompet. “Saya tanya, ini sisa kain lurik mau dikemanakan karena banyak sekali. Pelanggan tersebut bilang itu sisanya tidak terpakai. Lalu saya minta ijin, kalau limbah ini saya jadikan dompet-dompet kecil bagaimana? Eeh ternyata mereka senang dan akhirnya jadi tambah item barang untuk mereka pameran,”cerita Sri Suryani mengenang awal membuat dompet-dompet lurik sebelum merambah ke tas lipat.
Ia pun minta ijin kepada pelanggan pemilik usaha lurik dan di luar dugaan, mereka justru ikut memasarkan dompet-dompet dari limbah kain lurik tersebut dan mendapat respon yang baik dari pasar.
Dari makloon menjahit baju lurik, usaha Sri merambah ke pembuatan tas pesanan korporat. Klien korporat untuk makloon tas pertamanya sebuah rumah sakit di Klaten. Saat itu ia membuat tas dari bahan sintetis yang kemudian dijadikan souvenir bagi pasien ibu melahirkan. Bisa digunakan sebagai tempat pakaian bayi dan pampers. “Dari rumah sakit biasanya minta disablon. Sampai sekarang kami menerima pesanan itu,”ujar Sri yang banyak mendapatkan pelanggan karena jaringan pertemanan. Terjadi word of mouth, promosi dari mulut ke mulut.
Tujuan membuat tas lipat karena Sri sangat men-support zero waste. Harus dipahami tujuan memproduksi tas untuk apa dan dipakai untuk apa. Jadi sasaran segmen pasarnya jelas. Misalnya yang ingin santai gak mau ribet atau komunitas misalnya, itu jauh lebih masuk ke tas lipat. “Misalnya NGO-NGO di tanah air yang mengurusi soal minim sampah (SDGs/sustainable development goals) dengan bentuk tas lipat seperti yang sekarang ini banyak dijual di minimarket ketika berbelanja . “Ketika tujuan jelas, maka promosinya juga jelas,”kata wanita pehobbi naik gunung ini.
Dalam menemukan model tas lipat diakuinya ia sering dapat sampel produk tas dari para kliennya. Kadang ia sendiri menemukan ide ketika naik gunung. Apa saja yang biasanya kita bawa dan kita butuh tas seperti apa? “Saya sering bawa anak-anak kalau pas naik gunung. Nah menemukan tas punggung untuk anak-anak untuk keperluan naik gunung itu agak susah. Lalu kami buat yang menyesuaikan punggungnya anak-anak. Kalau tidak pas, itu akan memberatkan si pemakai kalau bebannya banyak. Apalagi anak-anak. Produk outdoor sudah banyak beredar di pasar, kami tinggal ATM (amati, tiru dan modifikasi) dengan bahan-bahan yang bisa kita cari lokalan,”terang ibu dari dua anak ini.
“Untuk satu penjahit membuat 1 tas sendiri dia akan pusing. Jadi saya lakukan pecah pola, ada yang buat bagian belakang, ada yg bagian depan, buat tali saja, sisa terakhir ada yang menyatukan bagian-bagian pola itu,”terang Sri Suryani.

kemudian ia merambah membuat tas yang terbuat dari celana jeans bekas . Coba dipamerkan di Solo Art Market dan ternyata banyak pengunjung yang justru tertarik meminta mengkreasikan celana jeans bekas di rumahnya untuk dijadikan tas.
Apa yang ditonjolkan? “Saya usahakan kerapihan jahitan dan pemasarannya cukup menantang. Sebelum ikut Inacraft saya pernah ikut Marketplace Adsee. Seperti produk craft penjualannya menjangkau pasar internasional. Di situ produk limited edition lebih dihargai,”tuturnya yang mengakui dari harga dijual di Adsee, marginnya cukup besar. “Setiap hari diposting selama 24 kali,”tambahnya yang menemukan Adsee lewat Instagram. “Rencana ada 24 item tas,”ujarnya.
“Kalau menjahit baju gagal, itu tidak bisa dipakai. Tapi kalau menjahit produk craft, ketika gagal, bisa dikreasikan menjadi bentuk dan ukuran lain. Justru akan menghasilkan produk baru”tambahnya.
“Untuk satu penjahit membuat 1 tas sendiri dia akan pusing. Jadi saya lakukan pecah pola, ada yang buat bagian belakang, ada yg bagian depan, buat tali saja, sisa terakhir ada yang menyatukan bagian-bagian pola itu,”terang Sri Suryani.
Tak pelak, omzet dari tahun 2010 untuk makloon, meski jauh lebih nyaman dan tak menanggung resiko tapi omzetnya kecil . “Untuk 1 tahun terakhir ini kami sudah komit dengan YDBA, sudah membuat brand sendiri, itu terjadi peningkatan omzet lumayan loh sejak jadi binaan YDBA,”aku wanita asli Klaten ini yang bergabung dengan YDBA sejak 2022 lalu.
Seorang teman yang sudah menjadi binaan YDBA, yang mengenalkan dirinya dengan Tim YDBA.”Saya bilang, saya datang dengan gelas kosong, siap diapakan saja,”canda Sri yang merasa beruntung mendapatkan fasilitas pelatihan dan dibantu dari sisi pemasarannya.
Diakuinya setelah bergabung dengan YDBA revenue naik dua kali lipat. Yang sebelumnya hanya revenue sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta per bulan, sekarang bisa mencapai lebih Rp10 juta per bulan. “Karena makloon untuk beberapa label baju lurik, saya tidak membeli bahan baku, hanya menjahit. Beberapa pemilik label lurik di Klaten menjahit ke saya. Tahun 2010 masih makloon 100 persen dari UMKM lurik dan sebagainya,”ujar pemilik brand Dayan Craft yang merupakan satu-satunya UMKM craft binaan YDBA karena Klaten yang UMKM nya lebih terkenal dengan pandai besinya.
Hingga akhirnya ketemu YDBA, ia berhasil mendongkrak omzet hingga lebih dari Rp10 juta per bulan. Ketika memproduksi tas menjadi catatan yang menarik ditandai karena awalnya ia lebih banyak menggunakan limbah konveksi.
Saat ini diakui Sri, namanya UMKM, dimana wilayah produksi dengan rumah masih satu atap. Sri bekerjasama dengan anak sulungnya juga dibantu 3 orang tetangganya sebagai tenaga penjahit . “Di rumah ada 3 mesin yang terdiri dari mesin jahit biasa, mesin jahit portable dan mesin jahit untuk bahan tebal seperti terpal,”tutur Sri yang memulai usaha tasnya dengan modal mesin senilai lebih dari Rp10 juta.
Ketiga tenaga penjahit ini awalnya adalah penjahit baju. Kemudian perlahan Sri Suryani mengajarkan menjahit tas dengan cara pecah pola. Jadi ada penjahit yang terlatih menjahit tali, ada yang spesialis menjahit bagian depan dan belakang tas, dan sebagainya.
Setelah gempa Yogyakarta beberapa tahun silam, masyarakat Klaten banyak mendapatkan bantuan mesin JUKI yang biasanya digunakan di pabrik. Mereka punya modal mesin lalu bekerjasama dengan Sri Suryani.
Dari 3 mitra penjahit, Sri bisa memproduksi tas lipat lurik 50 pieces sehari. Menurutnya tergantung pesanan. Beruntungnya seminggu bisa dapat 3 kali pesanan dengan jumlah 300 pieces. Rata-rata per hari tepatnya 50 pieces.”Alhamdulillah tiap bulan dapat order terus. Kecuali recycle dari celana jeans, itu sengaja kami bikin untuk stok,”ujar Sri yang menggunakan nama kedua puteranya sebagai brand, yakni anak pertama Sunu Dayan Pangestu dan anak kedua Ranu Dayan Pangestu.
Ke depannya, Sri Suryani yang kerap akrab disapa Sri Dayan ini, ia ingin membuat produk baru yang menyasar pasar anak muda. Termasuk dari recycle jeans tadi. Ia juga sudah mulai aktif ikut lapak di Soloissolo Street Art di Jalan Gatsu (Gatot Subroto). Ia juga sudah men-support pengrajin batik ecoprint yang sudah masuk Gedung Sarinah namun baru sebatas menjahit tasnya. Selain itu ia juga mulai aktif mengikuti pelatihan YDBA. Yang terbaru melalui support YDBA, ia mengikuti pelatihan digital marketing yang diselenggarakan marketplace Shoppee. []Siti Ruslina
