Muslim Market Outlook 2024: Konsumen Kalangan Gen Z Jadi Pasar Potensial

Gen Z dan Milenial muslim menjadi potensi pasar  menggiurkan. Gen muslim memiliki daya beli yang signifikan. Meski mereka mungkin tidak memiliki penghasilan besar, tetapi mempengaruhi keputusan pembelian keluarga mereka dan memiliki potensi menjadi pelanggan setia jika sebuah brand berhasil menarik perhatian mereka.

Dengan mempertimbangkan potensi pasar yang besar, kekuatan beli yang signifikan, terampil dalam teknologi, dan nilai-nilai yang berbeda, para marketer perlu bersiap untuk menyasar generasi muslim untuk memperluas jangkauan brand mereka dan meningkatkan penjualan terutama saat bulan Ramadhan.

Maret lalu Inventure meluncurkan hasil survei yang dikemasnya dengan tajuk Muslim Market Outlook 2024. Inventur membagi 4 sosok konsumen muslim, yaitu konsumen rasionalis (gue dapat apa?) sebesar 29 persen, konsumen universalis (Islam lebih penting sebesar) 23 persen, konsumen apatis (emang gua pikirin) sebesar 27 persen, dan konsumen konformis (pokoknya harus Islam) 21 persen.

Dalam riset tersebut profile responden seimbang antara perempuan dan laki-laki dengan usia mayoritas gen Z. Di mana responden pria 44,4 persen dan responden wanita 55,6 persen. Sementara usia milenial sebesar 18,8 persen dan gen Z sebesar 81,2 persen.

Dalam survei tersebut, sejumlah fenomena dilontarkan kepada respon. Misalnya konflik Israel-Palestina mempengaruhi untuk memboikot dan tidak menggunakan produk-produk yang terafiliasi dengan Israel. Berdasarkan riset Inventure, sebagian besar responden (hampir 90 persen) setuju dengan pemboikotan. Namun kalau lebih diteliti lebih mendalam, sebagian besar alasan mereka memboikot (sekitar (60 persen) adalah karena faktor emosional-universal, yaitu solidaritas kemanusian dan penolakan terhadap brand yang mendukung konflik. Alasan lain, yaitu dukunga Palestina karena pertimbangan sesama kaum muslim hanya sebesar 32,8 persen.

Gerakan boikot produk Israel di Indonesia dilakukan secara massif. Hasilnya banyak produk/service yang terdampak atas aksi ini. Beberapa resto siap saji, seperti McD, KFC, Starbucks sepi pengunjung.

Bebeapa brand yang kena aksi boikot cepat tanggap menggelar program Corporate Sosial Responsibility (CSR) untuk menetralisirnya. Aksi yang dilakukan antara lain menggalang donasi, aksi peduli atau pengiriman bantuan kepada korban di Gaza. Hal ini dilakukan untuk meredam haksi boikot supaya tidak semakin melebar.

Berdasarkan survei Inventure, aksi simpatik tersebut cukup simpatik meredam aksi boikot. Hampir 40 responden mengatakan akan berhenti melakukan boikot ketika brand yang diboikot melakukan aksi kepedulian untuk mengurangi penderitaan rakyat Palesitina. Walaupun aksi tersebut sarat public relations (PR) dan pencitraan.

Kesimpulan umum Inventure adalah brand-brand yang memiliki awareness tinggi. Di samping itu, berita-berita yang beredar d media massa mengenai keberpihakan brand-bran tersebut kepada agresi Israel sangat mempengaruhi keputusan konsumen untuk memboikot produk.

Fenomena lain adalah, beberapa waktu yang lalu Menteri Agama Menerbitkan Surat Edaran tentang penggunan pengeras suara di bulan Ramadhan, baik dalam pelaksanaan tarawih, ceramah/kajian Ramadhan dan tadarusa Al’quran sebaiknya mengunakan pengeras suara dalam.

Surat edaran ini diterbitkan supaya  menjaga toleransi di lingkungan yang majemuk, menghormati waktu ibadah umat muslim sambil memperhatikan kenyamanan bagi non  muslim. Menanggapi surat edaran tersebut, hampir 60 responden menyatakan setuju dengan kebijakan tersebut Prosentase setuju yang cukup besar ini mencerminkan bahwa kaum muslim Indonesia adalah kaum adalah kaum yang universalitas yang mengedepankan toleransi di dalam masyarakat yang majemuk.

Inventur juga meneropong apakah ibadah umbro sudah menhadi suatu kebutuhan yang dilakukan secara berkala atau menjadi suatu kebutuhan di saat menghadapi kodis tertentu, misalnya merayakan pencapaian karier, menghadapi masalah dan sebagainya.

Gen Z dan Milenial lebih memilih menjalankan ibadah umbro dibandingkan haji, ketika melihat antrian haji sampai belasan tahun. Yang menarik hasil survei menyebutkan 59,60 persen respenond  tidak setuju. alasannya karena haji menjadi kewajiban yang mampu. Artinya secara keimanan atau relegius  mereka teguh.

Yuswohady: umroh menjadi kebutuhkan ketika menghadapi masalah

Tidak hanya itu, dalam survei Intentur juga membahas tentang label halal. Apakah kamu kerap melihat kalimat “No Pork No Lard” di depan pintu masuk restoran? Banyak restoran menampilkan tanda bertuliskan kalimat tersebut untuk memberi tahu bahwa produknya tidak mengandung babi dan minyak babi. Biasanya, minyak babi sering digunakan sebagai bahan biskuit, donat, hingga kue kering karena bisa membuat teksturnya jadi empuk dan renyah.

Boleh jadi keterangan No Pork No Lard sudah cukup sebagai indikator kehalalan suatu produk.  Kalimat tersebut sering dijumlah restaurant-restura di Singapura. Bahkan di Indonesia pun juga kita jumlah kalimat seperti itu tanpa ada logo halal atau sertifikat halal. Pertanyaannya dengan kalimat  No Pork No Lard itu,  apakah sudah cukup menandakan  halal? Konsumen gen Z dan Milenial confidence bahwa itu  terjamin  halal? Jawabannya 45 persen tidak setuju dan  55 persen setuju. Cukup besar konsumen yang menyatakan bahwa No Pork No Lard sudah cukup atau lumayan cukup untuk jaminan kehalalan, lihat artikel laput edisi April 2024 bertajuk Melihat Prilaku Gen Z dan Milenial Terhadap Label Halal

Tidak hanya itu, Inventur juga melakukan riset tentan generasi milenian dan gen Z dinilai paling dermawan. Tiap bulan rata-rata mereka berdonasi sekitar 1,6 kali. Bila dirata-rata 2 sampai 3 kali berdonasi. Namun demikian, belakangan ini viral orang “mengemis-ngemis” di sosial media (sosmed), minta bantuan dengan alasan ibunya sakit. Para netizen kebanyakan generasi milenial dan gen Z mudah tersentuh untuk menyumbang. Bahkan, sampai terkumpul sumbangan mencapai Rp 200 juta. Ternyata orang tua yang sakit itu dicover BPJS. Rupanya uang hasil  sumbangan itu belikan handphone, buat bayar kontrakan, bahkan terindikasi main judi online.

Itu hanya satu sinyalemen tren perilaku generasi milenial dan gen Z. Tidak hanya itu, generasi tersebut menyukai konten-konten musik dan film di media online. Di Film, misalnya, bila dilihat perkembangan film Indonesia sangat luar biasa. Tiap tahun jumlah penonton terus meningkat. Umumnya film-film Indonesia masih didominasi oleh film-film horor dan religi. Kedua film ini beda-beda tipis, lihat artikel Laput edisi April 2024, bertajuk Membidik Potensi Pasar Muslim Milenial dan Gen Z.

Tidak cukup logo halal untuk membuat produk makanan aware di kalangan melinial dan gen Z. Apalagi customernya belum muslim minded. Menurut Yuswahady, sekarang ini, para pemain  terpolarisasi dalam dua ekstrem, yaitu rasionalis dan konformis.  Bagi mereka yang bermain di brand muslim  kecendrungannya memperkuat dari aspek konformis bahwa spiritual benefit yang terus didorong , seperti anti customize emosional.

Sementara yang functional kebanyakan  apatis terhadap value  spiritual. Contohnya Body Shop. Brand ini tidak punya latarbelakang bagaimana menggarap segmen muslim dengan  mengkombinasikan antara functional Body Shop dengan Spiritual Body Shop. “Body Shop dari sisi ekstrim atau rasionalis. Tapi teman-teman yang mengidentifikasi sebagai brand muslim, menurut saya kebanyakan  lemah dari aspek rasional itu,” kata Yuswohady .

Meskipun ukuran pasar penting diketaui antara  pasar besar mapun  kecil, tapi jangan kaku melihat hal itu. Para pemasar bisa menarget segmen  konformis maupun  rasionalis, tetapi senjata yang digunakan berbeda untuk membidik pasar konformis dan senjata yang digunakan membidik pasar rasionalis[] Yuniman Taqwa