Kawasan Blok M, Ikon Kawula Muda 1990-an, Negara Anak Zaman Now   

Ramainya kembali Kawasan Blok M mengingatkan kita pada kejayaannya di era 1990-an. Jika dulu sebagai tempat berkumpul anak muda Jakarta, kini kebangkitannya dipicu oleh menjamurnya kuliner viral, kemudahan akses transporatasi public, revitalisasi ruang-ruang komersial serta pengaruh media social yang menjadikan Blok M sebagai destinasi favorit lintas generasi.

Semarak event Glam Local di Pasaraya Blok M/Foto: pelakubisnis.com

Hari itu, di awal Juli 2026, suasana di Lantai UG Gedung A Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, penuh sesak kaum hawa yang membludak di event    GLAMLOCAL Mid-Year Sale 2026.  Bazaar bernuansa serba pink  ini boleh jadi  menuai sukses dan membangkitkan optimisme para pelaku usaha lokal untuk terus berkembang.

Membludaknya pengunjung yang datang ke event yang menghadirkan sekitar 150 brand lokal ini, boleh jadi karena banyak promo yang ditawarkan. Tapi bolehkah penulis menilai, ambiance Kawasan Blok M saat ini, sebagai destinasi gaya hidup, menjadi salah satu faktor tingginya antusias pengunjung yang datang ke event Glam Local yang berkolaborasi dengan Bale By BTN?

Yap! Atmosir Kawasan Blok M yang ramai dan menjadi tempat nongkrong kawula muda di era 1990-an kembali muncul ‘hari ini’. Pada era itu hingga awal tahun 2000, kawasan ini menjadi tempat hangout, tempat ‘ngeceng’ demikian anak muda di masa itu menyebut istilah ‘ingin tampil’ memamerkan gaya hidupnya yang ‘glamour’.

Sampai-sampai lagu Jalan Sore ciptaan Guruh Soekarno Putra yang dipopulerkan Denny Malik artis penyanyi  idola anak muda 80-90an,  yang menggambarkan kebiasaan anak muda Jakarta yang gemar Jalan-Jalan Sore (JJS), nongkrong, mencari hiburan  di pusat keramaian seperti kawasan Melawai Blok M kembali terdengar dan mulai akrab di telinga anak-anak muda zaman now. Bahkan Denny Malik memutar ulang nostalgia masa mudanya dengan menghidupkan kembali  aktifitas Lintas Melawai, yaitu aktifitas festival budaya dan music berskala besar.  

Lintas Melawai hanya salah satu faktor yang berhasil digerakkan kembali oleh Denny Malik dan Kawan-kawan.   Lantas, apa yang menjadi pemicu hingga Kawasan Blok M kembali ramai seperti tahun 1990-an?

Gedung A dan B Pasaraya Blok M, ikut bertransformasi menjadi pusat kuliner, ruang kreatif dan destinasi gaya hidup/Foto: pelakubisnis.com

Setelah sempat redup paskapandemi dan tergerus perubahan tren pusat belanja, akhirnya Blok M menggeliat lagi. Kawasan yang mencapai masa keemasan di era 1990-an ini kembali dipadati pengunjung. Tiba-tiba Blok M melakukan transformasi menjadi pusat kuliner, ruang kreatif dan destinasi gaya hidup yang kini banyak dibahas para netizen di dunia maya.

Kalau dulu kawasan ini dikenal sebagai pusat belanja, hiburan dan tempat berkumpulnya anak muda Jakarta. Kini kebangkitannya dipicu oleh menjamurnya kuliner yang viral melalui social media dan itu diperbincangkan seluruh anak Indonesia. Tak pelak, Blok M menjadi salah satu destinasi yang menarik pengunjung tak hanya warga Jakarta Selatan saja atau wilayah Jakarta lainnya, melainkan menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Revitalisasi ruang public dan akses transportasi juga membuat Blok M jadi pilihan destinasi pengunjung khususnya anak-anak muda.  Kawasan niaga ini terhubung sangat dekat dengan halte TransJakarta, Stasiun MRT dan kemudahan akses ojek dan taksi online.

Coffeebar Little Saltbread, salah satu destinasi favorit pengunjung Blok M/Foto: pelakubisnis.com

Selain itu, perubahan gaya hidup paska pandemi pun terjadi. Dimana masyarakat jadi semakin gemar berkumpul, nongkrong dan mencari tempat-tempat kuliner.Hal lainnya adalah berubahnya pusat perbelanjaan konvensional yang beralih ke kawasan yang menawarkan beragam pengalaman wisata kuliner dan ruang terbuka.

Kehadiran M-Bloc Space akhir  2019  yang menghadirkan banyak acara-acara seperti bazaar, pameran hingga konser musik yang rutin digelar boleh jadi juga pembuka jalan bagi bangkitnya Kawasan Blok M berubah menjadi kekinian.

Menyusul pembenahan yang terjadi di Blok M Plaza karena terkoneksi dengan Stasiun MRT. Lantas Blok M Mall yang telah lama menjadi ikon Blok M, sudah mati suri bahkan jauh sebelum datangnya pandemi, tiba-tiba menjadi lebih ramai dengan kehadiran tenant-tenant kuliner . Tak sedikit restoran dan kafe yang viral di area Blok M Mall dan membuat pengunjung rela antri berbaris demi bisa mencicip makanan dan minuman viral.

Sementara Blok M Square yang berdiri tahun 2000, menggantikan Gedung Aldiron Plaza ternyata kurang dapat mendongkrak jumlah pengunjung yang datang berbelanja. Setidaknya ada area masjid yang kerap mengundang banyak jamaah pengajian, lantas pada beberapa lantai disulap menjadi bursa buku bekas untuk menarik pengunjung pecinta buku. Dan beberapa tahun terakhir dengan bangkitnya Kawasan Blok M sebagai destinasi kuliner dan gaya hidup juga rupanya memberikan dampak positif bagi Blok M Square.

Demikian dengan Pasaraya Blok M. Sebenarnya dari posisi bangunan tidak ada yang berbeda dari pusat belanja ini dulu dan sekarang. Bangunan Pasaraya Blok M masih ‘gagah’ seperti dulu. Tetap mempertahankan 2 gedung besarnya. Hanya saja, kalau dulu Pasaraya sangat eksklusif menjual produk-produk fesyen kelas menengah atas dan ada anchort tenan ritel dunia asal Jepang, SEIBU, kini semuanya berubah. Kini terpajang logo Go-Jek.  

Kehadiran gedung operasional Go-Jek di kawasan Pasaraya Blok M juga semakin memperkuat posisi area tersebut sebagai salah satu pusat aktivitas bisnis dan gaya hidup di Jakarta Selatan. Berlokasi di kawasan yang ramai dikunjungi masyarakat, keberadaan Go-Jek melengkapi ekosistem komersial yang telah diisi oleh berbagai tenant kuliner, ritel, dan ruang publik.

Ramainya  aktivitas pejalan kaki dan pengunjung terlihat cukup padat, menunjukkan tingginya mobilitas di sekitar kawasan ini. Dengan semakin berkembangnya kawasan Blok M sebagai destinasi bisnis, kuliner, dan hiburan, membuat lokasi yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kuliner paling hidup di ibu kota, berkembang menjadi ikon wisata urban Jakarta yang memadukan sejarah, kuliner, budaya, dan gaya hidup modern dalam satu kawasan yang terus hidup dari pagi hingga malam hari.[Siti Ruslina]