Rupiah Kian Melemah, Daya Beli Pun Terpuruk

Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tapi dapat memengaruhi aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat. Harga barang-barang naik, apalagi produk-produk yang raw materialnya masih tergantung dengan impor, sehingga akan meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat makin melemah.

Kurs rupiah terhadap dollar AS pada 21 Mei 2026 mencapai Rp 17. 667 per dollar AS. Dolar AS memang diprediksi akan terus berada dalam tren yang kuat sepanjang tahun 2026. Hal ini didorong oleh suku bunga The Fed yang tetap tinggi, berlanjutnya arus modal keluar dari emerging market, dan ketidakpastian geopolitik global yang membuat investor memburu aset aman. 

Perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari, menjadi salah satu penyebab melemahnya rupiah. Perang membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya jadi melambung. Sampai kapan perang berakhir juga belum bisa diprediksi. Akibatnya, para pemodal menarik uang atau investasinya dari perusahaan, surat berharga, deposito, properti dan investasi lain dari negara berkerkembang, lalu memindahkan ke negara lain yang lebih aman dan stabil.

Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets)khususnya obligasi AS. Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY). Terus memburuknya prospek perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. 

Tingginya harga minyak dunia (di atas 100 dollar AS per barel) secara langsung melemahkan nilai tukar rupiah karena membengkaknya biaya impor energi nasional. Pembelian minyak menggunakan mata uang dolar AS memicu lonjakan permintaan valas tersebut, sehingga menekan rupiah.

Negara-negara importir minyak di kawasan ini dinilai menjadi pihak yang paling rapuh. Indonesia, India, dan Filipina berada dalam daftar negara yang paling rentan terhadap dampak gejolak ekonomi tersebut.

Sementara beberapa hari terakhir ini  harga minyak mentah dunia mengalami koreksi nyaris 6 persen pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026) waktu setempat. Penurunan signifikan ini terjadi setelah muncul pernyataan optimistis terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun ada sinyal positif, sejumlah analis pasar tetap mengimbau agar pelaku pasar tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan ketatnya pasokan minyak global diprediksi akan tetap berlangsung meski kesepakatan berhasil ditandatangani.

John Kilduff, Mitra di Again Capital, berpendapat bahwa pernyataan politik saat ini harus disikapi dengan penuh kehati-hatian. Namun, ia mengakui bahwa pasar cenderung bereaksi cepat dengan memasukkan ekspektasi perdamaian ke dalam struktur harga saat ini, sebagaimana dikutip dari inikata.co.id, poasing 21/5/2026

Dikutip dari kantor berita Reuters, rupiah sangat sensitif terhadap sentimen pasar global. Namun, faktor domestik juga turut berperan memengaruhi nilai rupiah selama setahun terakhir. Data Januari 2026 menunjukkan, Presiden Prabowo Subianto mencatatkan defisit anggaran tahun 2025 sebesar 2,92% dari PDB, yaitu sekitar Rp697,1 triliun. Angka ini masih berada di bawah batas maksimal defisit anggaran yang ditetapkan dalam Undang-Undang, yakni 3% terhadap PDB.

Memasuki 2026, tekanan fiskal masih berlanjut. Pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana pada kuartal I-2025 defisit APBN tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau 0,43% terhadap PDB.

Kondisi inilah yang membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit APBN agar tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB sepanjang 2026.

Menurut Peneliti LPEM FEB, Universitas Indonesia, Teuku Riefky, faktor dalam negeri (domestik), seperti  pemasukan dan pengeluaran duit negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi. Prospek kondisi fiskal Indonesia ini mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat kredit dunia Moody’s dan Fitch. Lembaga-lembaga ini melihat prospek negatif pada Indonesia karena ketidakpastian kebijakan, serta lantaran pendapatan rendah tapi belanja tinggi. Artinya ada risiko kondisi keuangan negara memburuk ke depan, sebagaimana dikutip dari bbc.com, posting 16/5/2026.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan beberapa faktor penyebab pelemahan rupiah, utamanya diakibatkan aksi jual saham oleh investor asing jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Kelihatannya dari aksi jual investor asing terutama di pasar saham maupun juga di pasar Surat Utang Negara untuk mengantisipasi perkembangan terkait dengan pertama pengumuman MSCI,” ungkapnya saat dihubungi kumparan, Selasa (12/5), sebagaimana dikutip dari kumparan.com, posting 12/5/2025.

Lebih lanjut ditambahkan, Selain itu, adanya faktor permintaan dolar AS di pasar domestik yang tinggi, dia menyebut kemungkinan karena permintaan kebutuhan impor yang meningkat ya terutama impor BBM atau minyak mentah.

“Lalu yang ketiga karena faktor musiman untuk kebutuhan valas domestik untuk transfer ke investor asing dari dividen emiten bursa efek yang kelihatannya ini punya pengaruh juga buat kelemahan rupiah saat ini,” jelas Myrdal, masih dari sumber yang sama..

Bhima Yudhistira : pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor/foto Tangkapan layar youtube: Forum Keadilan TV

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor. “Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima, sebagaimana dikutip dari kompas.com, posting, 19/5/2026.

Bhima mengingatkan, jika pelemahan berlangsung terus tanpa intervensi efektif, rupiah berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS. “Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima.

Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat. Barang-akan naik,apalagi produk-produk yang raw materialnya masih tergantung dengan impor, sehingga akan meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat makin melemah.

Boleh jadi kelompok kelas menengah pun makin mengikis. Fenomena ini menjadi ancaman ancaman nyata terhadap daya beli, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi masyarakat yang belum memiliki bantalan finansial yang kuat. [] Yuniman Taqwa