Unique Lombok Tembus Pasar Ekspor Kerajinan Rotan
Ketekunannya memberdayakan potensi lingkungan sekitar Desa Beleka, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menuntun Haryono Zulkarnaen membesarkan hasil kerajinan rotan, bambu dan kayu hingga menembus pasar ekspor bernilai Rp600 juta/order.

Jika Anda wisata ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mampirlah ke Dusun Sejagat Desa Beleka, Praya Timur, Lombok Tengah. Disitu Anda bisa temui sentra pengrajin anyaman dari bahan material rotan, ketak/ate, bambu, kayu dan terakota yang menghasilkan ribuan perabot rumah, dekorasi seni dan desain interior yang indah karya anak Indonesia.
Sekitar tahun 1978-1979 di wilayah Desa Beleka, Lombok Tengah, kakak beradik almarhum Haji Mansyur dan Haji Ghozali untuk pertama kalinya mempopulerkan kerajinan anyam perabot rumah untuk kebutuhan pasar lokal sekitar desa tempat tinggal mereka yang membawa Desa Beleka menjadi pioner penghasil anyaman rotan, kayu dan bambu hingga sekarang berkembang ke desa-desa tetangga.
Hingga di tahun 2010, muncul sosok anak muda bernama Haryono Zulkarnaen yang berjiwa marketing datang berinisiatif ikut membesarkan industri anyaman di Desa Beleka dan sekitarnya. Termasuk usaha anyaman yang dipelopori Haji Ghozali dan Haji Mansyur yang kala itu sudah diteruskan generasi keduanya, Mansyurudin Sidik.
Tekad Haryono bulat, ia siap berkolaburasi dengan para pengrajin, memberdayakan potensi lokal dan sekaligus membantu membuka lapangan pekerjaan untuk daerah penghasil rotan ini.

Di awalnya pria kelahiran 31 Desember 1981 ini membangun jaringan ke lingkungan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Lombok Tengah. Berkat kepiawaiannya ia berhasil meyakinkan pihak dinas terkait yang hingga akhirnya ia bisa membawa hasil kerajinan anyaman pengrajin di daerahnya ikut pameran dari dukungan Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Bahkan sempat mendapat pembiayaan dari perusahaan BUMN, namun saat ini diakuinya sudah mandiri .
“Respon pasar sangat bagus karena memiliki ciri khas hand made, anyaman serapih ini belum ada. Kedua alami, karena Beleka memang terkenal dengan sentra anyaman dari rotan dan getah asli dari tanah sendiri, dan memiliki nilai seni tinggi serta fungsional,”ungkap Haryono.
Hingga di tahun 2013, Haryono berhasil membawa produk anyamannya yang diberi merek Unique Lombok ke Gedung Smesco Indonesia dan menyusul masuk ke Sarinah Department Store Jakarta.
Menurutnya, bila diawal hanya satu dua model, kini di generasi sekarang item terus berkembang. Improve dari unit produksi dan juga permintaan buyer, menciptakan hingga ribuan item produk.
Selain bekerjasama dengan pengrajin, Haryono pribadi bersama istri dan anak-anaknya ikut memproduksi anyaman dan kini merekrut 6 karyawan yang masing-masing 4 orang untuk bagian produksi dan finishing serta 2 orang untuk bidang pemasaran.
Dengan harga jual mulai Rp10 ribuan per item hingga Rp 650 ribu/item, Unique Lombok tersedia hingga ribuan item mulai produk tatakan gelas, nampan persegi empat, nampan oval, bakul nasi hingga tempat baju kotor (rattan basket-red) dan tas full anyaman.
Diakui Haryono, volume penjualan ritelnya dalam tiga tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Persisnya penjualan Unique Lombok yang hadir di lantai Ground Flour Gedung Smesco dan Sarinah Thamrin Jakarta, dalam tiga terakhir mampu memberikan kontibusi rata-rata Rp 500 juta/tahun.
“Dengan Sarinah kami konsinyasi dengan potongan 35%, sementara Smesco mengambil potongan 12%. Sebelumnya booth dari Provinsi NTB di Smesco ada di lantai 11, sekarang pindah ke lantai ground flour. Sejak itu mulai ramai pengunjung,”ungkap Haryono yang menyebut saat ini Unique Lombok sudah ekspor ke negara Korea dan Brazil ini.
Bagaimana dengan pasar ekspor? Apa koleksi kerajinan rotan, kayu dan bambu Unique Lombok sudah diminati pasar ekspor?
Ternyata berkat ketekunannya, Haryono berhasil membawa kerajinan tangan khas Desa Beleka hingga menembus mancanegara. Diakuinya, negara ekspor seperti Korea dan Brazil sudah repeat buying dan mengorder 3 kali dalam setahun dengan nilai ekspor rata-rata Rp 600 juta dengan volume sekitar 2000-an pieces per order.
“Sebelumnya kami pakai bendera buyer. Jadi awalnya kami jual ke daerah seperti Bali. Lalu dari Bali orang mulai mengenal koleksi kerajinan kami. Muncullah kerjasama keagenan dengan beberapa agent/buyer di negara lain. Tapi sekarang, dengan kemudahan ijin ekspor, kami sudah dapatkan pembelinya langsung jadi tidak terlalu besar biaya operasionalnya,”jelas Haryono kepada pelakubisnis.com.
Diakuinya meski dari pemerintah sudah banyak regulasi yang memudahkan bagi UKM/UMKM dalam mengurus perijinan dan sebagainya, namun masih juga ditemui satu dua kendala di level bawah yang perlu dikontrol dinas setempat.
Kendala lain yang masih ditemui menurut Haryono adalah masalah akses dan fasillitas pengiriman barang yang sampai sekarang untuk urusan pengapalan masih dilakukan di Bali. “Terus terang, infrastruktur di daerah kami masih belum memadai. Tak heran bila di Indonesia ini, biaya kirim dari Lombok ke Jakarta dengan dari Lombok ke Korea hampir sama biayanya,”papar Haryono.
Ia menambahkan, di era perdagangan antar negara yang sudah go digital ini diakuinya hingga saat ini ia masih menggunakan cara-cara yang konservatif, belum maksimal menggunakan digital marketing yang lebih canggih dan lebih cepat untuk segala hal. Bahkan diakui Haryono usahanya belum maksimal menggunakan channel seperti marketplace. Masih menggunakan sistem keagenan dan promosi below the line seperti mengikuti ajang pameran.”Memang kami buat website dan masuk ke social media. Tapi belum maksimal. Ke depannya kami mau maksimalkan penjualan melalui shopping online, kami perlu waktu untuk mempelajari,”tutup Haryono dari ujung telepon. []Siti Ruslina/Ilustrasi: majalahpeluang.com)
