Kiprah Ani Agustina Membangun Brand Fesyen Syafakualam
Ani Agustina bukan pemain baru di bisnis konveksi yang memiliki brand. Hasil jahitannya juga ‘gak kaleng-kaleng’. Dia mengaku memang agak kurang greget dalam membangun usahanya hingga tumbuh merangkak pelan. Tapi pasti!
Nama brandnya Syafakualam. Cukup menarik! Ternyata itu singkatan gabungan nama anak-anaknya Syakila, Fajar, dan suaminya Pakualam. Adalah Ani Agustina pemilik brand usaha pakaian Syafakualam. Sekitar tahun 2008 ia merintis usaha jahit pakaian, saat anak pertamanya lahir. Karena faktor ekonomi, setelah menikah punya anak dan ada banyak kebutuhan, akhirnya ia mencari peruntungan dari keahliannya menjahit.

Untungnya Ani punya bekal keterampilan menjahit. Jauh sebelum menikah saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ia dapat kesempatan magang di Sekolah Magang Indocement (SMI) Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Belajar menjahit disitu selama 3 bulan, lalu masuk 3 besar terbaik dari 25 orang murid di angkatannya.
Sayangnya selepas lulus sekolah ia tak langsung membuka usaha jahit, karena keadaan ekonomi ia memutuskan bekerja di pabrik keripik dulu yang lebih jelas dapat gaji tiap bulan. Selama 2 tahun bekerja di pabrik keripik Cuba (2005-2007). Di tahun kedua bekerja di pabrik keripik, di waktu senggang ia sempatkan mengikuti kursus menjahit di Juliana Jaya , Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Selama 1 tahun kursus menjahit , saat itu ia sudah menikah, sempat ditawari kerja sebagai staf pengajar di Juliana Jaya. Boleh jadi karena kepiawaiannya menjahit dan memiliki bakat mengajar. Pucuk dicinta ulam pun tiba! Rupanya mengajar jahit jadi impian Ani selama ini. Dia berpikir, akan sangat bangga bila bisa mengajar dan punya murid. Namun ternyata gaji dari hasil mengajar di tempat kursus jahit tak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Akhirnya ia memilih berhenti mengajar dan kebetulan saat itu ia dalam kondisi punya bayi.
Akhirnya tahun 2008 ia memutuskan membuka usaha jahitan sendiri sambil mengurus anak. Bermodal kios yang menempel di rumah mertua, dengan 1 mesin jahit ia mulai membuka usaha. Di tahun-tahun pertama membuka usaha jahit manajemen keuangan masih berantakan. “Ada pemasukan tapi di tahun pertama yang penting ada aja! Sekitar tahun 2010 usaha jahit saya mulai berkembang dan dikenal orang. Omzet mencapai Rp3 juta per bulan. Angka sebesar itu pada waktu itu sudah di atas UMR,”ungkap wanita kelahiran 7 Agustus 1988 ini.
Ia cukup bersyukur jika saat ini omzetnya bisa terus bertumbuh. Rata-rata per bulan Rp5 juta, bahkan di momen tertentu seperti Lebaran dan tahun ajaran baru, omzet per bulan naik hingga Rp7-8 juta. “Kalau tahun ajaran baru saya biasanya banyak dapat order seragam sekolah,”ujar peranakan Sunda ini.
Diakuinya usahanya berkembang dengan cara pemasaran sederhana. Promosi dari mulut ke mulut dan mengandalkan pengunjung yang datang ke tokonya. Kebetulan saat itu kios milik mertua tersebut ada di pinggir jalan utama, sehingga cukup mudah untuk dikenal pasar. Selain itu, dari strategi ketok tular maka usahanya tercium oleh Dinas Koperasi (DinKop) Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagin) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang kemudian mengajak Ani untuk menjadi UMKM binaan Dinas.
Tahun 2002-2003 ikut pelatihan yang diselenggarakan dinas dan ia pernah dapat bantuan 3 mesin jahit senilai Rp15 juta. “Rp15 juta lebih kayanya. Ada 200 UMKM Kabupaten Bogor yang dapat mesin-mesin jahit,”ungkapnya.

Diakui Ani, usaha yang ia kelola meski sudah 18 tahun memang berjalan pelan. Tak sedikit teman UMKMnya yang baru berusia 5 tahun pertumbuhannya cukup pesat. “Karena dia punya modal. Sementara saya jalani usaha benar-benar dari tabungan sendiri,”ujarnya.
Selama 18 tahun selain menjadi binaan Diskop dan Disdagin, lalu bergabung dengan Koperasi Simpan Pinjam (Koperasi Simpati) di Kabupaten Bogor, dan baru satu tahun terakhir masuk ke komunitas UMKM binaan YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra). Sejauh ini menurutnya hanya ia satu-satunya UMKM bidang fesyen dari Citereup Kabupaten Bogor yang bergabung dengan YDBA, karena justru lebih banyak UMKM bidang makanan dan industri kriya, paling tidak dari fesyen ada yang membuat jas hujan. “Saya baru ikut pelatihan SoP (standard operating procedure), tentang 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), PDCA (Plan, Do, Check, Act) dan lain-lain. Setiap ada pelatihan YDBA selalu ikut kalau tahu, 90% saya selalu ikut kalau dikabari,”aku Ani.
Sejatinya di usia 18 tahun usaha fesyennya bisa berkembang lebih maju dari kondisi sekarang, namun ia terbentur dengan kendala sumber daya manusia (SDM) yang kurang memadai. Akhirnya untuk urusan marketing dan administrasi ia lakukan sendiri, termasuk pemanfaatan promo lewat sosial media seperti Instagram dan Tiktok. Kendati demikian, untuk kegiatan produksi saat ini ia dibantu 2 tukang jahit, 1 tenaga penjahit yang bekerja di tempatnya dan 1 lagi tenaga penjahit yang bekerja di rumah sendiri.
Banyak mimpi yang ingin Ani wujudkan. Ia ingin memproduksi pakaian wanita yang tidak pasaran. Dengan kepiawaiannya menjahit, dia bisa mengerjakan jahitan dengan berbagai model. Saat ini ia memproduksi jahitan pesanan mulai dari seragam sekolah dan kantor, seragam pesta sampai baju custom seperti kebaya sampai baju pengantin. “Saya punya 8 mesin yang semuanya dipakai sesuai fungsinya. Dari Dinas Koperasi saya juga dapat jatah kios di Vivo Mall Cibinong. Dinas Koperasi mencari binaan di industri fesyen, Alhamdulilah saya dapat.Tapi sepi bu. Ini program Pak Bupati menggratiskan 100 kios untuk UMKM Kabupaten Bogor,”ungkap ibu beranak tiga ini yang menjual produk pakaian mulai harga Rp130 ribu (atasan kemeja-red).
Sejatinya dengan kepiawaian menjahit, usaha Ani seharusnya biar tumbuh lebih pesat. Bahkan banyak orang yang belum tentu bisa menjahit tapi sukses bisnis fesyennya. Sedangkan Ani , dia menguasai teknik menjahit, membuat pola dan semua hal dalam proses kerja konveksi, tapi sejauh ini belum memaksimalkan langkah pemasaran dengan tren kekinian.”Semua langkah pemasaran saya kerjakan sendiri. Pernah saya rekrut saudara untuk pegang admin, tapi dia gak bisa!,”tukasnya seraya menambahkan, sesulit dan sebesar apapun usahanya, yang jelas Ani bersyukur, “Dari usaha konveksi saya bisa beli kendaraan motor, sampai bisa renovasi rumah,”pungkas istri dari Palito Pakualam ini. (Siti Ruslina).
