Gaya Hidup Milenial dan Gen Z Muslim, Menggiurkan Pasar
Pasar Milenial dan gen Z di kalangan muslim sangat luas dan menggiurkan untuk sejumlah produk dan jasa. Para pelaku usaha perlu jeli melihat tren melinial dan gen Z terhadap kebangkitan muslim. Apa saja itu?
Kaum muslim generasi milenial dan gen Z dinilai paling dermawan. Tiap bulan rata-rata mereka berdonasi sekitar 1,6 kali. Bila dirata-rata 2 sampai 3 kali berdonasi. Namun demikian, belakangan ini viral orang “mengemis-ngemis” di sosial media (sosmed), minta bantuan dengan alasan ibunya sakit. Para netizen kebanyakan generasi milenial dan gen Z mudah tersentuh untuk menyumbang. Bahkan, sampai terkumpul sumbangan mencapai Rp 200 juta. Ternyata orangtua yang sakit itu dicover BPJS. Rupanya uang hasil sumbangan itu dibelikan handphone, buat bayar kontrakan, bahkan terindikasi main judi online.
Generasi dermawan ini mudah tertipu atau kena prank. Boleh jadi ada oknum-oknum yang memanfaatkan kedermawanan dari netizen itu yang mayoritas generasi milenial dan gen Z. Di satu sisi ada nilai positifnya, tapi ternyata banyak oknum yang memanfaatkan dari kedermawanan itu. Oleh karena itu, kita harus lebih hati-hati melihat fenomena tersebut.
Itu hanya satu sinyalemen tren perilaku generasi milenial dan gen Z. Tidak hanya itu, generasi tersebut menyukai konten-konten musik dan film di media online. Di Film, misalnya, bila dilihat perkembangan film Indonesia sangat luar biasa. Tiap tahun jumlah penonton terus meningkat. Umumnya film-film Indonesia masih didominasi oleh film-film horor dan religi. Kedua film ini beda-beda tipis.
Menurut Farid Fatahilla, Advisor Expert Inventure, kalau dulu film-film yang dibintangi Suzanna, selalu ada sosok kyai. Sekarang film horor ada nuansa relegi. Film Siksa Kubur yang tayang lebaran kemarin, termasuk kategori film horror, tapi ada unsur religinya. “Yang menarik film-film religi itu konsisten dari zaman Ayat-Ayat Cinta tahun 2007/2008 yang untuk pertama kalinya film religi menembus 3 juta penonton. Setelah itu konsisten di atas 1 juta penonton,” kata Farid dalam acara webinar Muslim Market Outlook 2024, pada 27 Maret lalu.
Farid menambahkan, thema film religi paling ramai adalah poligami. Dulu Film Ayat-Ayat Cinta, film Ketika Cinta Bertasbih, Film Surga Yang Tak Dirindukan. Tahun kemarin yang menembus 3 juta penonton adalah film berjudul Air Mata di Ujung Sajadah. Jadi, konsistem film-film religi kita sangat diminati.
Kemudian konten dari sisi musik religi dulu hanya ada saat bulan puasa saja. Tapi di tahun 2000-an mulai bank band-band yang tadinya band netral, mulai mengeluarkan album religi. Sebut saja band Ungu. Sekarang makin banyak band-band dan penyanyi solo baru membawakan lagu-lagu religi.
Sedangkan di saat pandemi Covid 19 membunuh semua event. Dulu sebelum Covid event-event berbau muslim luar biasa banyak. Sekitar tahun 2019, 2018 yang namanya Hijrah Fest, Jakarta Muslim Fashion Week, Pameran Islamic Book fair dan event lainnya ramai sekali. Kemudian pandemi, tidak bisa lagi bikin event, sebagian tayang ke online. “Tapi sekarang melewati masa pandemi event muslim ramai kembali. Hijrah Fest setahun bisa berapa kali, pameran-pameran Islamic Book Fair, bazaar-bazaar busana muslim dan lain-lain selalu ramai. “Tren-tren pakaian muslim makin banyak. Event muslim kembali populer,” tambahnya

Lebih lanjut ditambahkan, dulu ada istilah Gen M (Generasi Muslim). Generasi ini secara spiritual dapat, tapi fun-nya juga dapat. Ini tergambarkan di entertainment. Tahun kemarin (2023) ada sosok Putri Ariani dan Salma Salsabil. Di mana Salma Salsabil menjuarai Indonesial Idol tahun 2023. Ini untuk pertama kali juara Indonesia Idol memakai hijab.
Sedangkan Putri Ariani lebih hebat lagi karena masuk ke level dunia, yaitu America Talent, meski di luar keterbatasan fisiknya. Ia tersohor karena karena skill dan bakatnya luar biasa. Bisa main alat musik, bisa menciptakan lagu. Dan tak kalah menarik ia menggunakan hijab. Ini fenomena anak muda di Indonesia yang luar biasa. Mereka tidak hanya spiritualnya kuat, tapi fun-nya juga dapat
Fenomena lain yang tak kalah heboh adalah setiap menjelang lebaran. Banyak brand-brand fesyen muslim yang sukses di pasar. Misalnya baru pre order, tapi dalam hitungan menit sudah sold out. Ada brand Kami Idea, brand Wearing Klamby, brand Shafira. Brand-brand itu berlomba-lomba, terutama menjelang lebaran. Bikin pre order langsung sold out. Animonya luar biasa. “Saya beberapa kali tidak kebagian. Dapatnya di reseller, tapi harganya sudah naik beberapa kali lipat,” ujar Farid seraya menambahkan baju lebara kembaran keluarga. Biasanya suami sama istri. Tapi sekarang baju suami istri dan anak. Ukuran mulai dari balita sampai dewasa. Lebaran menjadi fashion show di keluarga besar.
Sedangkan muslim tourism halal juga menjadi tren . Wisata halal di beberapa tempat di Indonesia. Kalau diteliti lagi, sebetulnya wisata halal adalah wisata yang ramah muslim. Secara sederhana kita mudah mencari akses makanan halal, akses tempat ibadah. “Karena Indonesia mayoritas muslim effort nya semua destinasi hampir pasti itu adalah wisata halal. Kecuali di beberapa tempat di Indonesia Timur yang mayoritas non muslim perlu diteliti lagi. Tapi bukan berarti susah. Di Itali, misalnya, mayoritas non muslim, tapi kita mudah mencari makanan yang halal, masjid yang tidak terlalu susah menemukannya.
Selanjutnya ada kita sebut muslim nitizen (muslizen) gaya hidup digital di kalangan muslim semakin listening. Kita mengaji bisa mencari konten-konten yang terkait agama banyak sekali di online, sosial media. Dulu harus beli majalah dan lain-lain. Sekarang pilihan semakin banyak, makin digital. “Yang sifatnya mengaji, dakwa, termasuk berdonasi bisa melalui digital. Termasuk gaya hidup banyak yang dilakukan secara digital. Sampai ada aplikasi untuk muslim seperti Taarub online. Muslim genersi milenial dan gen Z gaya hidupnya digital, termasuk spitualnya banyak dilakukan secara digital,” kata Farid
Sementara tahun 2019 sebelum covid Indonesia pernah mengalami leisure ekonomi. Ketika konsumen di Indonesia shifting konsumsi spending dari produk menjadi leisure. Orang makin banyak menghabiskan uangnya untuk travelling, nongkrong di café, mencari kuliner dan sebagainya. Beli barang itu sudah tidak terlalu penting. Milenial tidak tertarik beli rumah, mending buat travelling. Di samping uangnya tidak terjangkau, kata Farid, akhirnya dialihkan untuk entertainment diri sendiri..
Aktivitas leisure bagi muslim yang syar’i, yang tidak meninggalkan ibadah. Mall-mall di Jakarta menyedia musholah yang bagus. Kalau zaman dulu tempat sholat di parkiran, lantai yang paling atas, sekarang masjid-nya bagus-bagus. Di Pondak Indah Mall, umpamanya, setiap lantai ada tempat musholah. Mereka bangga terhadap keislamannya. Mereka nongkrong di café dengan simbul-simbul Islam, tapi tidak minuman yang mengandung alkohol.
Sementara berdasarkan survei gen Z yang setuju dengan asuransi syariah sebanyak 77 persen. Ini angka yang luar biasa kalau bisa ditangkap. Padahal dulu banyak orang Islam terutama yang konservati menggap asuransi tidak halal, mengandung riba, haram. “Kita harus mengedukasi lagi namanya asuransi syariah. Akadnya sesuai syariah. Terutama gen Z yang paling aware, paling berminat memilih asuransi syariah,” tambah Farid.
Sedangkan survei terakhir tentang produk perbankan. Ketika ditanya berapa banyak yang mempuyai produk perbankan syariah. Ternyata hanya 6 persen. Ini linier dengan data market share. Di perbankan syariah market share tak jauh dari 6 – 7 persen. Lebih dari sepuluh tahun bertahan diangka itu. Tidak terlalu signifikan pertumbuhannya.
Ketika ditanya yang 6 persen tersebut, apa alasan mereka memilih produk syariah? Iawaban top three nya adalah alasan-alasan spiritual, tidak riba dan akadnya sesuai syariah. Sedangkan 94 persen kalau kita mau menjual spiritual benefit, berarti kita hanya mentok di angka 6 persen.
Untuk menjangkau yang 94 persen ini kita harus kembangkan spiritual function. Kalau hanya menonjolkan spitual benefit mereka hanya mentok di angka 6 persen. Sedangkan 94 persen rasional. Ini yang harus ditangkap teman-teman yang bergerak di bank syariah dan lembaga keuangan syariah yang lain. [] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina
