Swara Hijau Farm Bersinergi Bersama Pemulung Bangun Urban Farming

Di atas tanah garapan  seluas 5 hektar  di Kampung Sumur Kelurahan Klender Jakarta Timur, Endang Mintarja  melalui Swara Hijau Farm  berkolaborasi dengan warga setempat, secara otodidak membangun Urban Farming (Pertanian perkotaan-red). Apa dampaknya?  

Endang Mintarja, Pendiri Swara Hijau Farm/Foto: pelakubisnis.com

Tahun 2015 Endang Mintarja datang membawa misi membantu proses belajar anak-anak masyarakat pemulung di wilayah tanah garapan Kampung Sumur Klender Jakarta Timur melalui  bendera Yayasan  Swara Peduli Indonesia.  Namun tahun 2020 aktifitas belajar mengajar terhenti karena pandemic Covid19 yang merajalela dan mengharuskan pemerintah menerapkan  kebijakan lockdown.

Lalu,  pria 47 tahun ini  melihat potensi lain dalam hal pemberdayaan masyarakat yang bisa dikembangkan di wilayah padat penduduk ini.  Muncul ide membuat kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui bendera Komunitas Kelompok Tani (Poktan) Swara Hijau Farm.  Apalagi dalam situasi lockdown karena  pandemi  tak sedikit orang mencari kegiatan di rumah dengan menanam tanaman hidroponik. “Saya akses kebutuhan dan hak dasar mereka dulu yang diakomodir,”terang Sarjana Ilmu Sosial lulusan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Meski para pengurusnya  bukan warga setempat,  tapi mereka telah aktif beradaptasi dengan lingkungan dan berkegiatan di wilayah tersebut sejak tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini pun berkembang. Berbagai program sosial, lingkungan, dan ekonomi dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti pemulung.

Salah satu program yang dijalankan adalah budidaya melon hidroponik. “Ada dua varietas melon yang dibudidayakan, yaitu Honey Globe dan Golden. Tanaman melon dikelola secara mandiri oleh tim yang telah memiliki pembagian tugas yang jelas, mulai dari penyemaian bibit, perakitan sarana budidaya, hingga pemeliharaan tanaman. Bibit yang digunakan merupakan hasil penyemaian sendiri, demikian pula nutrisi dan pupuk yang digunakan diracik secara mandiri,” papar Endang yang saat wawancara berlangsung menyebut,  terdapat sekitar 200 tanaman melon yang sedang dibudidayakan dengan rata-rata berat buah mencapai 2  kilogram per buah.

“Bibit kita semai sendiri. Pupuk juga kita bikin sendiri,”tambah Endang yang mengaku semua teknik pertanian dan perikanan yang dijalankan diperoleh secara otodidak belajar sendiri dari internet.

Menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk meningkatkan kualitas budidaya ikan nila/Foto: pelakubisnis.com

Selain budidaya melon, Poktan juga mengembangkan usaha perikanan yang mencakup budidaya  ikan nila. Terdapat  8 kolam ikan yang dikelola secara aktif. Setiap kolam mampu menghasilkan panen sekitar dua kuintal ikan. Hasil budidaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat melalui sistem pembagian hasil yang melibatkan seluruh anggota Poktan.

Swara Hijau Farm bekerjasama dengan sekitar 35 orang pemulung yang menjadi anggota aktif. Para anggota dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja sesuai bidang masing-masing, seperti budidaya melon, budidaya ikan, pengelolaan sayuran seperti siomak, dan kegiatan lainnya. Mereka terlibat secara rutin setiap hari, baik  pagi maupun sore hari. Melalui sistem ini,  Endang berupaya menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi para pemulung sekaligus meningkatkan keterampilan mereka dalam bidang pertanian dan perikanan.

Selain kegiatan budidaya, Poktan juga mengelola bank sampah sebagai bagian dari program pengelolaan lingkungan. Program ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Coca-Cola Indonesia dan Coca-Cola Europacific Partners. Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk pengembangan budidaya maggot, ikan, ayam, hidroponik, serta pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Dalam pengembangannya, Poktan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Circular Initiative, sebuah lembaga konsultan dari Eropa yang bergerak di bidang pengelolaan rantai pasok.

Keberhasilan program yang dijalankan membuat Poktan Swara Hijau Farm dikenal berbagai pihak. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana program pemberdayaan, tetapi juga berperan sebagai pendamping dan konsultan dalam pengembangan budidaya melon hidroponik di berbagai daerah, dari Jakarta hingga wilayah Cilegon. Kegiatan pendampingan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga filantropi dan berbagai organisasi lain yang membutuhkan dukungan teknis maupun manajerial.

Lokasi yang dikelola saat ini diposisikan sebagai proyek percontohan (pilot project) yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain. Pengelola memiliki visi untuk mengembangkan model pemberdayaan berbasis lingkungan dan ekonomi sirkular ke berbagai daerah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.

Dalam aspek manajemen organisasi, Poktan memperoleh pendampingan dari Astra melalui PT United Tractors Tbk dan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB)  Yayasan Astra – YDBA cabang Cakung Jakarta Utara. Pendampingan tersebut mencakup penerapan prinsip 5R (ringkas, rapih, resik, rawat, rajin), penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan kapasitas usaha, pengelolaan keuangan, business canvas, serta peningkatan keterampilan kewirausahaan. Program ini membantu Poktan membangun tata kelola organisasi yang lebih profesional dan terstruktur. “Kami jadi memahami bagaimana membuat SOP. Pelatihan dari Yayasan Astra sangat  membantu, sekarang lebih rapih dan bisa terkontrol”kata Endang.

Dari sisi administrasi dan keuangan, pendampingan yang diberikan telah menghasilkan perubahan yang signifikan. Pencatatan keuangan yang sebelumnya belum tertata dengan baik kini menjadi lebih rapi dan terkontrol. Meskipun belum sepenuhnya terdigitalisasi, Poktan telah memiliki pembagian tugas yang jelas dalam pengelolaan administrasi dan keuangan sehingga operasional organisasi dapat berjalan lebih efektif.

Pada sektor perikanan, Poktan menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk meningkatkan kualitas budidaya ikan. Sistem ini memanfaatkan proses filtrasi bertingkat yang terdiri atas berbagai komponen mekanis dan biologis. Melalui penggunaan media biologis serta bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas, amonia yang dihasilkan dari aktivitas ikan dapat diolah menjadi senyawa yang lebih aman bagi lingkungan budidaya. Teknologi tersebut memungkinkan peningkatan kualitas air, kepadatan tebar ikan yang lebih tinggi, serta kualitas daging ikan yang lebih baik.

Secara keseluruhan, Poktan Swara Hijau Farm  dapat menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui integrasi antara pengelolaan lingkungan, pertanian, perikanan, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak serta keterlibatan aktif Poktan pemulung, program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Lisna Marida, Pengurus Poktan Swara Hijau Farm/Foto: pelakubisnis.com

Pada kesempatan terpisah, Pengurus Poktan Swara Hijau Farm, Lisna Marida menerangkan keterlibatan masyarakat dalam program budidaya melon dimulai pada masa pandemi Covid-19. Pada saat itu, banyak warga mengalami keterbatasan aktivitas dan pekerjaan sehingga mencari alternatif kegiatan yang produktif. Melalui pendampingan yang diberikan pengelola Poktan, warga mulai belajar membudidayakan melon secara hidroponik. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, mulai dari mengenali kualitas rasa buah hingga memahami teknik budidaya yang tepat.

Menurut Lisna Marida, budidaya melon memerlukan waktu sekitar 75 hari sejak pindah tanam hingga panen. Salah satu tahapan penting dalam proses budidaya adalah penyerbukan atau pengawinan bunga. Proses tersebut dilakukan secara manual dengan memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina agar terbentuk bakal buah. Pengalaman dan keterampilan dalam melakukan penyerbukan menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan produksi melon.

Dalam praktik budidaya, pemilihan posisi buah juga memengaruhi kualitas hasil panen. Buah yang tumbuh pada bagian bawah tanaman cenderung berkembang lebih cepat dan menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan buah yang tumbuh pada bagian atas tanaman. Oleh karena itu, pemeliharaan tanaman dilakukan secara cermat sejak awal pertumbuhan hingga masa panen.

Lisna menambahkan, meskipun secara umum budidaya melon memberikan hasil yang baik, kegagalan panen pernah terjadi akibat serangan hama. Salah satu penyebab meningkatnya risiko hama adalah tingginya jumlah kunjungan ke area greenhouse. Banyak pengunjung yang masuk langsung ke area tanam sehingga berpotensi membawa organisme pengganggu tanaman. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penerapan standar operasional dan pembatasan akses ke area budidaya guna menjaga kesehatan tanaman.

Lisna  menggambarkan kegiatan budidaya melon sebagai pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan perhatian tinggi. Menurutnya, merawat tanaman serupa dengan merawat seorang bayi karena membutuhkan pengawasan yang konsisten, kesabaran, serta kedekatan emosional. Tanaman tidak hanya membutuhkan nutrisi dan air, tetapi juga perhatian dari para pengelolanya agar dapat tumbuh secara optimal.

Pada saat wawancara berlangsung, terdapat sekitar 150 lubang tanam melon yang dikelola di lokasi tersebut. Sistem budidaya yang diterapkan menggunakan prinsip satu tanaman menghasilkan satu buah utama sehingga kualitas buah dapat terjaga. Melalui sistem tersebut, produktivitas tanaman dapat dikontrol lebih baik dan menghasilkan buah berukuran besar dengan kualitas yang seragam.

Lisna (kanan) bersama Wasriyah (kiri), salah satu pemulung yang didapuk menjadi penanggungjawab budidaya melon/Foto: pelakubisnis.com

Cerita lain disampaikan Wasriyah, salah satu anggota Poktan yang sebelumnya bekerja sebagai pemulung. Ia bergabung dengan Poktan Swara Hijau Farm sejak masa pandemi Covid-19 dan awalnya terlibat dalam berbagai kegiatan pertanian bersama anggota lainnya. Seiring berjalannya waktu, ia diberikan tanggung jawab khusus untuk mengelola budidaya melon setelah memperoleh pelatihan langsung dari pengelola Poktan.

Menurut Wasriyah, keterlibatannya dalam program ini memberikan banyak manfaat. Selain memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru di bidang pertanian, ia juga merasakan peningkatan kualitas hidup dibandingkan saat masih bekerja sebagai pemulung. Pekerjaan sebagai pemulung mengharuskannya bekerja dalam waktu yang panjang, mulai dari mencari, memilah, hingga menjual barang bekas. Sebaliknya, pekerjaan di bidang budidaya melon memiliki jam kerja yang lebih teratur sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk beristirahat dan menjalankan aktivitas rumah tangga.

Proses pembelajaran budidaya melon berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar satu minggu, Wasriyah telah mampu memahami teknik dasar budidaya, termasuk penyerbukan, pemangkasan tanaman, dan pengelolaan nutrisi. Pengalaman sebelumnya dalam budidaya semangka turut membantu proses adaptasi terhadap teknik budidaya melon yang memiliki prinsip serupa.

Selain budidaya melon, anggota Poktan juga terlibat dalam berbagai kegiatan lain seperti budidaya sayuran, pengelolaan maggot, dan kegiatan bank sampah. Pada tahap awal, berbagai jenis tanaman seperti tomat, bayam, dan kangkung pernah dibudidayakan. Namun, karena melon dinilai memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi, sebagian besar lahan kemudian dialokasikan untuk pengembangan komoditas tersebut.

Dari sisi ekonomi, program ini memberikan penghasilan yang relatif stabil bagi para anggota. Wasriyah menyampaikan bahwa pendapatan yang diperoleh dari kegiatan budidaya dapat mencapai sekitar Rp1 juta per bulan. Meskipun jumlah tersebut tidak selalu lebih besar dibandingkan hasil memulung, pekerjaan yang dilakukan dinilai lebih ringan, lebih teratur, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik.

Program pemberdayaan yang dijalankan juga berdampak pada anggota keluarga. Salah satu anak Wasriyah turut terlibat dalam kegiatan pengelolaan maggot di lokasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan oleh individu peserta, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi anggota keluarga lainnya.

Selain kegiatan pertanian, Poktan Swara Hijau Farm mengembangkan program bank sampah yang melibatkan masyarakat sekitar. Warga dapat menabung sampah yang telah dipilah, seperti plastik, kardus, dan barang bekas lainnya. Nilai ekonomi dari sampah tersebut dicatat sebagai tabungan yang dapat dicairkan pada waktu tertentu, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri atau ketika anggota membutuhkan dana untuk keperluan mendesak seperti biaya pendidikan dan kesehatan.

Menurut para anggota, sistem bank sampah memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Selain membantu mengurangi volume sampah lingkungan, program ini juga menjadi sarana menabung bagi warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, pengalaman Lisna Marida dan Wasriyah menunjukkan bahwa program yang dijalankan oleh Poktan Swara Hijau Farm tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang pembelajaran, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan kapasitas sosial bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya bekerja di sektor informal. Program ini menjadi contoh praktik pemberdayaan berbasis lingkungan yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara bersamaan.[] Siti Ruslina